Kisah Kisah Di Kebun Pisang

riki dhamparan putra

kura – kura ,
pohon pisangmu Pak Tani
tak kan sekali berbuah
walau lampau
tunasnya kini tumbuh subur di punggung kebun
seekor kura – kura

sabar dalam kerja
daun pun mengembang
pucuk lembut mengulur jantung
telanjang
jantung yang tenang
bunga air di tengah ladang

di dalam batang menyimpan batang
selapis demi selapis lepas
hingga tiada

tinggal tandan dan buah matang
tanda hidup meninggalkan tanda
menunai lunas segala utang

utang waktumu Pak Tani
bergerak lambat menempuh hari
menempuh janji diri

tapi pohon pisang tak kan sekali berbuah
walau lampau
kenanganku padanya kini merangkak
bagai seekor kura – kura
monyet
monyet bodoh itu mengeluh
sebab katanya pisangnya tidak tumbuh

maka datanglah ia ke kebun
kura – kura

tak ada penghuni
di mana – mana ada buah
si monyet yang tak lapar itu pun
tinggal memetik tanpa bersusah payah

maka tersebar kabar angin
ada seorang menjadi monyet karena makan
dari peluh orang lain
peluh kura – kura
peluh Pak Tani

Mei 2009

Lanjuuuut...

Cerita Cerita Dari Padang Gembala

riki dhamparan putra
belimbing,
bocah gembala itu
susah payah ia memanjat pohon belimbing
dari batang menggapai dahan
menjangkau buah di ujung ranting

di mana rembulan padang
di mana kampung seberang
di tikar pandan mengukur diri
mengikat ruh dengan janji

lihatlah keningnya sampai hitam
ceruk matanya tersuruk
bagai pusaran tersembunyi di bawah
lubuk dalam
namun ia sendiri merasa semakin dangkal
sepanjang hari berzikir
bayang tidak menemu badan

tak seorang menyapa
ketika ia turun dengan tangan hampa
tak seorang menuntun
ketika ia kembali naik
ke pohon yang sama

ada terdengar dedaun gugur
temanten anyar
terkulai lemas di tempat tidur
kerbau,
ke sungai jernih
tanpa isi kepala
si buyung memandikan kerbau yang tak mau mandi
karena tak tahan berdingin
kerbau itu mati

tergugu - gugu si buyung pulang
airmata tak terkubur
air sungai yang jernih ia sesali
sepanjang umur

hingga matanya buta
katak,
seseorang sedang membuhul
masa lampau
untuk menjadi katak katanya
untuk mengikat kata

maka jadilah orang itu
manusia pertama di bulan
burung pungguk,
seekor burung pungguk
telah tenggelam di laut tak berair
tapi tak binasa
hatinya yang gelap bahkan
terus menyigi lazuardi

seorang nelayan menemukannya
tapi nelayan itu tak pernah lagi kembali
ke rumah
jalan lurus,
pada titian serambut dibelah tujuh
kamu lah sehelainya
menatih tapi juga ditatih
mengejar dengan tangan dan kaki terikat
di tiang hakikat

jangan memaksa diri
kamu tak akan menemu siapa siapa
di seberang
sebab kamu lah yang ditemukan
pada saat itu
lupakan pintu rumah
demi Sang Tuan

sebutlah Ia Paduka
kata terindah yang pernah dicapai leluhur
serulah Ia dengan suara ayunan cangkul
di tanah keras tanah lumpur tanah kapur tanah subur
di akar dari segala jejak yang lurus
menuju aras

Ia ada di sana
saat engkau baru saja ingin naik ke bukit bukit
atau pun saat
tersesat di lembah lembah curam
tanpa tangga
bahkan bila engkau tak sanggup lagi berdiri
Ia akan memberimu sepasang kaki
lebih kuat dari darah dan tulang belulang
mengangkatmu serupa parasut
tiada pautan

tak ada misal yang sempurna
buat menerangkan hati kepadaNya
sebab Ia bukan misal
dari apapun di alam raya

Mei 2009

Lanjuuuut...

Jawa, Dari Mataram ke Mentaram

ilmubahagia

Kebudayaan berubah ketika seorang pangeran meninggalkan istana, melepas gelar dan mengembara di antara rakyat jelata sebagai orang jelata. Kalau misal kisah Sidharta Gautama maupun cerita Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga terlalu jauh jarak waktunya untuk diingat, kita memiliki seorang teladan yang lebih dekat dengan waktu kita hari ini. Ia adalah Ki Ageng Suryo Mentaram, putra ke 55 dari Sultan Hamengku Buwono VII. Lahir 22 Mei 1892, mulai berfilsafat 1921 lewat Perkumpulan Selasa Kliwonan di Yogya. Menanggalkan kepangeranannya pada tahun 1921, kemudian menetap di Kroyo Bringin (9 km utara Salatiga) sebagai petani (1925) sambil menjadi Penceramah Keliling.

Meninggalkan istana bagi beliau almarhum berarti menjalani hidup sebagai orang merdeka di antara rakyat yang ketika itu belum merdeka, kemudian menghabiskan masa hidupnya untuk berbakti kepada kemerdekaan, kehormatan, dan kebahagiaan bangsa dan negara Indonesia.

Kita katakan kebudayaan berubah dengan lelaku beliau, karena saat beliau meninggalkan istana dan melepas gelar lalu melakukan kawruh kepribadian di dalam kejelataan, sebenarnya orientasi kebudayaan Jawa juga sedang bergeser total – dari kraton sebagai pusat ke rakyat jelata sebagai pewahyu kebudayaan. Namun cerita ini jarang sampai kepada kita. Brosur – brosur wisata dan konservasi budaya Jawa yang ditulis belakangan, masih mengira bahwa kraton adalah pusat budaya yang paling menentukan dalam keseluruhan lelaku budaya bangsa Jawa.

Ki Ageng menasehati Soekarno. Photo oleh Ilmu Bahagia


Hal paling mendasar yang membedakan pemikiran filosofis dan ajaran lelaku Ki Ageng Suryo Mentaram dengan filosofi kebudayaan Jawa sebelumnya adalah mengenai pentingnya kedudukan pribadi dalam seluruh aspek kebudayaan. Bila Jawa sebelum beliau hanya menempatkan pribadi sebagai bagian dari rantai kosmologi Tuhan – raja – kawula dengan raja sebagai sentral, maka lewat Pengawikan Pribadi Ki Ageng Surya Mentaram telah merubah posisi Raja – Kawula itu ke tempat yang setara di hadapan “pribadi”.

Pribadi menjadi sentral di sini, menggantikan raja sekaligus kawula. Maka pengenalan yang baik atas pribadi menjadi penentu bagi kesinambungan kehidupan secara lebih luas. “Siapakah aku? aku adalah Suryo Mentaram. Yang kecewa, yang risau, tetap saja aku si Suryo Mentaram...bukan yang lain. Tinggal diawasi, tinggal dijajagi” kata beliau suatu kali kepada istrinya.
br/>Pribadi itu adalah Ki Ageng Surya Mentaram, yang musti diawasi, dijajagi dan diterima. Diawasi dan dijajagi berarti melakukan disiplin atas jiwa, diterima berarti berikhlas dan berhayat terhadap apa yang bisa dicapai. Dalam kata – kata beliau ‘apa yang terjadi, di sini, begini, apapun bentuknya tidak menolak’. Tak perlu lagi rasa takut terhadap kegagalan dan apapun dalam pribadi yang serupa ini. Tak perlu manipulasi. Orang harus menerima dirinya dengan penuh kejujuran dan apa adanya. Itulah yang dimaksud dengan sahaja.

Jadi, sahaja atau sahaya bukanlah suatu definisi kelas atau drajad sosial. Sahaya tidak berarti harus menghamba kepada group atau kepada kekuasaan kelompok atau kekuasaan genetik seperti kepada raja dengan meniadakan pribadinya. Pribadi yang menemukan pengawikan pribadinya mendapat kedamaian dan tahu apa yang harus dibuat. Ia terukur sekaligus merdeka.

Terukur karena selalu diawasi, dijajagi dengan 6 SA. Yaitu: sakepenake, sakbutuhe, sakperlune, sakcukupe, sakmestine, sabenere. Merdeka, karena dengan ukuran tersebut pribadi terbebas dari keterikatan kepada nafsu benda, nafsu kemewahan dan nafsu kederajatan atau nafsu kuasa.

Inilah rumusan terpenting yang beliau sumbangkan dari kejelataan Jawa kepada kebudayaan Jawa dan Indonesia. Dengan demikian beliau telah mengeluarkan pribadi yang berabad – abad terkungkung di dalam komuni atau in group. Juga melepaskan ketergantungan pribadi dari rantai filosofis Tuhan – raja – kawula yang telah melahirkan kelas. Darimana pemikiran beliau berasal? Dari kebudayaan Jawa juga. Tepatnya dari spirit kejelataan dalam budaya Jawa, namun belum terumuskan sebelumnya. Bagaimana beliau tahu? Kuncinya adalah pada lelaku. Atas dasar inilah maka kita sebut beliau itu melakukan perubahan atas weltanschaung ( pandangan dunia) Jawa sebelumnya.

Penekanan kepada pengetahuan pribadi yang seperti itu terus dikembangkan dalam pemikiran beliau selanjutnya. Termasuk dalam hubungan dengan Tuhan. Soal ini beliau mengatakan “ bukan soal siapa yang disembah, tetapi siapa yang menyembah...” Maka pertengkaran teologis menjadi tidak relevan di sini. Pengetahuan pribadi yang tepat secara otomatis membawa orang kepada subyek yang tepat untuk disembah dan juga cara yang tepat untuk menyembah.

Demikianlah sedikit catatan yang saya sadari tak cukup berarti dalam rangka memahami kedalaman dan keluasan ajaran Ki Ageng Suryo Mentaram. Maksud saya dengan tulisan ini hanya untuk membantu kita melihat kembali dengan jujur kedudukan pribadi kita di tengah zaman yang katanya “bebas merdeka”. Benarkah?

Catatan:
1. Istilah kejelataan di sini berasal dari pemikiran almarhum Suryanto Sastroatmojo dalam sebuah catatan yang belum dipublikasikan. Saya hanya mencoba mendefinisikannya.
2. esai ini pertama sekali dipublikasikan di Halaman Apresiasi Bali Post Minggu tahun 2007


Lanjuuuut...

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates
Layout has developed by Riki Dhamparan