Kepada Baliho Di Hari – Hari Kampanye  

Posted by riki dhamparan putra in


Sampah yang terhormat,
Kalian dalam bahaya! Sebab tiang bambu itu rawan
Mudah rubuh walau terkena guncangan ringan

Kami tak mau ditimpanya
Sebab di situ tempat lalu kami jalan kami taman kota kami
Di situ anak – anak sekolah lewat setiap pagi setiap sore
Juga buruh – buruh pabrik
pelayan toko
kuli angkut
guru honor
seniman yang soleh

Mungkin tuan tidak malu
Tapi janganlah begitu tega
Di antara kita tak pernah ada hubungan
Tuan bukan teman bukan saudara
Bahkan
kami tidak tau mengapa tuan minta dipilih
tiba – tiba

Tuan tampak jenaka di papan itu
Kalian! Wajah kalian tampak lugu merayu
Dan kami yang tertawa
ikut – ikutan tampak lugu

Padahal sekarang bukan waktu berhibur

Penyair masih berkabung
Tukang palak tukang preman merajalela
Hingga ke dusun hingga ke kampung di kaki kaki gunung

Tuan dalam bahaya. Kalian!
Kami dalam bahaya
Tapi di trotoar jalan di taman kota di balik pepohonan
Kami tak bisa menghindar dari wajah tuan yang jenaka

Maret 2009

Selengkapnya...

Oleh-oleh Memorial Lecture 30 Maret 2009  

Posted by riki dhamparan putra in



by Pelabuhan Kecil

Sutan SJahrir (kemeja putih), menderita bersama rakyat dan demi rakyat.

Foto dari arsip Carlos Patriawan

Dear Teman2, saya coba menuliskan gambaran acara Memorial Lecture "Relevansi Sjahrir Bagi Indonesia Mendatang" secara singkat dan subyektif (he..he..). Bagi teman2 lain hadir boleh menambahkan.

Sebenarnya agak kaget juga melihat acara ML yang menurut saya semiformal, untungnya saya pakai sepatu, jadi ada sedikit penyesuaianlah (he..he..). Maklumlah terakhir ke TIM lihat Taufik Ismail dkk baca puisi saya cuma pakai sendal jepit. Acara diawali dengan Galadinner (lumayan makan gratis), nah disela-sela makan malam saya coba mendekati Pak Rosihan, setelah cium tangan (ini biasa saya lakukan dengan orang yg lebih tua), saya ditanyain macem-macem, nama, pekerjaan dll. Sebetulnya saat itu saya pengen nanya macem2 ke Pak Rosihan, cuma sayangnya acara harus segera dimulai.

Setelah masuk ke teater kecil, kesan pertama saya 'wah teater ini bagus juga ya', rupanya menurut tamanismailmarzuki.com, teater kecil adalah salah satu teater yang baru di TIM. Saya ambil tempat duduk di balcony atas di sebelah kiri, yah sedikit nyobain jadi kelas bangsawan lagi nonton 'Phantom of the Opera' (he..he.. dasar orang ndepoks ...)

Saya perhatikan tokoh2 tua (terus terang saya ndak tahu mereka siapa) duduk di bangku paling belakang dan keluarganya Bung Sjahrir dan keluarga tokoh2 PSI yang lain, seperti Pak Ibong Sjahruzah (putra dari Djohan Sjahruzah) duduk di barisan depan. Datang pula Bung Hariman Siregar dan Tokoh Muhammadiyah Bapak Syafi'i Ma'arif

Acara dimulai dengan kata sambutan dari Pak Taufik Abdullah kemudian dilanjutkan dengan resital piano oleh bu Ary diteruskan permainan duet antara Bu Ary dengan "Kenny G" (ngga' nyangka juga ada acara beginian) ... benar2 Sosialisme Romantis ... istilah temen saya (he..he..). Ngga' rugi dech bagi rekan-rekan yang bawa pasangannya (saya juga termasuk yang rugi he..he..) dan acara berikutnya adalah pembacaan puisi oleh Jose Rizal Manua yang diawali dengan pesan-pesan humanis dari Bung Sjahrir.

Lalu sampailah ke acara utama yaitu ML oleh Pak Rosihan Anwar. Secara umum Pak Rosihan menceritakan perjalanan kehidupan Bung Sjahrir dari masa sebelum kemerdekaan sampai pertemuan terakhir beliau dengan Bung Sjahrir tepat di hari dimana Bung Sjahrir sorenya dijemput oleh Pak Soedjatmoko untuk pengobatan beliau ke Swiss. Pak Rosihan tidak bercerita secara teksbook atau membaca makalah yang telah beliau tulis untuk acara ini. Beliau bercerita dengan lebih 'apa adanya' yang mungkin buku2 sejarah tidak akan tulis. Nah cerita beliau yang humanis inilah yang menyebabkan ceramahnya beliau tidak membosankan, meskipun satu dua orang terlelap pulas karena dinginnya ac (he..he..)

Beliau bercerita bagaimana Bung Sjahrir mem'back-up' Bung Karno dan Bung Hatta secara diplomatis thd belanda (Belanda tiba di Tanjung Priok 30 Desember 1945) yang mana keduanya kemudian hijrah ke Jogja (4 Januari 1946), sementara Bung Sjahrir tetap di Jakarta. Pak Rosihan sendiri sering bolak-balik Jakarta Jogja menemani Bung Sjahrir untuk berkoordinasi dengan Bung Karno dan Bung Hatta menghadapi agresi Belanda.

Ada kejadian menarik ketika terjadi Perjanjian Linggarjati (11-13 November 1946, perjanjian ini ditanda-tangani 25 Maret 1947), dimana rupanya Pak Rosihan menjadi "ajudan"nya Lord Killearn, mediator Indonesia dan Belanda, yang mana Lord Killearn terlupa membawa perlengkapan mandi, sehingga disuruhlah Pak Rosihan untuk mencarinya.

Perjanjian Linggarjati rupanya banyak ditentang oleh kelompok-kelompok politik di Indonesia, termasuk dari oknum-oknum komunis yang berada Partai Sosialis sendiri seperti Setiadjit, Abdul Madjid dan Tan Lin Djie. Karena banyak pertentangan politik dari internal maupun eksternal partai dan demi fatsun politiknya (Pak Rosihan menjelaskan kaitan budaya minang dengan fatsun Politiknya Sjahrir, tapi saya tidak terlalu memahaminya), maka tanggal 27 Juni 1947 Bung Sjahrir menyerahkan mandatnya kemudian digantikan oleh Amir Sjarifudin.

Catatan penting lainnya, Pak Rosihan juga menjelaskan kekalahan PSI di 1955 (bahkan beliau ditanya berkali-kali oleh majalah tempo kenapa PSI kalah pada pemilu 1955), dari paparan beliau ada beberapa point :

Pertama, PSI adalah Partai Kader bukan Partai Massa, waktu itu jumlah kadernya sekitar 50ribuan dan tidak memiliki jaringan yang kuat ke basis massa.

Kedua, PSI tidak punya uang (Seorang seorang dosen Sosiologi UI pernah menceritakan ke saya kalau ada elit PSI yang tidak sanggup membeli rumah, sehingga sampai harus terus menerus tinggal di rumah mertuanya)

Ketiga, disinilah miskalkulasi Bung Sjahrir menurut Pak Rosihan, Bung Sjahrir rupanya tidak menyadari bahwa masyarakat Indonesia masih kuat ikatannya dengan bentuk2 primordialisme.

Sekitar tahun 1957-1958, munculah pemberontakan PRRI (sebagian sejarawan menyebutnya gerakan koreksi, akibat kuatnya pengaruh PKI di pemerintahan), salah seorang elit di PSI yaitu Soemitro Djojohadikusumo ikut bergabung menjadi Mentri Perhubungan dan Pelayaran di kabinet PRRI yang dipimpin oleh Sjarifuddin Prawira Negara (tokoh Masyumi). Menurut Pak Rosihan Bung Sjahrir pun telah mengingatkan Pak Soemitro berkali-kali agar jangan bergabung dengan PRRI dan tetap menjaga keutuhan RI (Pak Rosihan bercerita bahwa Bung Sjahrir tidak menyukai 2 totalitarianisme, yaitu t.kanan-militer dan kiri-PKI Komunis)

Akibat bergabungnya Pak Sumitro di kabinet PRRI, kecurigaan terhadap Bung Sjahrir dan PSI semakin menjadi-jadi dan mencapai puncaknya pada Bulan Agustus tahun 1961, ketika Sjahrir, Hatta, Muhammad Roem, Subadio Sastroastomo, Sultan Hamid dan lainnya berkumpul di acara "Palebon" ayah dari Anak Agung Gde Agung yakni Bapak Ide Anak Agung Ngurah Agung bekas Raja Gianyar Bali. Oleh Subandrio selaku kepala Intel pada saat itu, pertemuan para tokoh di Bali dilaporkan ke Sukarno sebagai konspirasi untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno.

Tahun 1962 Sjahrir ditangkap tanpa pernah diadili hingga tahun 1965 (beliau dipenjara di Madiun, kemudian dipindahkan ke Jakarta. Pak Rosihan suka mengunjungi beliau di Madiun) kemudian diizinkan berobat oleh pemerintah pada waktu itu dan kemudian meninggal di Swiss 9 April 1966 akibat penyakit yang dideritanya. Bagi Pak Rosihan kehidupan Sjahrir begitu tragis, memperjuangkan RI pada masa pra kemerdekaan hingga dibuang ke Digul dan Banda Neira, menjadi Perdana Menteri Pertama dan Termuda (36 tahun) RI, dan kemudian kehidupannya berakhir di penjara.

Namun demikian sosok Sjahrir dan elit PSI (seperti Lintong Sitorus, Sudjatmoko, Soemitro, Sarbini Sumawinata dan lainnya) bagi Pak Rosihan adalah bahwa mereka bukanlah politikus, namun mereka adalah pendidik sebagaimana awal gerakan dan cita-cita yang Bung Sjahrir buat bersama Bung Hatta yaitu Pendidikan Nasional Indonesia ketika mereka pulang dari Belanda tahun 1931.

Demikianlah yang bisa saya ceritakan, mudah2an ada teman2 yang lain baik yang hadir maupun yang tidak mengkoreksi atau menambahkan penjelasan saya di atas.

Selamat Jalan Bung Sjahrir

Dan saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Rosihan atas semua penjelasannya, cukup banyak memberikan manfaat dan inspirasi kepada saya

"Socialism is a teaching and a movement seeking justice in human life" (Sjahrir)

pk

note : saya menambahkan beberapa hal terhadap penjelasan Pak Rosihan di atas (terutama waktu dan tempat kejadian) agar bisa ditarik benang merah antar bagian cerita dan mohon maaf bila ada kesalahan.

foto koleksi Sutan Sjahrir

Selengkapnya...

Seorang Penyair Di Jagad Blogger  

Posted by riki dhamparan putra in


Bagian 2 (selesai)


Melalui sharing atau partisipasi dan itu berarti setiap orang di belahan dunia manapun dapat mempunyai kesempatan untuk memperbaiki dunia sama besarnya dengan kesempatan yang dimiliki oleh mereka yang berada di pusat pengembangan informasi tekhnologi itu. Dan tanpa dusta karena ada ukuran standar yang siap menegur bentuk partisipasi yang kita berikan sewaktu – waktu. Ada qada dan kadar yang berjaga tanpa tidur di dalam kode – kode.


Bagiku inilah sebuah pagi yang sedang dan masih akan terus berlangsung di dalam kehidupan manusia. Bukan soal lagi sekarang, apakah pemerintahan di negara tempat aku hidup ini mengikuti pola pasar bebas ataupun tidak. Soalnya adalah sejauhmana pemerintahan memberi dukungan seluas – luasnya kepada masyarakat untuk dapat mengakrabi tekhnologi informasi sebagai keseharian mereka. Bukannya malah memperlakukan masyarakatnya sebagai sapi perahan dari produk – produk tekhnologi informasi sebagaimana berlaku hari ini.

Kalau kepadaku sekarang ditanyakan apakah tuntutanku selaku seorang penjelajah pemula di dunia maya yang prinsipnya dibangun di atas relasi kode itu? Pertama sekali tentu aku akan menuntut sama seperti tuntutan para hacker yang membobol situs presiden SBY pada tahun 2007 lalu. Turunkan harga bandwith, mudahkan akses internet pada masyarakat luas (miskin), malulah pada India dan Cina yang memberikan akses internet super murah bahkan gratis pada masyarakatnya.

Selanjutnya yang lebih penting, aku akan menuntut pemerintah melakukan kontrol yang ketat terhadap bisnis tekhnologi informasi di dalam negeri yang sudah keterlaluan memeras konsumen rakyat itu, menyediakan dana yang tangguh untuk penyediaan perangkat keras seperti komputer dan memfasilitasi secara tepat sumber daya dalam negeri di bidang ini melalui program – program yang nyata.

Tuntutan seperti itu bukannya tanpa dasar. Tidak adanya kontrol bahkan perhatian yang serius dari negara terhadap bisnis industri TI ini telah membuat para pelaku bisnis seenaknya menaruh harga yang pada gilirannya menciptakan ketidakseimbangan antara pendapatan masyarakat yang masih rendah dengan pengeluarannya untuk membeli produk – produk TI tersebut. Kelihatannya masyarakat makin gaya, tapi sebenarnya makin miskin.

Pemerintah bukannya mengajari masyarakat bagaimana memanfaatkan perkembangan tekhnologi secara tepat guna, melainkan malah membiarkan konglomerasi pengeruk untung meninabobokan masyarakat dengan produk – produk dan cara penjualan yang bersifat kapitalis. Akibatnya, kita dapat melihat sekarang ini, seekor monyet yang tidak punya pendapatanpun dipaksa untuk ikut membeli pulsa sebagaimana tergambar dalam sebuah iklan televisi.

Aku menyesalkan keadaan seperti ini lantaran bertolak belakang dengan perkembangan yang terus didorong di dunia tekhnologi informasi itu. Sementara di seluruh dunia open – source sedang digilai sebagai solusi era masyarakat terbuka, di negeri kita justru hal ini masih menjadi tanda tanya. Seolah itu belum diresmikan dalam kamus bahasa, kamus ekonomi dan kamus sosial kita.

Memang pada 30 Juni 2004, lima kementerian sempat mendeklarasikan sebuah program yang disebut IGOS atau Indonesia Go Open Source. Tiga belas perguruan tinggi telah dinyatakan sebagai POSS (Pemberdayaan Open Source Software) yang akan menjadi pos bagi pengembangan program IGOS ini dalam rangka meningkat daya saing masyarakat di bidang tekhnologi informasi. Namun program semacam ini pada kenyataannya tenggelam dalam kebijakan ekonomi industri yang sangat memihak kepada konglomerasi pasar. Sharing mengenai penggunaan perangkat lunak terbuka itu kepada masyarakat luas malah tidak datang dari pos – pos ini. Melainkan dari para sarjana, mahasiswa, para praktisi bebas undergorund yang bekerja tanpa dukungan lembaga – lembaga resmi itu.

Kepada mereka inilah pada saat sekarang kemampuan bangsa kita menghadapi era global bergantung. Sementara pemerintah masih saja terus menjadikan istilah globalisasi, era informasi dan serupanya itu hanya sebagai jargon.

Penyairku,

Sekarang di mataku semuanya jadi tampak berhubungan melalui pembacaanku atas kode dan perkembangan di dunia tekhnologi informasi ini. Seperti sebuah puisi yang utuh. Bahwa ternyata kehidupan merupakan sebuah struktur universal yang fleksibel yang dibangun di atas komunikasi yang positif satu sama lain. Dengan semangat berbagi, kebebasan sekaligus kontrol. Tanpa semua itu, kehidupan akan berubah menjadi liar.
Aku bahkan merasa di dunia yang semacam ini puisi kembali menemui arti dan kehidupannya yang baru setelah sekian lama zaman meninggalkannya. Setelah perubahan perubahan yang dibuatkan di atas kehidupan kita menjauhkan kita dari puisi itu. Setelah kesunyian pergi dan bahasa digantikan oleh rasa nihil yang sedemikian hebat pada dunia. Dan setelah semua ini dikatakan kalau penyair merasakan kematiannya di atas kematian bahasa. Namun lihatlah kini. Di ruang seluas 600 x 400 pixel bernama screen komputer, puisi itu kembali menjelma. Ia membawa penyair kembali kepada harapan dan kesunyian, kepada mata yang menembus batas – batas ruang, kepada impian...

Hal itulah yang membuatku berani mengatakan bahwa aku baik-baik saja, penyairku. Dan sebenarnya, inilah yang ingin kusampaikan. Aku merasa jauh lebih baik dari keadaan tahun empat puluhan ketika penyair Chairil Anwar terkurung di biliknya yang sempit. Ketika di kamar 4 x 4 m terlalu sempit buat meniup nyawa...
Saat itu kau bayangkan, sepertinya bahasa tak akan berumur panjang lebih dari usia 27 tahun. Sepertinya pula setiap orang harus menghela nafas di bawah gempuran agresi militer, pidato Soekarno-Hatta, dalam pekik merdeka rakyat dan kerasnya hati para pemuda. Saat itu, setiap cinta mungkin harus dikunci dalam semangat relovusi yang satu, dalam rasa was-was kepada peluru, dalam penjagaan kepada Bung Sahrir, Bung Hatta, Bung Karno. Sehingga kubayangkan setiap penyair hanya akan menulis serupa sajak Karawang Bekasi itu, serupa Tebaran Mega Takdir dan seluruh polemik baru saja dimulai untuk memilih menjadi Timur atau menjadi Barat.

Tapi lihatlah sekarang, penyair. Aku melihat diriku, melihat dirimu, melihat orang – orang yang membaca puisi tumbuh seperti hamparan cendawan segar di kebun maya tekhnologi informasi itu. Di halaman blog, friendster, facebook, plurk...
Aku dan engkau kini tak perlu takut lagi ditakuti – takuti oleh ancaman globalisasi. Tak perlu takut lagi kehilangan timur atau barat atau utara atau selatan. Semua kita saat ini sedang bicara melalui dinding yang bisa mendengarkan dan pintu yang melihat tembus. Semua kita hari ini adalah Dewi Kunti yang hamil karena mendengar bisikan tetangga kita kepada dirinya sendiri di balik dindingnya sendiri.

Tak perlu ada yang berubah dari cara kita makan, cara duduk maupun segalanya dari adat budaya kita. Sebab dunia akan menerimanya. Tidakkah sekarang ini kita masih bersama Java Script, PDF...? Semua itu adalah kekayaan budaya kita yang sedang membahasakan dirinya kepada dunia. Kalaupun JavaScript itu tidak menggunakan Hono Tjoroko Do to so wo lo...bukan berarti ia sudah meninggalkan kita. Yang terjadi adalah semangat open-source dalam ilmu pengetahuan sedang membaginya kepada dunia luas. Percayalah, ia akan tetap dikenang sebagai Java.

Camkanlah itu penyairku dan tetaplah di depan screen komputermu. Di situlah kita menemu dunia yang berkeadilan. Jangan ke starbuck atau ke sebuah klub fans telkomsel, tak kan ada sharing di sana, tak akan ada kesempatan bagimu untuk memperbaiki dunia. Tetap di sini, di dalam sunyi kode ini, di dalam apa yang oleh wordpress.org disebut sebagai puisi.

Memang tak ada bau keringat yang timbul saat kita melakukannya selama berhari – hari sebagaimana jika seseorang berolahraga ataupun melakukan pekerjaan – pekerjaan fisik. Namun letih yang timbul dari pekerjaan serupa itu sama kadarnya dengan letih yang dirasakan seorang kuli pelabuhan saat memikul barang – barang berat di punggungnya. Jadi letih yang semacam ini pun pasti meninggalkan tanda di dalam dirinya sendiri sama seperti orang yang berolahraga ditandai oleh keringat yang mengucur dari badannya. Cuma saja mungkin wujudnya mungkin tidak bisa kita lihat hanya bisa dirasakan. Seperti udara. Ya, udara.

Udara ini juga tidak meninggalkan aroma. Namun aku tau, siapapun tau, bahwa setiap letih membawa rasa asin di dalam dirinya. Ia membawa kesan dan kesenangan tersendiri atas pengalaman beraktivitas. Atas semua kerja keras. Kita bisa merasakannya,walaupun tak bisa melihatnya. Tidakkah itu seperti puisi? Selamat pagi padamu.

Selengkapnya...