Saya perhatikan tokoh2 tua (terus terang saya ndak tahu mereka siapa) duduk di bangku paling belakang dan keluarganya Bung Sjahrir dan keluarga tokoh2 PSI yang lain, seperti Pak Ibong Sjahruzah (putra dari Djohan Sjahruzah) duduk di barisan depan. Datang pula Bung Hariman Siregar dan Tokoh Muhammadiyah Bapak Syafi'i Ma'arif
Acara dimulai dengan kata sambutan dari Pak Taufik Abdullah kemudian dilanjutkan dengan resital piano oleh bu Ary diteruskan permainan duet antara Bu Ary dengan "Kenny G" (ngga' nyangka juga ada acara beginian) ... benar2 Sosialisme Romantis ... istilah temen saya (he..he..). Ngga' rugi dech bagi rekan-rekan yang bawa pasangannya (saya juga termasuk yang rugi he..he..) dan acara berikutnya adalah pembacaan puisi oleh Jose Rizal Manua yang diawali dengan pesan-pesan humanis dari Bung Sjahrir.
Lalu sampailah ke acara utama yaitu ML oleh Pak Rosihan Anwar. Secara umum Pak Rosihan menceritakan perjalanan kehidupan Bung Sjahrir dari masa sebelum kemerdekaan sampai pertemuan terakhir beliau dengan Bung Sjahrir tepat di hari dimana Bung Sjahrir sorenya dijemput oleh Pak Soedjatmoko untuk pengobatan beliau ke Swiss. Pak Rosihan tidak bercerita secara teksbook atau membaca makalah yang telah beliau tulis untuk acara ini. Beliau bercerita dengan lebih 'apa adanya' yang mungkin buku2 sejarah tidak akan tulis. Nah cerita beliau yang humanis inilah yang menyebabkan ceramahnya beliau tidak membosankan, meskipun satu dua orang terlelap pulas karena dinginnya ac (he..he..)
Beliau bercerita bagaimana Bung Sjahrir mem'back-up' Bung Karno dan Bung Hatta secara diplomatis thd belanda (Belanda tiba di Tanjung Priok 30 Desember 1945) yang mana keduanya kemudian hijrah ke Jogja (4 Januari 1946), sementara Bung Sjahrir tetap di Jakarta. Pak Rosihan sendiri sering bolak-balik Jakarta Jogja menemani Bung Sjahrir untuk berkoordinasi dengan Bung Karno dan Bung Hatta menghadapi agresi Belanda.
Ada kejadian menarik ketika terjadi Perjanjian Linggarjati (11-13 November 1946, perjanjian ini ditanda-tangani 25 Maret 1947), dimana rupanya Pak Rosihan menjadi "ajudan"nya Lord Killearn, mediator Indonesia dan Belanda, yang mana Lord Killearn terlupa membawa perlengkapan mandi, sehingga disuruhlah Pak Rosihan untuk mencarinya.
Perjanjian Linggarjati rupanya banyak ditentang oleh kelompok-kelompok politik di Indonesia, termasuk dari oknum-oknum komunis yang berada Partai Sosialis sendiri seperti Setiadjit, Abdul Madjid dan Tan Lin Djie. Karena banyak pertentangan politik dari internal maupun eksternal partai dan demi fatsun politiknya (Pak Rosihan menjelaskan kaitan budaya minang dengan fatsun Politiknya Sjahrir, tapi saya tidak terlalu memahaminya), maka tanggal 27 Juni 1947 Bung Sjahrir menyerahkan mandatnya kemudian digantikan oleh Amir Sjarifudin.
Catatan penting lainnya, Pak Rosihan juga menjelaskan kekalahan PSI di 1955 (bahkan beliau ditanya berkali-kali oleh majalah tempo kenapa PSI kalah pada pemilu 1955), dari paparan beliau ada beberapa point :
Pertama, PSI adalah Partai Kader bukan Partai Massa, waktu itu jumlah kadernya sekitar 50ribuan dan tidak memiliki jaringan yang kuat ke basis massa.
Kedua, PSI tidak punya uang (Seorang seorang dosen Sosiologi UI pernah menceritakan ke saya kalau ada elit PSI yang tidak sanggup membeli rumah, sehingga sampai harus terus menerus tinggal di rumah mertuanya)
Ketiga, disinilah miskalkulasi Bung Sjahrir menurut Pak Rosihan, Bung Sjahrir rupanya tidak menyadari bahwa masyarakat Indonesia masih kuat ikatannya dengan bentuk2 primordialisme.
Sekitar tahun 1957-1958, munculah pemberontakan PRRI (sebagian sejarawan menyebutnya gerakan koreksi, akibat kuatnya pengaruh PKI di pemerintahan), salah seorang elit di PSI yaitu Soemitro Djojohadikusumo ikut bergabung menjadi Mentri Perhubungan dan Pelayaran di kabinet PRRI yang dipimpin oleh Sjarifuddin Prawira Negara (tokoh Masyumi). Menurut Pak Rosihan Bung Sjahrir pun telah mengingatkan Pak Soemitro berkali-kali agar jangan bergabung dengan PRRI dan tetap menjaga keutuhan RI (Pak Rosihan bercerita bahwa Bung Sjahrir tidak menyukai 2 totalitarianisme, yaitu t.kanan-militer dan kiri-PKI Komunis)
Akibat bergabungnya Pak Sumitro di kabinet PRRI, kecurigaan terhadap Bung Sjahrir dan PSI semakin menjadi-jadi dan mencapai puncaknya pada Bulan Agustus tahun 1961, ketika Sjahrir, Hatta, Muhammad Roem, Subadio Sastroastomo, Sultan Hamid dan lainnya berkumpul di acara "Palebon" ayah dari Anak Agung Gde Agung yakni Bapak Ide Anak Agung Ngurah Agung bekas Raja Gianyar Bali. Oleh Subandrio selaku kepala Intel pada saat itu, pertemuan para tokoh di Bali dilaporkan ke Sukarno sebagai konspirasi untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno.
Tahun 1962 Sjahrir ditangkap tanpa pernah diadili hingga tahun 1965 (beliau dipenjara di Madiun, kemudian dipindahkan ke Jakarta. Pak Rosihan suka mengunjungi beliau di Madiun) kemudian diizinkan berobat oleh pemerintah pada waktu itu dan kemudian meninggal di Swiss 9 April 1966 akibat penyakit yang dideritanya. Bagi Pak Rosihan kehidupan Sjahrir begitu tragis, memperjuangkan RI pada masa pra kemerdekaan hingga dibuang ke Digul dan Banda Neira, menjadi Perdana Menteri Pertama dan Termuda (36 tahun) RI, dan kemudian kehidupannya berakhir di penjara.
Namun demikian sosok Sjahrir dan elit PSI (seperti Lintong Sitorus, Sudjatmoko, Soemitro, Sarbini Sumawinata dan lainnya) bagi Pak Rosihan adalah bahwa mereka bukanlah politikus, namun mereka adalah pendidik sebagaimana awal gerakan dan cita-cita yang Bung Sjahrir buat bersama Bung Hatta yaitu Pendidikan Nasional Indonesia ketika mereka pulang dari Belanda tahun 1931.
Demikianlah yang bisa saya ceritakan, mudah2an ada teman2 yang lain baik yang hadir maupun yang tidak mengkoreksi atau menambahkan penjelasan saya di atas.
Selamat Jalan Bung Sjahrir
Dan saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Rosihan atas semua penjelasannya, cukup banyak memberikan manfaat dan inspirasi kepada saya
"Socialism is a teaching and a movement seeking justice in human life" (Sjahrir)
pk
note : saya menambahkan beberapa hal terhadap penjelasan Pak Rosihan di atas (terutama waktu dan tempat kejadian) agar bisa ditarik benang merah antar bagian cerita dan mohon maaf bila ada kesalahan.

foto koleksi Sutan Sjahrir