PREH, SEBUAH ARTI

riki dhamparan putra

“Kalau kita pergi, siapa yang akan menjaga Mak?”

Begitulah sebuah petikan dialog yang mengesankan antara dua bersaudara dalam sebuah lakon yang dipentaskan teater Lajose dari sekolah Santo Yoseph Denpasar pada Pekan Seni Remaja (PSR) di wantilan Art Centre Denpasar pertengahan Maret lalu.

Naskah karya Asmanadia, seorang penulis perempuan Aceh, berjudul “Preh” tersebut adalah naskah pemenang Playright Women 2005. Suatu penghargaan untuk lomba menulis naskah drama yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta pada waktu itu.

Preh bercerita tentang konflik dalam sebuah keluarga pasca tsunami di Aceh. Kalau dilihat dari isi, rasa – rasanya tidak ada gagasan yang mencolok yang hendak ditawarkan dalam naskah tersebut. Cerita ini adalah sebuah potret yang polos dai seorang pengarang yang masih polos (mungkin di sinilah daya tariknya ) tentang konflik batin dalam diri perempuan di sebuah kampung pasca sebuah bencana besar melanda daerah mereka.

Tentu saja ini adalah sebuah naskah yang sangat realis dan dapat digolongkan ke dalam karya pop. Peristiwa besar tsunami yang menjadi latar belakang cerita sepertinya tidak memberi suatu transformasi estetik yang dapat membuat cerita ini sebanding (secara ide, penggarapan ) dengan peristiwa besar tsunami. Kecuali, cerita ini menjadi terasa menyentuh ( dan perlu dipikirkan ) pada saat dipentaskan oleh sejumlah anak sekolah yang sama sekali tidak mengetahui apa – apa tentang kultur yang melatari cerita tersebut.

Esei inipun bermula dari pertanyaan yang demikian. Mengapa tsunami hanya melahirkan sebuah karya yang menemukan perempuan sebagai makhluk sehari – hari belaka? Mengapa tsunami tidak melahirkan Cut Nya Dien? Apakah memang sebegitu saja persoalan kita sebagai manusia nusantara yang sial ini?

...Ada seorang Mak yang mengalami trauma melihat orang mengungsi semenjak anak lelakinya hilang ditelan tsunami. Ia tinggal bersama dua orang putrinya (Bibah dan Limah ) yang masih lajang. Keduanya berbeda pendapat soal Mak dan soal kampung mereka. Bibah ingin pergi karena merasa tempat tinggal mereka sudah tak aman akibat gempa susulan yang terus terjadi. Sementara Limah memilih menjaga Mak yang tidak bersedia mengungsi karena trauma yang dialaminya...

Bukannya mencari penyelesaian atas perbedaan pendapat dengan Limah, Bibah malah berprasangka buruk kepada Mak dan Limah. Ia bersitegang dengan Limah yang menghalang – halangi niatnya untuk pergi menyusul kekasihnya yang tinggal di daerah yang lebih aman. Bibah berhiba hati dan menuruti perasaannya itu. Kepanikan telah membuatnya mengeluarkan perkataan – perkataan yang menyudutkan Mak dan Limah. Ia bilang Mak tidak adil kepadanya selama ini dan mak juga jauh lebih adil kepada Limah.

Seorang penonton modern yang biasanya cenderung menuntut banyak kejutan pada sebuah cerita pasti akan kecewa kalau mengikuti persitegangan atau konflik demi konflik dalam cerita ini. Kecewa setidaknya untuk beberapa alasan. Pertama, situasi batin yang muncul ( sebagaimana tergambar dalam tokoh Bibah ) tampaknya berangkat dari sebuah prasangka lama yang umum tentang diri perempuan sebagai makhluk traumatik. Semisal, suka menuruti perasaan, berprasangka dan sejenisnya.

Tanpa bermaksud ikut – ikutan menggeneralisasi pendapat tentang perempuan Sumatra, gambaran tokoh Bibah memang hendak mengenalkan sebagian watak kaum perempuan Sumatra yang hidup dengan kultur kampung. Inilah alasan kedua. Kehadiran Bibah seolah menafikan sejarah emansipasi dan kejayaan kaum perempuan yang sudah lama bermula di Sumatra. Tetapi ia ada atau setidaknya lewat naskah Preh kita seolah dihadapkan pada kenyataan bahwa ia ada sebagai bagian yang terlewat dalam sejarah kesetaraan gender kita. Untuk mengertikannya, kita benar – benar perlu mengenali alam jiwa perempuan Sumatra di dalam sebuah kampung.

Dari kampung ke Indonesia, inilah penggambaran yang bisa kita dapatkan saat “preh” hadir sebagai sebuah naskah lokal yang dibaca secara nasional. Lalu, bagaimana ketika ia hadir di Denpasar?

Sejujurnya saya telah menikmati cerita Preh ini dengan horisan harapan yang mungkin berlebihan. Saya mungkin kecewa karena menjadi tahu bahwa persoalan kaum perempuan kita tidak maju – maju. Tsunami yang besar hanya memberi kita konflik sehari - hari antara dua bersaudara. Sebab saya menganggap konflik semacam yang terjadi pada Limah dan Bibah dapat terjadi tanpa sebuah tsunami.

Tetapi dibalik itu semua, kata “Preh” bagi saya adalah suatu arti. Lebih dari arti harafiahnya. Preh yang berarti menunggu segera mengingatkan saya akan situasi psikologis kita dalam masa terakhir yang penuh musibah ini. Bukankah hidup kita pada saat ini sebagian besarnya diliputi perasaan menunggu itu?

Ada ibu yang mungkin masih menunggu kabar anaknya yang hilang bersama pesawat Adam Air. Ada istri, anak, bapak, kakek,...yang masih menunggu – nunggu jenazah kerabatnya ditemukan di laut tempat hilangnya kapal Senopati. Ada seorang seperti saya yang menunggu nasib berbaik hati...ada yang seperti rakyat yang menunggu hati pemimpin terbuka dan bertobat....

Kata preh pada masa yang sulit ini telah mempertemukan imajinasi kita satu sama lain dari latar belakang yang berbeda. Itulah sebabnya mungkin mengapa siswa – siswa sebuah sekolah Katolik yang tidak paham apa – apa tentang Aceh begitu saja terhayat memerankan naskah berjudul Preh ini.

Saya bukanlah seorang ahli drama yang begitu paham akan baik buruk sebuah pementasan. Saya cukup tahu diri untuk tidak membuat penilaian – penilaian. Tetapi ketika menyaksikan keseluruhan lakon tersebut, dapat saya rasakan atmosfir yang tulus dari para pemainnya untuk berperan sebagaimana tokoh – tokoh dalam cerita ini. Apakah itu suatu bukti bahwa Preh adalah kata yang cukup sakti saat ini? Mungkin saya menunggu Anda ikut merenungkannya.Preh... Denpasar, maret 2007

Lanjuuuut...

KEAJAIBAN KOTA DENPASAR

Adakalanya Denpasar merupa sebagai sebuah kota yang begitu hot. Bukan karena paradoks megapolitan maupun kehidupan malamnya yang makin seksi. Tetapi karena keajaiban-keajaiban kecil yang dapat saja muncul dalam kebingungan dan kecemasan kita terhadap dinamika kota ini.

Pasar malam kumbasari misalnya, adalah sebuah keajaiban yang bertahan di tengah gemuruh nafsu kita kepada konsumerisme dan rukonisasi. Meskipun hanya mengambil enam jam dalam tiap dua puluh empat jam kehidupan kita, pasar rakyat yang didominasi kaum hawa ini mampu menjaga etos agraris sebagai warisan silam kota Denpasar. Keunikannya telah menginspirasi banyak penulis serta orang-orang yang sempat melancong ke pasar ini untuk menuliskan sejumlah catatan.

Dalam hubungannya dengan kehidupan kesenian, hingga penghujung tahun 1994, pasar kumbasari malah menjadi kawasan VIP bagi sebuah komunitas kesenian di kota Denpasar. Nama komunitas itu Sanggar Minum Kopi. Didirikan oleh sejumlah penggiat seni budaya dan menurut desas-desus, di sepanjang prosesnya komunitas ini telah melahirkan sejumlah penulis hebat serta pemikir Bali di bidang seni budaya.

Sudah menjadi keharusan bagi kru Sanggar Minum Kopi untuk membawa “tamu-tamu negaranya” ke pasar malam kumbasari, mentraktir soto atau nasi jinggo serta mempropmosikan segala sesuatu yang yang paling menarik dari pasar ini.

Sekarang sanggar ini sudah tak ada. Tetapi Kumbasari masih ada. Selepas kematian sanggar itu, saya sempat berpikir kalau kehidupan kreatif kota Denpasar di bidang seni sastra akan mati untuk selama-lamanya. Selama setahun persangkaan itu benar. Namun kemudian kota Denpasar kembali menunjukkan keajaibannya.

Para santri mantan Sanggar Minum Kopi yang terlunta-lunta kemudian ditampung oleh seorang penyair wanita Bali dari puri Kesiman di sebuah rumah di jalan Bedahulu, sudut kota Denpasar. Para santri itu membangun Intens-Beh (Inspirasi Tendangan Sudut Jalan Bedahulu) dan melanjutkan cita-cita kesenian mereka. Alhasil, berkat kedermawanan hati penyair wanita Bali dari puri Kesiman itu, Intens –Beh melahirkan sejumlah sastrawan hebat Indonesia. Antara lain Raudal Tanjung Banua, Wayan Sunarta, Sindhu Putra, Made Adnyana Ole, Putu Vivi Lestari hingga pemikir budaya Bali seperti Sugi B Lanus.

Intens-Beh vakum lantaran para kru-nya harus melanjutkan kehidupannya sendiri ke lain kota. Camp-camp budaya lain yang muncul semasa Intens-Beh ini seperti Gragatsu Kompas juga turut vakum. Selepas itu muncul Warung Budaya, tetapi ini tidak lama. Saya pikir malah, bubarnya Warung Budaya melengkapi kematian kreatif kota Denpasar di bidang seni budaya (khususnya sastra).

Tetapi kembali pikiran macam itu harus diralat. Beberapa tahun setelah kematian kreatif macam itu, saya tersasar ke sebuah jalan yang terletak di Kilometer Nol kota Denpasar. Yakni jalan Veteran 41. Di sini, persisnya di rumah pelukis Made Budhiana, tanpa sepengetahuan saya sebelumnya sejumlah orang dari berbagai disiplin seni (lukis, sastra, dan lain-lain) ternyata selalu aktif berkumpul untuk mengasah mental kesenian serta mutu kehidupan kreatifnya. Yang mengejutkan, saya juga bertemu sejumlah mantan santri SMK di sini.

Waktu memberi saya kesempatan untuk melihat banyak hal menarik di Kilometer Nol kota Denpasar ini. Keyakinan Made Budhiana (demikian kami menyebut pelukis Made Budhiana) terhadap proses kesenian yang ia jalankan, merupakan satu ruh yang belum tentu dimiliki oleh para seniman lain. Keberaniannya untuk keluar dari arus umum seni rupa yang sarat koneksi dan permainan, telah menginspirasi banyak kawan untuk melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.

Jalan Veteran 41 merupakan salah satu keajaiban yang diberikan kota Denpasar kepada kita di tengah sesak dan binalnya dinamika kota ini. Meskipun rumah itu hanya di sebuah rumah yang sederhana dan tidak luas, semua yang mangkal di sini selalu merasa lapang pikiran setiap berkunjung. Lebih penting lagi, memberi kita keyakinan kuat bahwa kesenian tidak pernah mengabaikan pencintanya kalau orang itu yakin bahwa kesenian akan memberi sesuatu kepadanya.

Begitulah, waktupun berjalan di sini. Kalau markas Veteran 41 kemudian pindah ke wilayah Ubung, lantaran pelukis Made Budhiana membangun studio di situ, bukan berarti spirit kreatif yang dipelihara di markas jalan Veteran ikut berubah pula. Hanya beberapa langkah dari pom bensin dekat swalayan Tiara Grosis, kampung seni Budhiana merupakan tanda dari abadinya dewi kesenian dalam kehidupan kota Denpasar yang sering mengabaikannya.

Riki Dhamparan Putra

Lanjuuuut...

Tuhan Datang


cerpen Riki Dhamparan Putra

Semua ini hanya terjadi di sebuah kota bernama Suf. Terletak beberapa tingkat di atas dunia yang kita huni sekarang. Namun kalau ditanya persisnya di mana Kota Suf itu , saya juga tak tau. Cerita tentang kota ini saya dengar dari Haji Kamungkin. Ia katanya mendapat berkah untuk berkunjung ke kota tersebut selepas menunaikan haji di Makah.

Kota itu katanya adalah sebuah kota transit. Ke sinilah segala keluhan hati dan segala munajat disampaikan terlebih dulu sebelum disampaikan kepada Tuhan. Banyak hal yang ia lihat di sana. Ia bertemu kuburan Nabi Adam, kereta Nabi Sulaiman, gada Nabi Daud, bahkan sempat memegang tongkat Nabi Musa. Ckckck... ceritanya membuat kami yang mendengar terlongo-longo. Namun kejadian yang paling menarik ia temui di kota Suf itu katanya adalah saat ia menghadiri sebuah persidangan.

Begitulah katanya, di suatu senja yang indah, Tuhan datang untuk bersaksi tentang sebuah kejadian tak penting yang baru saja terjadi di dunia. Orang-orang di ambang pintu yang sempat melihat tak tahan untuk tak bertanya: Engkau! Selama ini kemana saja?

Gedung itu adalah sebuah gedung mahkamah dengan palemahan yang sangat luas. Di bagian bawah di antara fondasi gedung yang empat persegi, ada sebuah laguna yang permukaannya tertutup oleh teratai. Ikan-ikan berenang di dalamnya. Di tengah laguna itu memancar Air Keselamatan, dikelilingi oleh lampu-lampu bundar telur. Konon, dulu jumlahnya genap. Namun salah satu dari lampu-lampu itu tak pernah lagi menyala, karena seorang pemuda bernama Aladin telah mencuri apinya. Maka orang-orang di kota Suf menamai lampu itu cahaya yang ganjil dan tidak pernah menceritakan asal usulnya.

Ke atas, dari dasar kolam itu ada tujuh pasang tangga yang bagian ujungnya mengerucut dan berakhir pada sebidang lantai hampa. Ada juga yag mengatakan bahwa jumlah tangga itu sebenarnya sembilan, yang tiga lagi hanya bisa dilihat dengan sepatah kata rahasia, sepotong salam dan orang-orang di kota Suf saja yang mengetahuinya.

Di bagian pusar lantai itu ada lagi sebuah lubang kecil terlindung tirai yang terbuat dari belahan rambut dibelah tujuh, yang bergerak halus dan direnda empat persegi menyerupai sebuah kubus yang sederhana. Konon pula, setiap bidang kubus sebenarnya dijaga oleh seorang penjaga yang sangat suci dan tinggi kedudukannya di mata Tuhan.

Penjaga selatan bernama Baginda Ali, zikirnya adalah ilmu, sangat dalam ilmu pengetahuannya, memiliki kemampuan mengundang badai dan sangat saleh. Penjaga utara adalah Baginda Umar, zikirnya adalah senjata Tuhan, sangat bijaksana, memiliki pengetahuan politik yang luar biasa, tegas dan berani mengambil keputusan atas suatu perkara, sehingga Tuhanpun pernah menurunkan ayat kepada Nabi Muhammad berkaitan dengan Baginda Umar.

Penjaga timur adalah Baginda Usman, zikirnya adalah airmata, memahami seluk beluk hati, penuh cinta dan lebih suka menangis kepada Tuhan ketimbang harus mengambil keputusan untuk memerangi musuh-musuhnya. Penjaga barat adalah Penghulu Abu Bakar, salehnya tak ketulungan, bijaksana dan lembut hati, memiliki piala piala yang kelak di padang masyar akan diberikan pada orang-orang dermawan untuk membalasi ketulusan hati mereka selama hidup di dunia.

Hanya saja orang-orang di kota Suf merahasiakan bagaimana cara menyapa atau menemui keempat penjaga itu. Kecuali pada mereka yang hancur luluh karena rindu. Keseluruhan bangunan gedung itu dikokohkan oleh sebuah tiang bernama Tiang Lurus. Dan lekuk-lekuk atap, serta ornamen lembeknya dipapah oleh sebentuk tiang bernama Tiang Bungkuk. Jadi gedung itu dipapah oleh dua jenis tiang yang saling menyangga, yang lurus dan yang bungkuk. Konon pula, bayangan dari tiang ini pernah jatuh di bumi, lalu tumbuh menjadi sebatang pohon bernama Batang Bodi.

Dari pohon inilah ninik orang Minangkabau, Sri Maharaja Diraja membuat tiang istananya. Bahkan menjadikan seluruh kebijakan alamnya dari dua tiang ini, yang lurus dan yang bungkuk, yang saling menyangga. Orang-orang di kota Suf juga tidak menceritakan dari apa tiang itu dibuat.

Dan sekarang Tuhan telah masuk ke dalam gedung itu. Naik dari teduh air, melewati tujuh pasang tangga sekaligus dan masuk dari lubang kecil yang terlindung tirai. Tuhan berjalan pelan melewati permadani yang direntang lurus ke arah sang hakim ketua yang didampingi empat hakim dari majelis hukum kota Suf.

Tempat ini sendiri, kalau dilihat dari luar akan tampak seperti menara yang sangat senyap, di mana air tidak beriak, angin tidak berhembus dan segala tulisan adalah air tinta yang melahirkan segala huruf. Dan hari ini di sini, Tuhan datang sebagai saksi.

Hakim mulai membacakan perkaranya dengan tetap berdiri, sehingga seluruh bulunya dari ujung kaki hingga ke ubun dapat dilihat. Bagian bawah tubuhnya tak kan bisa berdusta karena tak ada yang menghalangi pandangan melihatnya. Selanjutnya dia meminta pada seorang hakim penanya untuk menanyai saksi. Hakim penanya itu ketika di dunia adalah seorang pokrol bambu yang sangat jujur dan satria di zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Ia mati ditembak oleh orang kampungnya sendiri saat membela seorang janda yang diperkosa pejabat demang di masa itu. Kejujurannya itu telah membuat martabatnya bahkan sampai ke kota Suf ini begitu terpuji.

Tuhan mempekerjakannya di pengadilan kota Suf sebagai hakim bergelar Penanya Yang Terpecaya3 (selanjutnya disebut hakim penanya saja dan penyebutannya ditulis huruf kecil).

“Yang Maha Mengetahui, pada hari ini Anda adalah seorang seorang saksi penting dalam perkara Sutan Fulan karena tiada seorangpun manusia yang bersedia menjadi saksi dalam perkara ini. Bersediakah Anda memberi kesaksian dengan sebenarnya ?” tanya hakim penanya membuka sidang itu.

“Mengatakan yang benar dan menelan pahitnya adalah sifatKu,”

“Baiklah. Apakah Anda mengenal Sutan Fulan?”

“Ya, tentu saja,” jawab Tuhan yang kini duduk di kursi saksi (selanjutnya disebut saksi saja).

“Anda tahu di mana kampungnya dan di mana dia mencari penghidupan?”

“Dia berasal dari sebuah teratak di selatan negeri Bayang. Semenjak mudanya telah ikut perkumpulan Tarekat Syatariah. Namun otaknya agak lambat. Pengajian-pengajian yang diberikan gurunya hanya ia mengerti sekitar satu persen saja. Karena itu gurunya menyuruhnya menyuruhnya merantau dulu. Dan sudah tiga belas tahun ia berjualan nasi di Kotilogin,”

“Nasi apa?”

“Tentu saja nasi Padang. Selengkapnya di kaca rombongnya tertulis Nasi Padang Lemang Pesisir,”

“Baiklah. Selama berjualan itu apa dia termasuk orang jujur?”

“Menurut catatan Raqib dan Atib2, tak ada sekalipun dia melakukan kecurangan. Dia berjualan sebagaimana mestinya. Di antara kedai nasi Padang yang jumlahnya ribuan itu, hanya Sutan Fulan ini saja yang masih berpegang teguh pada prinsip jual beli sosialisme ala kedai nasi Padang,”

“Berapa lama dia telah berjualan dan apakah aman-aman saja?”

“Ada tiga belas tahun. Dan soal keamanan, itu tergantung pada kerutinannya membayar uang keamanan,”

“Kepada siapa ia membayar uang keamanan?”

“Dulu kepada sebuah organisasi yang dikelola oleh tentara. Tapi setelah reformasi, segala pungutan di Kotilogin diambil alih oleh lembaga adat setempat. Jadi belakangan dia membayar kepada lembaga adat,”

“Baiklah. Apakah Anda tau bahwa dia telah kehilangan jari kelingkingnya?”

“Saya tahu dan melihat persis peristiwanya. Karena tak ada yang luput dari pengamatan saya,” sesaat saksi terdiam. Lalu melanjutkan kesaksiannya...

“Malam itu, orang-orang di Kotilogin dibangunkan oleh sebuah mimpi yang sangat buruk. Api menyala di mana-mana. Kotilogin bergetar, hingar bingar musik berganti jadi jeritan maut. Padahal sedetik sebelum itu mereka baru saja bersenang-senang” tutur saksi kemudian. Ia menghentikan pembicaraannya dan batuk-batuk kecil.

“Sutan Fulan baru saja menyelesaikan doa malamnya ketika itu. Di sebuah mushala yang tak jauh dari tempat terjadinya ledakan. Namun getaran yang hebat akibat bom telah membuat salah satu palang kayu di mushala itu lepas dan jatuh menimpa jari kelingkingnya. Ia mengaduh”

“Apa yang kemudian dia lakukan?”

“Ia berlari ke puskesmas yang tak jauh dari situ. Namun petugas puskesmas mengabaikannya, karena sibuk mengurus korban ledakan”

“Sebagaimana Anda ketahui, sekarang ini Sutan Fulan menuntut petugas rumah sakit, karena pelayan medis rumah sakit tidak melayaninya pada saat ia meminta pengobatan ke sana. Apa Anda juga tau kejadiannya?” hakim bertanya setelah tadi menarik nafas panjang.

“Karena petugas Puskesmas tidak melayaninya, Sutan Fulan kembali ke rumah kontrakannya. Namun jari kelingkingnya makin bertambah sakit. Esoknya dia pergi ke rumah sakit pemerintah di kota propinsi. Namun tak seorang pun petugas rumah sakit melayaninya,”

“Apakah sebabnya?” tanya hakim penanya.

“Seorang perawat mengatakan bahwa seluruh petugas di rumah sakit terlalu sibuk mengurusi korban. Padahal Sutan Fulan melihat sendiri pada saat itu ada dua pejabat tinggi pemerintah datang bersama dengan dia. Dokter rumah sakit melayaninya tergopoh-gopoh. Sutan Fulan tersinggung hatinya, dia merasa terluka”

“Pejabat propinsi itu, apa penyakitnya? Apa terkena ledakan pula?”

“Tidak. Mereka ingin dokter memeriksa luka di kemaluan mereka”

“Luka karena apa?”

“Siphilis,”

Mendengar itu majelis sidang meledak tawanya. Tapi hakim ketua segera meminta mereka diam.

“Teruskan” kata hakim.

“Sutan Fulan terluka perasaannya. Jari kelingkingnya bertambah sakit dan mulai membusuk seminggu kemudian. Dia lalu terpaksa memotongnya sendiri,” Sang hakim mendengarkan kesaksian itu dengan sangat seksama. Lalu ia melanjutkan pertanyaan.

“Apakah Anda juga mengetahui bagaimana keadaan Tuan Fulan saat nyawanya dijemput?”

“Tentu saja saya melihatnya. Meskipun dalam keadaan teraniaya dia ikhlas menerima kematiannya. Namun hukum di sini harus pula ditegakkan. Pengaduannya mesti diteliti untuk diberi keadilanKu,”

“Kesaksian telah cukup,” sang hakim lalu menoleh pada Empat Hakim Pendamping di sebelahnya, menanyakan apakah masih ada pertanyaan. Tapi mereka mengatakan sudah cukup.

Saksi lalu meninggalkan ruang pengadilan itu yang sidangnya disiarkan secara langsung di seluruh kota Suf. Orang-orang yang sedang menonton televisi menyaksikan siaran langsung itu, lalu bertanya; Engkau, selama ini kemana saja? Gedung itu adalah sebuah gedung mahkamah dengan palemahan yang sangat luas. Fondasinya lembut seperti daging batang pisang dan televisi televisi berukuran raksasa di pajang di setiap sudutnya. Orang-orang menonton, karena hari ini juga dewan hakim akan memutuskan perkara tuntutan Sutan Fulan yang menuntut petugas rumah sakit sebuah propinsi di dunia karena telah menyebabkan dia kehilangan jari kelingkingnya.

Namun hanya ada acara hiburan di televisi. Tak ada berita tentang vonis hakim atas rumah sakit propinsi itu. Kecuali sebuah berita senja tentang ditemukannya mayat seorang pedagang nasi Padang di pantai Kotilogin bernama Sutan Fulan. Menurut polisi, itu adalah salah satu dari korban ledakan di Kotilogin yang belum ditemukan oleh tim evakuasi sebelumnya. Sejak itulah Tuhan malas menonton berita senja di televisi. Begitu tutur Haji Kamungkin.

Dapat dibayangkan, kami yang mendengar pitutur Haji Kamungkin hanya terlongo – longo saja. Hampir tak ada di antara kami yang memiliki gambaran utuh tentang kota Suf seperti yang diceritakan beliau. Bagaimana pula ketika Tuhan muncul di televisi? Apakah Dia berupa? Apakah orang – orang yang melihatNya hangus atau pingsan seperti ketika Nabi Musa melihat Tuhannya di bukit Tursina? Bagaimana Tuhan tersenyum? Bagaimana saat Ia berjalan?

Haji Kamungkin tidak menjawab ketika pertanyaan – pertanyaan tadi terlontar dari mulutku dan juga dari beberapa teman yang sama mendengarkan pituturnya. Ia menjanjikan akan menjawab suatu hari semua pertanyaan kami. Kebetulan, seusai bercerita, waktu ashar tiba. Haji Kamungkin menyuruh kami pergi ke surau untuk menunaikan shalat. Ia sendiri, kami tak tau entah pergi kemana. Bayangannya hilang di turunan jalan ke air. Selama ini kami memang tak pernah melihat Haji Kamungkin shalat berjamaah bersama orang – orang di surau kampung.

Orang – orang tua bilang, Haji Kamungkin kalau sembahyang jamaah hanya di surau Lereng saja. Dinamai begitu, bukan karena letaknya yang di lereng bukit. Tetapi sejarah surau itu dibangun oleh orang – orang dari Lereng. Sebuah kampung di hulu sungai yang sekarang telah menjadi perladangan penduduk. Dulu orang – orang Lereng adalah penganut sebuah aliran tarekat. Untuk mudahnya, nama tarekat mereka oleh orang kampung disebut Tarekat Lereng. Setiap bulan Safar mereka akan melakukan semacam rituil di surau tua di Lereng itu yang konon, di halamannya ada makam seorang syekh besar guru mereka. Konon pula, bagi orang –orang Lereng, melakukan rituil pada bulan Safar, sama nilainya dengan naik haji.

Aku sendiri tak tau benar mengenai tarekat itu. Hanya mendengar dari mulut ke mulut. Di madrasah aliyah tempat aku belajar, tak pernah ada pelajaran yang membahas perihal mereka. Pun tak ada ustad yang benar – benar tau tentang Tarekat Lereng. Kecuali kabar – kabar mengenai keganjilan peribadahan mereka. Kebanyakan ustad di kampungku malah menfatwa sesat untuk mereka yang mengikut – ikut cara peribadahan orang Lereng. Ganjil juga, mereka menfatwa sesat untuk sesuatu yang sama sekali tak mereka ketahui.

Aku dan teman – teman sepengajianku sebenarnya masih menunggu Haji Kamungkin untuk mendengar kelanjutan ceritanya tentang kota Suf. Sudah tiga bulan semenjak ia bercerita tentang pengadilan kota Suf itu kami tak lagi melihatnya. Angan mudaku menyangka jangan – jangan ia sedang ke Mekah untuk berjalan – jalan. Jangan – jangan Haji Kamungkin memiliki kemampuan mengirab sebagaimana dongeng – dongeng tentang guru – guru dari Lereng...

Kami tak pernah melihatnya lagi. Bahkan hingga seorang dari teman sepengajianku menikah dan aku menamatkan sekolah di Madrasah Aliyah Negeri beberapa bulan kemudian, Haji Kamungkin tak kunjung ada kabar beritanya. Aku sampai berpikir ia telah sungguh – sungguh raib seperti sebuah ilusi. Hingga suatu dinihari aku dikejutkan oleh suara heboh orang – orang di jalanan kampung.

Bergegas aku membuka pintu dan berlari ke arah beranda rumah untuk melihat apa yang terjadi. Sebuah truk tentara berhenti di jalanan di depan rumahku. Sejumlah orang bersenjata lengkap turun dari truk itu lantas bergerak mengepung sebuah persawahan di seberang timur. Sepertinya mereka sedang mengepung seseorang. Dor...dor...teeretet...ya Allah...

Aku mendengar jeritan, suara tembakan yang berbalas dan suara orang tumbang dihajar peluru. Suasananya begitu mencekam. Orang – orang kampung hanya berani berdiri di luar pagar rumah mereka. Tak berani mendekat ke persawahan itu. Angan mudaku mencoba mengira – ngira apa yang terjadi. Tapi tak ada yang bisa kupikirkan saat ini. Keadaannya ngeri sekali karena sepanjang hidup aku tak pernah mendengar suara tembakan.

Ada sejam lebih suara baku tembak terdengar. Kemudian bentakan – bentakan. Dari beranda aku melihat para tentara menggiring seseorang dengan paksa.

“Mana yang lain...lekas tunjukkan!” orang yang digiring itu hanya diam. “Kamu Sutan Fulan...mengaku!”

Orang yang digiring itu tetap diam. Cahaya senter menerpa wajahnya sekilas. Tapi cepat sekali. Hanya meninggalkan ingatan samar – samar padaku. Aku mengira – ngira. Siapakah orang kampungku yang bernama Sutan Fulan? Rasa – rasanya aku pernah mendengar nama itu. Tak ada orang kampung yang bernama Sutan Fulan. Aku pernah mendengar nama itu hanya dalam cerita Haji Kamungkin.


Aku tak pernah tau apa yang terjadi. Beberapa hari kemudian rumah seorang ustad dikepung oleh sejumlah polisi dan tentara bersenjata lengkap. Mereka menangkap sejumlah orang dan membawanya. Kabarnya, orang – orang itu terlibat dalam sebuah kelompok teroris. Apa itu? Aku tak tau apa itu teroris. Yang jelas semenjak ini, makin sering saja intel – intel tentara dan polisi berkeliaran mengawasi pengajian – pengajian malam di masjid dan surau – surau. Masjid dan surau sepertinya telah berubah menjadi camp orang – orang yang disebut teroris.

Aku sendiri merasakan betapa makin tak nyamannya mengikuti pengajian – pengajian di surau surau dan masjid kampung belakangan. Bukan lantaran dikuasai teroris – teroris itu, tetapi lantaran isi ceramah dan pengajian yang semakin penuh dengan kutukan kutukan terhadap kaum teroris. Hampir setiap ulama sekarang, tampaknya menjadi fasih melafazkan ayat baru ini; teroris. Sedang di antara orang – orang kampung, sedikit sekali yang benar – benar mengerti apa maksudnya dengan teroris. Bahkan suara azan yang indah, sekarang hampir seperti teror di kepalaku. Makin sering orang mengucapkan kata teroris, makin hebat teror itu mencekamku. Koran – koran, televisi, radio, semuanya kini bergerak dalam satu gelombang yang sama. Sebuah gelombang besar yang dihalau ke dalam diri lulusan madrasah sepertiku, kepada anak – anak yang mengaji, kepada orang – orang yang mencintai kitab dan Nabi, hingga mereka nyaris kehilangan rasa percaya kepada apa yang semula menjadi pegangan hidup mereka. Semuanya sekarang seperti berubah menjadi bayangan yang berbisik untuk takut pada dirinya sendiri.

Sering kurindukan sebuah kota atau sebuah negeri yang lebih nyaman, tak ada teror, tak ada gelombang yang menghalau orang untuk lari ke dalam ketakutan. Mungkin seperti kota Suf. Sebuah kota di mana Tuhan dapat saja bersaksi dan membeberkan segalanya dengan jujur.

Sering aku rindu untuk sampai ke sana. Tapi aku tak pernah tahu jalannya. Haji Kamungkin yang pernah mengaku mengetahui jalannya, tak pernah lagi kelihatan. Kalau aku mengingatnya, yang terbayang padaku adalah cahaya senter menimpa wajah seseorang di malam yang mencekam itu. Wajah yang bersih, tetapi terlalu samar untuk dipastikan siapa pemiliknya.

-

-Ditulis Juli 2003. Diedit april 2006

Keterangan 1. cerita ini hanya fiksi. Dipersembahkan bagi mereka yang hilang dan tidak tercatat namanya dalam peristiwa ledakan bom di Kotilogin. 2. Nama malaikat pencatat segala tindakan manusia 3. Hakim Penanya Yang Terpercaya sangat penting kedudukannya dalam proses pengadilan kota Suf. Dia hanya sebagai penanya yang menyingkap tabir kasus seterang-terangnya, bukan pembela atau penuntut umum. Karena di pengadilan di kota Suf tidak ada pembela dan penuntut umum. Demikian diterangkan Haji Kamungkin.

@Jurnal Cerpen Indonesia Edisi 07
Lanjuuuut...

MENIMANG BAJU, MENGHUKUM BAJU


riki dhamparan putra

Di dalam setiap kebudayaan selalu terdapat obsesi yang khas tentang baju. Baik sebagai hasil karya kreatif maupun sebagai metafor dari pencapaian falsafah kehidupan. Lewat obsesi tentang baju ini orang menunjukkan kemampuan memahami seluk beluk dunia, membentangkan visi, sekaligus menghukum ketelanjangan.

Marilah kita membaca kisah Jaka Tarub untuk melihat bagaimana obsesi seperti itu telah dibangun..

Dikisahkan, pemuda Jaka Tarub telah mencuri pakaian seorang bidadari yang selalu mandi bercengkrama bersama saudara-saudaranya di sebuah telaga. Baju itu ia sembunyikan di bawah timbunan padi di lumbungnya.Akan halnya bidadari yang bajunya dicuri pemuda Jaka Tarub, tak dapat kembali ke kahyangan bersama saudara-saudaranya yang lain. Ia harus mengenakan baju tersebut untuk bisa terbang ke kayangan. Baginya baju itu seperti sayap. Kalau sekarang mungkin seperti sebuah pesawat luar angkasa.

Singkat cerita, bidadari yang malang itu tak punya pilihan lain kecuali memenuhi keinginan Jaka Tarub untuk memperistrinya. Karena kalau tidak, baju kayangannya tidak akan dikembalikan. Mereka tinggal di sebuah dusun dan hidup sebagai petani hingga dikarunia seorang putra.

Waktu berlalu, Jaka Tarub lupa pada janjinya untuk mengembalikan pakaian itu. Siang malam ia bekerja keras untuk menghidupi anak istrinya. Saat ia pergi, sang istri menumbuk padi di rumah. Saat ia kembali, padi sudah ditumbuk menjadi beras, tak lama ditanak menjadi nasi yang siap dihidangkan.

Begitulah, bila padi di lumbung itu habis, terkejutlah sang bidadari karena mendapatkan baju kayangannya ternyata disembunyikan di bawah padi di dalam lumbung itu.

Iapun mengambilnya, lalu memakainya. Dengan pakaian itu ia terbang kembali ke kayangan meninggalkan Jaka Tarub dan putranya.Tidak hanya Jaka Tarub, sayapun pasti tersedu-sedu bila ditinggalkan seperti itu oleh kekasih saya. Ia pergi saat padi di lumbung sudah kosong. Tetapi janji tetaplah janji. Pakaian itu telah mempertemukan Jaka Tarub dengan sang bidadari. Kini pakaian itu juga yang memisahkan mereka.

Hikmah cerita ini jelas bagi kita. Pertama, ketelanjangan telah menghukum bidadari hingga ia terpaksa tinggal menderita di dunia bersama seorang pemuda biasa. Kedua, ada obsesi tentang baju sebenarnya merupakan sebuah jembatan yang dapat menghubungkan alam nyata dengan alam transenden, dalam hal ini adalah kahyangan.

Lewat kisah sehelai baju, nenek moyang kita telah menunjukkan diri sebagai masyarakat penutur yang kaya akan imajinasi dan visi kesemestaan. Mereka tak hanya memberi kita cerita menjelang tidur, tetapi juga untuk dijadikan nasehat diri.

Obsesi untuk menghubungkan diri di alam kasar dengan alam yang transenden telah membuat mereka menghargai baju lebih dari sekedar fungsi materil. Tapi juga makna.Di tangan mereka, pakaian ternyata tak sekedar bahan material dengan masalah-masalah produksi serta konsumsi saja. Tak hanya urusan jual beli. Tetapi merupakan sebuah obsesi yang akhirnya melahirkan visi tentang kesemestaan. Inilah nilai lebihnya dan hal itu hanya mungkin berlaku apabila pakaian dipahami sebagai sebuah makna.

Apakah arti makna di sini? Kalau dilihat, baju kayangan milik bidadari tidak bisa terbang sendiri. Ia memerlukan pemakai atau orang yang tahu cara menerbangkannya. Begitu pula sebaliknya. Bidadari tak bisa terbang tanpa baju. Harus ada sebuah hubungan yang bersifat transenden, di mana dalam hubungan ini terdapat sebentang pengetahuan tentang apa yang dipakai. Baru kedua-duanya bisa menjadi sebuah makna.

Maka makna hanya mungkin tercipta dari adanya sebuah keterhubungan semacam itu. Keterpisahan antara keduanya berarti mengembalikan keadaan masing-masing subyek itu kepada ketakbermaknaan.

Makna membebaskan kita dari kesekedaran, juga dari kebendaan yang meliputi kita. Sebagaimana halnya ambisi kita kepada benda-benda, makna telah membantu kita menjadi makhluk Tuhan yang paling ambisius untuk memahami keberadaan yang lebih di dalam makna itu sendiri. Memahami kesejatian, kata orang.

Apakah alam badan? Apakah yang alam di dalam alam badan? Apakah yang bisa dikisahkan tentang badan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang hendak dikiaskan dalam kisah Jaka Tarub. Dan lebih penting, semua itu dimulai dan dipastikan dari sebuah ungkapan, yakni baju.

Bajulah yang telah membuat Jaka Tarub mampu menciptakan komunikasi antara badan bumi dan badan kayangan. Tanpa baju dimaksud, jagat pastilah hanya rasa kesepian bagi seorang Jaka Tarub.

Sebagai Metafor

Kiranya tak hanya dalam kisah Jaka Tarub baju mendapat tempat yang ajaib. Dalam kisah-kisah agama samawi, beberapa helai baju telah menjadi begitu keramat karena adanya keterhubungan khusus dengan pemakainya.

Bacalah kembali kisah Nabi Yusuf Alaihisalam. Setelah saudara – saudaranya membuangnya di sebuah perigi di kelebatan hutan, mereka mengambil baju Nabi Yusuf, melumurinya dengan darah hewan, lalu membawanya kepada ayahnya Nabi Ya’kub dan mengatakan kalau Yusuf telah dimakan binatang buas.

Lantaran melihat baju itu penuh darah, Nabi Ya’kub merasa sedih dan menangis. Airmatanya yang tak henti-henti telah membuat matanya buta. Di akhir kisah, dengan baju itu juga Yusuf menyembuhkan kebutaan ayahnya. Kalau contoh ini masih kurang, ada juga kisah Nabi Isa Alaihisalam. Salah satu mu’jizatnya adalah mampu menyembuhkan orang buta dengan bajunya.
Bahkan jauh sebelum Nabi Yusuf, Nabi Isa, dan nabi-nabi yang lain, baju telah menjadi sebab terhukumnya Adam dan Hawa ke dunia.

Diceritakan, saat Adam dan Hawa dibuang dari surga, seluruh baju mereka dilepas. Sesampai di bumi, mereka mendapatkan tubuh mereka telanjang dan berupaya menutupi dengan daunan.

Salah satu perjuangan ninik Adam dan Hawa selanjutnya adalah perjuangan untuk membuat baju yang dapat mengembalikan mereka ke surga.Kisah-kisah ini memberi kita keberanian untuk berasumsi, bahwa sejarah umat manusia memang dimulai dengan obsesi yang unik tentang baju. Seluruh tindakan manusia tampaknya tak akan jauh dari tindakan melepas dan memakai baju.

Tetapi tentu tak adil kalau kita hanya melihat baju dari ihwal keajaibannya saja. Sejarah juga menunjukkan pada kita bahwa baju adalah pangkal bala dari banyak pertentangan. Hal itu terjadi sebagai akibat perkembangan persepsi serta cara manusia bersikap pada baju.

Bahkan pada masa sekarang di Indonesia kita melihat bagaimana baju telah menjadi penanda dari bangkitnya sebuah obsesi yang lain, yakni fundamentalisme dan aksi-aksi massa yang menjurus pada premanisme.

Setidaknya fenomena ini terlihat di ambang kegagalan era reformasi, di mana semenjak itu hampir sebagian besar wajah media massa kita dipenuhi oleh beragam peristiwa yang berhubungan dengan baju.

Rileks anda di kafe-kafe dan bar malam tiba-tiba jadi tak nyaman karena dibayang-bayangi ancaman kedatangan segerombolan orang berjubah yang dapat saja menghentikan pesta musik dan minuman keras yang sedang anda nikmati, melempar batu, lalu tanpa ragu-ragu menyegel sebuah tempat hiburan (termasuk arena kesenian) tanpa surat kuasa pengadilan.

Sasaran mereka terus berkembang ke wilayah teks. Mereka dapat saja mengadili sebuah karya sastra, sebuah pameran photografi atau sebuah naskah film yang mungkin belum mereka tonton.

Setengah dari kita tadinya mungkin mengira hal itu hanyalah fenomena pubertas keagamaan atau pubertas budaya saja yang akan lenyap dalam waktu singkat. Rupanya kita salah. Kelompok-kelompok semacam ini bahkan semakin banyak. Muncul di berbagai tempat berbeda, dari kalangan yang berbeda secara fungsi sosial, keyakinan dan adatnya.

Persamaan mereka adalah dalam cara-cara mengorganisir diri dan dalam melakukan aksi-aksi pengawasan moralnya. Biasanya mereka menampilkan diri sebagai satgas moral atau satgas kebudayaan tertentu dan selalu menandai diri (karena itu gampang ditandai) dari baju yang mereka kenakan.

Dalam fenomena ini, baju makin mengukuhkan arti dan fungsinya sebagai sebuah penggerak sosial. Sebuah hasil rancangan baju tak hanya berhenti sebagai barang produksi dengan soal-soal produksi serta distribusi saja. Tetapi berkembang ke tataran gagasan sosial atau menjelmakan diri ke dalam sebuah identitas kelompok.

Masalahnya adalah manakala kompetisi antar identitas itu terjadi, masing-masing pemakai baju merasa perlu melakukan pemurnian atas pengaruh yang lain terhadap identitas kelompok mereka. Memurnikan diri berarti membangun keagungan diri sendiri dengan cara memutus keterhubungan dengan yang lain.

Demi melayani candu terhadap identitas itu, suatu kelompok masyarakat kadang tak segan-segan mengancam memisahkan diri dari wilayah negara republik Indonesia.Dengan ideologi pemurnian macam itu budaya digiring ke arah sebuah panggung fashion yang ganjil, yang tidak hanya merayakan kelebihan rancangan masing mereka, tetapi juga membuat kehidupan sosial menjadi tak nyaman.

Sejauh ini kita belum mendapat referensi dari sebuah study yang mendalam tentang fenomena semacam ini. Kita hanya dibuat tercengang-cengang karena sasaran dan tuntutan yang diajukan mereka semakin beragam pula. Jumlah dan cara-cara mereka membuat legitimasi atas tindakannya semakin canggih pula.

Lebih mengejutkan lagi, apabila kita mengetahui kelompok-kelompok seperti ini hampir semuanya mempunyai hubungan (kalau tak akan disebut dekat) dengan kekuasan, baik eksekutif, legislatif dan keamanan.

Pola hubungannya dengan kekuasaan itu sebenarnya cukup transparan kalau diamati. Kita bisa melihat dalam kebanyakan aksinya, kerumunan pencandu identitas ini memberikan dukungan pada program-program tertentu dari pemerintah atau program-program tertentu dari lembaga wakil rakyat. Mulai dari dukungan untuk keamanan dan ketertiban kota, dukungan pada program pelestarian budaya, sampai dukungan pada rancangan undang-undang tertentu.

Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana ini bisa menjadi fenomena dalam kurun waktu yang sama, bentuk aksi yang sama dan pola-pola kemunculan yang sama? Tentu ada sesuatu di belakang ini. Mungkin sesuatu yang berasal dari ketidakberesan visi kita dalam memandang dunia, mungkin pula sesuatu yang sudah direkayasa sedemikian rupa. Terlalu banyak argumentasi yang bisa diajukan. Yang jelas, tampilnya baju sebagai peran yang demikian itu di panggung budaya kontemporer menunjukkan contoh obsesi yang berusaha meniadakan adanya keterhubungan dengan yang lain. Sebaliknya, mengedepankan keterpisahan dan mengakibatkan rasa tak nyaman sosial.

Kita perlu memberi perhatian yang fokus pada masalah baju ini. Kalau tidak, sebuah merek baju dapat terus menerus membahayakan kehidupan kita sebagaimana ia telah mengecoh serta menguras energi kita di etalase mall, pasar rakyat ataupun toko-toko baju. Yang lebih mengkhawatirkan tentulah pada saat mbaju makin dibenci dan orang memilih ketelanjangan untuk melanjutkan obsesi kebudayaannya.

Lanjuuuut...

Kunang-kunang Yang Terbakar

cerpen riki dhamparan putra

Tentu saja, karena dia kunang-kunang, lelaki itu hanya keluar bila hari sudah malam. Tubuhnya menyala dan sayapnya yang halus itu mengepak lemah. Terangguk-angguk seperti lampu gantung yang diayun angin kencang. Kadang seperti hendak jatuh, tapi dia tak pernah padam. Dan satu dua orang pejalan yang sempat melihatnya, tergerak juga mengikuti arah lelaki itu. Mereka adalah dua orang narapidana yang tengah melarikan diri dari penjara kota.

“Tak ada petunjuk. Lebih baik kita mengikuti kunang-kunang itu. Siapa tau kita akan sampai di suatu tempat,..” Kata salah seorang pada temannya. Mereka pun mengikuti kunang-kunang yang menghilang di balik tembok sebuah gang.

Gang itu ternyata begitu panjang dan sempit. Namun kedua pelarian itu terus mengikuti kunang-kunang itu hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang jauh lebih gelap dari tempat mereka mula berangkat. Satu sama lain saling memegang tangan agar tidak saling kehilangan. Maklumlah, gelap. Tak ada yang bisa dilihat dalam gelap. Kedua pejalan itu hanya bisa merasakan hembusan nafas mereka satu sama lain. Bahkan bola mata merekapun tak kelihatan. Kebetulan pula mereka mengenakan pakaian berwarna gelap.

“Tempat apa ini?” bertanya pelarian itu pada teman di sebelahnya.

“Mana kita tau. Tak ada yang bisa dilihat di sini. Semua serba hitam”

“Aku jadi takut”

“Kalau mau takut, kenapa tidak dari tadi?”

“Kamu yang mengusulkan agar kita ikut kunang-kunang itu”

“Tapi kamu kan mau”

“Sudahlah. Jangan bertengkar. Tapi mana kunang-kunang itu?”

“Tadi dia ke sana”

“Kemana?”

“Ke sana! Kamu lihat telunjukku tidak?”

“Brengsek. Aku tak lihat apa pun. Apa kamu bisa lihat telunjukmu sendiri?"

“Nggak juga. Tapi aku kan merasa”

Mereka terus ribut seperti dua anak kecil sedang menebak teka-teki. Suara mereka rupanya telah membangunkan seorang gelandangan yang tidur di bawah lipatan kardus di emperan yang tak jauh dari tempat kedua pelarian itu berada. Gelandangan itu mencoba mendekati mereka dengan menajamkan perasaan dan pendengarannya untuk mencari tahu posisi kedua pelarian itu. Namun percuma. Perasaannya seperti jadi tumpul oleh gelap yang pekat, apalagi perutnya melilit lapar. Maka satu-satunya jalan adalah menyapa kedua pelarian dengan suara setengah berteriak.

“Siapa di sana?” seru gelandangan itu.

“Kami. Anda siapa?” jawab pelarian yang lebih muda.

“Apakah kalian membawa makanan?”

“Sst. Tampaknya dia melihat kita. Dia tau kalau kita berdua” berkata pelarian yang lebih tua pada teman di sebelahnya.

“Tentu saja tau. Kau ini memang tolol,”

“Apakah kalian membawa makanan?” kembali gelandangan itu berseru.

“Apa kamu lapar?”

“Sangat lapar. Saya tak punya apa-apa. Tolonglah saya,” Kata Gelandangan itu lagi. Kini suaranya sedikit lebih lemah. Kedua pelarian itu merasa kasihan. Mereka menyuruh gelandangan itu mendekat ke arah mereka.“Kemarilah. Kami masih memiliki makanan!” Kata pelarian yang lebih tua.

Gelandangan itu mendekat terseok-seok. Rupanya dia tidak memiliki kaki, hingga harus menggunakan kedua tangannya untuk berjalan. Dan dalam gelap itu dia tidak melihat lubang di depannya. Dia terperosok dan mulutnya terbentur sisi lubang yang keras. Gelandangan itu mengaduh kesakitan. Kedua pelarian yang merasakan kalau gelandangan itu tidak jauh, segera meraba-raba ke arah tempat gelandangan itu terjatuh. Kedua pelarian yang melihatnya segera menolong gelandangan itu.

“Ya,Tuhan. Pelipisnya berdarah,..” Pelarian yang lebih muda segera merobek ujung bajunya untuk mengusap darah yang terus mengucur membasahi wajah si gelandangan. Ia terus meringis kesakitan.

“Lapar, saya lapar,..”

Pelarian yang lebih muda itu lalu memberikan sepotong roti yang masih tersisa pada gelandangan tersebut. Mereka pikir si gelandangan tentu akan memakannya dengan lahap. Tapi gelandangan tak berkaki itu justru memuntahkannya sambil berteriak.

“Hei, kenapa kamu muntahkan makanannya?” tanya pelarian yang lebih tua.

“Sakit. Mulutku sakit,” teriaknya dengan lemah. Kedua pelarian itu benar-benar kehilangan akal.

Mereka tidak tau harus melakukan apa untuk menolong gelandangan itu Sebelah pakaian pelarian yang lebih muda sudah habis disobek untuk mengusap darah yang terus mengucur dari pelipis si gelandangan. Sekarang ia mengeluh mulutnya sakit. Apakah giginya patah?

“Bagaimana ini?” Bertanya pelarian yang lebih muda pada pelarian yang lain.

“Aku juga tidak tau harus berbuat apa,”

“Cobalah minta tolong seseorang,”

“Minta tolong? Pada siapa? Tak ada orang lagi di sini,..”

“Berteriaklah keras. Siapa tau ada yang mendengar,..”

“Kamu saja!”

“Kamu saja!”

Mereka berdua lalu berteriak sekeras yang mereka bisa. Tapi tak ada yang datang. Aneh sekali, tempat itu seperti tak berpenghuni. Padahal mereka bisa merasakan kalau di sekitarnya ada banyak bangunan yang megah. Yang jendela dan pintunya tertutup rapat dalam gelap itu, yang biaya pagarnya saja cukup untuk makan sebulan dua ratus orang gelandangan. Belum lagi jenis bunga dan pohon-pohonnya, makanan anjingnya,.. Tapi kemana mereka malam ini? Jangankan suara manusia, suara lolongan anjing pun tak terdengar. Kedua pelarian itu mulai putus asa. Sebab si gelandangan semakin lemas, nafasnya mulai satu-satu, setengah-setengah dan Tuhannya memanggilnya.

“Kita tak mungkin meninggalkannya di sini” Kata pelarian yang lebih muda. Ia merasa jerih dalam gelap itu.

“Tapi kita juga tak mungkin membawanya”

“Kalau begitu berdoalah untuknya”

Mereka lalu berdoa dengan perasaan haru untuk sahabat baru yang telah mati itu. Dalam hati mereka meminta Tuhan untuk mengurus jasad gelandangan itu baik-baik , memberinya makan di surga, dan tidak menelantarkannya seperti ketika dia hidup. Dan janganlah ada gelandangan lagi,Amin!

Masih saja begitu gelap. Kedua pelarian meletakan jasad gelandangan yang telah mati di tanah (mereka tau mereka telah meletakkannya di atas tanah, karena mereka telah merabanya dan terasa dingin). Lalu mereka kembali saling memegang tangan satu sama lain dan bergerak menyamping agar tidak melangkahi mayat gelandangan itu. Mereka meninggalkannya, sementara kunang-kunang yang tadi mereka ikuti tak juga kelihatan. Sedang gelap seperti tak habis-habis.

“Berdoalah!”

“Berdoa apa lagi? Bukankah tadi kita sudah mendoakan gelandangan itu?”

“Berdoalah untuk kita. Agar gelap lebih cepat dan kita bisa tau sedang di mana kita kini. Setidaknya berdoalah agar ada seekor kunang-kunang”

“Takut,ya”

Tapi pelarian yang lebih tua sudah tak ingin berbantahan atau bertele-tele. Dia tidak meraba-raba lagi, tapi bersimpuh di atas kedua lututnya. Dagunya dia turunkan dan matanya dia pejamkan. Melihat itu, pelarian yang lebih muda merasa tak punya pilihan lain. Ia pun bersimpuh di tanah dan memejamkan mata.

Tapi ia tidaklah berdoa. Ingatannya dipenuhi bayangan lampu-lampu indah di kolam rumahnya, lampu-lampu kota yang gemerlap, warna lipstik penari, kembang api, semuanya…Mengapa semuanya jadi menghilang. Tiba-tiba ia terisak.

“Hei, kamu menangis?” bertanya pelarian yang lebih tua.

“Saya ingat Duning,” (masih terisak)

“Kenapa? Cintamu pernah ditolak?”

“Bukan. Tapi dia pernah meminta tolong pada saya untuk menyalakan bola lampu di kamarnya. Tapi saya tidak melakukannya. Saya lebih suka gelap ketika itu,”

“Kok bisa?”

“Karena saya ingin memegang dadanya diam-diam”

Pelarian yang lebih tua mau tertawa sebenarnya. Tapi dia tahan, karena temannya itu isaknya tambah keras. Iapun menjadi heran.

“Hanya karena itu kau menangis sekarang? Betapa tololnya,”

“Tapi karena itu juga dia mati,”

“Mati kenapa?”

“Kami keasyikan. Tanpa sengaja dia mendorong tabung gas dengan tumitnya. Karena tak tau kalau itu tabung gas, ia mencari korek api dan menyalakannya…”

“Tabung itu meledak?”

Pelarian yang lebih muda itu tidak menjawab lagi. Ia menangis tergugu-gugu.

***

Mereka terus berjalan dalam gelap yang tak pernah habis itu. Terporosok di lubang-lubang dan bangkit lagi. Tubuh mereka sudah penuh luka sebenarnya. Tapi mereka terus berjalan karena harus menemukan suatu tempat yang ada cahayanya. Tapi mengapa gelap selalu terasa panjang? Mereka terus berjalan dan baru terhenti ketika keduanya tak bisa lagi menggerakkan kaki serta anggota tubuhnya.

“Mungkin kita akan mati”

“Ya, kita akan mati…”

“Tapi kita tetap harus berpegangan. Kemarilah, lebih dekat..”

Pelarian yang lebih muda itu mengumpulkan seluruh sisa tenaganya agar tetap dengan sahabat perjalanannya. Ia ingin mati dengan lebih hangat. Saat itulah kunang-kunang yang mereka cari muncul ke dekat mereka. Kedua pelarian itu memandangnya dan mencoba tersenyum pada kunang-kunang itu.

”Kamu terlambat” Bisik kedua pelarian itu dalam hati masing-masing. Kunang-kunang itu terus mengitari mereka. Dalam gelap itu ia seperti matahari yang sangat bercahaya. Tapi kedua pelarian itu tak akan bisa lagi menikmatinya. Mereka telah mati.

Kunang-kunang itu terus mengitari mereka seperti hendak membagi seluruh cahaya yang ia miliki pada jasad kedua pelarian itu. Tapi mereka telah mati. Kunang-kunang itu menangis dan bertekad untuk menemani jasad kedua pelarian itu selamanya. Tapi itu tak mungkin. Sebentar lagi akan fajar, hari akan pagi. Dan tentu saja tak ada yang memerlukan seekor kunang-kunang pun lagi. Orang-orang akan datang, orang-orang tak akan melihat kunang-kunang dalam terang. Ah, kunang-kunang itu jadi begitu benci pada pagi yang akan datang.

-
Denpasar, 2003

dimuat di koran Sinar Harapan, 2003

Lanjuuuut...

'AKU PENGARANG' DI PANGGUNG SASTRA ARTIFISIAL

riki dhamparan putra

DALAM pengantar kumpulan puisi Frans Nadjira, Springs of Fire Spring of Tears (Matamerabook 1998), Thomas Hunter Jr, pengamat sastra Indonesia asal Amerika, pernah mengatakan, tema-tema dalam hampir keseluruhan karya-karya Frans Nadjira tergolong ke dalam tema-tema mayor, berwatak universal, dan melibatkan diri dalam problem-problem humanisme.

Hal itu tampak dalam sejumlah cerpen yang terkumpul dalam kumpulan Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun Daun (Matamera Book, 2004). Frans Nadjira sama sekali tidak terlihat berambisi untuk mengikuti mainstream sastra dunia terbaru. Dia bergeming dengan wacana-wacana terkini yang mulai menggugat keterlibatan 'aku pengarang', dan lebih cenderung memilih karya-karya yang naratif, di mana pengarang hanyalah narator yang tidak mengalami keterlibatan apa pun dengan teks-teks yang ditulisnya sendiri.

Bila melihat cara-cara Frans Nadjira mempertanyakan dan melibatkan diri dalam peristiwa demi peristiwa di dalam tiap cerita yang disuguhkan, pembaca akan segera teringat karakter sebuah generasi sastra yang amat penting dalam kesusasteraan modern kita, yakni generasi tahun 70-an, di mana eksistensialisme dan humanisme secara luas mendominasi permenungan sastra kita di masa itu. Dengan demikian, hadirnya cerpen-cerpen dengan 'aku yang terlibat penuh' dalam karya-karyanya, di satu sisi, seolah hendak menegaskan konsistensi pengarang, sebagai bagian dari sebuah generasi yang begitu gelisah dengan soal-soal keberadaan, ataupun hakikat kemanusiaan dalam diri seseorang.

Konsistensi mengandaikan upaya pengarang dalam memelihara suatu 'pandangan dunia' di sepanjang perjalanan kreatifnya. Dalam hal ini konsistensi Frans Nadjira sebagai pengarang terlihat sebagai suatu 'pandangan dunia' tentang hakikat keberadaan kemanusiaan secara luas, di mana dia menyelam untuk mengalami serta mengungkapkan esensi dari kehidupan manusia itu sebagaimana tampak dalam kutipan di bawah ini:

"Bagiku hidup harus diberi makna, agar jika tiba saatnya maut menjemput, ia tidak merasa sia-sia karena telah menjemput seorang manusia yang hidupnya tak bermanfaat" (halaman 76). Masih dalam cerpen yang sama, secara lebih tegas dikatakannya, "Karena itu, segala sesuatu yang dapat musnah tidak pantas menjadi tujuan utama manusia..." (halaman 78).

Kata-kata tersebut merupakan ungkapan tokoh Farsa yang disampaikan 'Aku' dalam cerpen Seandainya Aku Memahami Debu. Bagi saya, kalimat tersebut merupakan sebuah pernyataan pencapaian pengarang sendiri tentang hakikat kehadirannya di dunia ini. Di antara dialog-dialog dalam cerpen-cerpen lain, petikan kalimat tersebutlah yang paling kentara sebagai pencapaian permenungan Frans Nadjira terhadap tujuan kehidupan.

Lebih jauh, eksistensi kehidupan seorang berakhir dalam suatu melodrama yang indah. Yakni saat daging kembali ke kodratnya sebagai abu yang mulia. Tatkala "tanah, air, logam, kayu, dan api gemertak dalam satu proses; kembali ke unsur..." (halaman 79).

Pandangan seperti itu mewarisi makna sebuah kodrat manusia dalam tradisi mistik kuno: "dari debu kembali ke debu". Tokoh Farsa dalam hal ini tidak bermaksud memberi suatu makna baru dari kodrat manusia. Ia menjalani hidupnya untuk meneguhkan keyakinan pandangan tersebut dalam dirinya. Usaha untuk mengalami esensi itu--sebagaimana dikatakan Arif B Prasetyo--dicapai dengan mengalami dunia hikmah. Jika hendak diteruskan, di sini eksistensi berubah arti menjadi kodrat, sesuatu yang telah ditetapkan, suatu keniscayaan.

Tema-tema seperti itu memang lazim muncul dalam pemikiran kesusastraan dunia sejak dari zaman klasik. Bahkan terkesan ketinggalan. Namun, dengan gaya pengungkapan yang cenderung surealis dan puitik, Frans Nadjira telah berhasil setidaknya untuk dua hal; pertama, menyegarkan kembali tema-tema tersebut untuk diulang hari ini. Kedua, merupakan usaha untuk menjembatani kebuntuan yang biasa terjadi antara keinginan untuk membentangkan realitas dan bukan realitas dalam sebuah bangunan cerpen.

Sastra artifisial

Mengapa perkara eksistensi begitu penting bagi pengarang generasi sezaman Frans Nadjira biasanya digeneralisasikan dengan dua hal penting. Pertama, pengaruh pemikiran filsafat modern Eropa dalam kesusastraan kita. Kedua, situasi politik yang telah mendorong perdebatan generasi tahun tujuh puluhan ke perdebatan-perdebatan tentang apa yang semestinya menjadi panglima dalam kehidupan manusia.

Pasca-"surat kepercayaan gelanggang" dan "polemik kebudayaan" di permulaan Indonesia modern, kalangan modernis Indonesia terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah kubu humanisme liberal yang memusatkan pandangan penciptaannya pada kebebasan kreatif individu tanpa tekanan ideologi sosial. Para penganutnya menyatakan sikap kreatifnya dengan apa yang dikenal sebagai "manifesto kebudayaan".

Di kubu lain ada Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang menjadikan kehendak orang banyak sebagai satu-satunya cara untuk mencapai kepenuhan kemanusiaan. Di sini konon, eksistensi individu tidak mendapat tempat. Politik menjadi panglima tertinggi setiap denyut perubahan yang terjadi.

Sejarah kemudian memberi peluang pada kubu "manifesto kebudayaan" ini, untuk terus mengembangkan paham-paham kemanusiaannya dalam kesusastraan. Pengaruhnya masih terasa hingga hari ini dengan dominannya tokoh-tokoh tahun tujuh puluhan itu dalam panggung sastra Indonesia.

Lebih dari itu, masing-masing tokoh sastrawan tahun tujuh puluhan tersebut tampaknya berhasil mengembangkan suatu "politik kubu" yag lain lagi. Begitulah konon, jika ingin selamat dalam kompetisi di panggung sastra, seorang penulis muda mesti memilih ikut dalam salah satu kubu itu. Apakah kubu Goenawan Mohammad atau Taufik Ismail, atau salah satu dari yang lainnya yang telah melahirkan "mazhab". Lebih jauh, mereka tidak hanya mewariskan pemikiran kesusastraan, tetapi juga penyakit dalam bentuk politik kubu itu.

Karya-karya artifisial mereklamasi kedalaman, lebih merayakan vitalitas produksi ketimbang perenungan. Seperti kecenderungan orang-orang memilih viagra untuk terkesan macho. Frans Nadjira adalah salah satu dari sastrawan tahun tujuh puluhan yang tenggelam dalam gelombang reklamasi karya artifisial itu. Meskipun satu dua karya-karyanya diterbitkan dalam sejumlah antologi bersama tentang sastra Indonesia, tidaklah cukup untuk mempengaruhi arus tersebut. Tentu saja, maksud kita bukan semata soal bagaimana menjadi tokoh di panggung sastra itu. Tetapi bagaimana sesungguhnya kita telah membangun tradisi kesusasteraan kita selama ini. Apakah sudah berdiri di atas fondasi objektivitas dalam memberi nilai pada semua jenis pencapaian sastrawan kita?
*Penyair. Kini menetap di Bali.

Lanjuuuut...

PENCIPTA YANG TAK PERNAH MATI

riki dhamparan putra


April 1998 lalu, sebuah buku kumpulan puisi yang begitu luks diluncurkan di sebuah hotel berbintang di Seminyak, Kuta,Bali. Judul covernya ditulis dalam bahasa InggrisSprings of Fires Springs of Tears,buku puisi kedua penyair Frans Nadjira sesudah Jendela yang terbit beberapa tahun sebelumnya. Saya tidak tahu betul alasan memilih judul Springs of Fire Springs of Tears pada cover kumpulan puisi dwi bahasa itu, karena ternyata ungkapan tersebut bukanlah sebuah judul yang terdapat di antara 42 puisi di dalamnya.


Tetapi tentu bukan soal itu yang hendak menjadi topik pembahasan tulisan ini. Usaha saya sepenuhnya tertuju pada beberapa simpul pernyataan yang ditulis oleh Thomas Hunter jr mengenai puisi-puisi FransNadjira. Kecuali mungkin satu hal yang tidaksaya singgung di sini: perihal masa depannya. Atau, meminjam istilah Thomas M Hunter, Jr1 yang memberikan pengantar penerjemahan antologi Frans Nadjira ; “kehidupan pasca penciptaan” puisi puisi di dalam Springs of Fires Springs of Tears ( untuk selanjutnya kitasingkat SofSoT).

Menurut Thomas M Hunter Jr, keagungan karya Frans terletak pada sikap penyairnya yang menolak untuk menyentuh kertas dengan pena kecuali dia ‘dimasuki’ oleh semacam ‘suara’ atau peristiwa yang memaksakan dia bertanggungjawab untuk menyampaikan pengalaman tersebut kepada orang lain. Dalam hal ini,Thomas HunterJr memakai pendapat Walter Benyamin yang mengukur keagungan sebuah karya seni berdasarkan ‘daya tahannya’ pada kehidupan pasca penciptaan.

Saya sendiri tidak terlalu tertarik untuk mengunakan istilah ‘ keagungan’ dalam memahami sebuah karya puisi. Tetapi pendapat Thomas Hunter adalah satu-satunya pendapat tertulis yang pernah ada dan yang bisa kita pergunakan untuk membicarakan puisi-puisi Frans Nadjira. Dan di sini penekanannya terhadap mistik dalam karya Frans Nadjira, cukup mendapat focus tulisan ini.

1.Tirani Kritik Atau Tirani Pembaca

Dalam mengkaji sebuah puisi, pertama-tama kita terbentur pada metode. Sejauh ini metode kritik sebenarnya mengandung beban sendiri saat digunakan untuk melakukan pengkajian puisi. Beban itu terjadi karena karena kritik seolah-olah tidakbicara tentang karya yang dibedahnya, melainkan tentang metode itu sendiri. Kritik-kritik akademis maupun kritik-kritik Avant Garde sesudah ‘matinya pengarang’ memiliki kecenderungan subyektifitas yang tinggi.Kritik tidak berusaha untuk menjelaskan atau menyampaikan isi dari puisi yang dhadapinya,sebaliknya memaksa puisi tersebut masuk ke dalam metode itu.

Memang genre-genre khusus kemudian muncul dengan kritik tersebut, seperti misalnya penggunaan teori dekonstruksi untuk puisi-puisi Sutardji sebagaimana yang dilakukan Umar Junus dan Dami N Toda, atau lebih jauh terjadi pada Afrizal Malna. Di wilayah akademis, kita bisa lihat bagaimana misalnya “strukturalisasi karya sastra” terjadi tanpa dapat menyampaikan rasa dari karya sastra itu kepada kita; bagaimana kita mendapatkan rasa bahasa apabila hanya sanggup mengutarakan jenis alur, penokohan, atau bentuk bentuk struktur belaka? Mengarang, menurut Michael Foucault adalah persoalan mencipta ruang untuk tempat subjek, di mana subjek yang mengarang itu terus menerus melenyapkan dirinya.2

Namun bila subjek yangmengarng itu telah melenyapkan diri, iapun dganti oleh subjek lain yaitu pembaca, yang oleh Roland Barthes dikatakan sebagai tempat di mana ambiguitas sebuah teks dikumpulkan. Pembaca adalah seorang yang memegang dalam medan yang sama semua jalur darimana tulisan dibuat.3Pembaca, dengan metode-metode yang dipergunakan untuk memahami sebuah karya lalu menjadi tirani tersendiri, karena padanya telah diberikan wewenang yang terlampau.

Kecenderungan untuk menjadi tirani ini terutama berkemungkinan besar terjadi pada pengkajian puisi, karena membawa sifat dasar ambiguitas teks yang tinggi. Lihatlah misalnya bagaimana Arif B Prasetyo membicarakan puisi-puisi Misalkan Kita Di Sarajevo-nya Goenawan Mohamad (majalah Kalam 1999). Jazz Aproach yang digunakan untuk membahas puisi Misalkan Kita Di Sarajevo, telah mengalihkan sisi pandang kita dari isi dan pencapaian sajak-sajak Goneawan, tapi lebih menonjolkan sisi bunyi atau musikal. Jadi lewat tangan Arif B Prasetyo, kita menemukan suatu bentuk Goenawan yang ‘pemantra’ dengan dominasi unsur musikal dalam sajak-sajaknya.

Itulah resiko kebebasan membaca yang sesungguhnya. Sebagaimana dikatakan Barthes; pembaca tidak usah berumit-rumit dengan persoalan kedalaman, isi, ataupun pencapaian tertentu, sebaliknya pembaca adalah subjek yang memberi makna pada makna itu, dan kemudian memindahkannya ke dalam bahan yang sedang dikaji. Bukan sebuah interpretasi saya kira, bukan pula sebuah resepsi. Tetapi lebih sebagai naluri kreatif sang kritikus untuk berbebas-bebas saja.

Bagaimanapun, bacaan Arif B Prasetyo untuk puisi-puisi Goenawan Mohamad, saya kira merupakan upaya mengingatkan kembali akan kekuatan pengaruh bunyi pada puisi-puisi modern Indonesia. Yaitu bunyi yang mengabaikan makna. Pada prinsipnya, apa yang telah dilakukan Arif dalam esainya itu, tidaklah merupakan suatu rekonstruksi terhadap kritik puisi kita, karena beberapa kritikus seperti Umar Junus dan Dami N Toda, telah melakukan pendekatan yang sama. Bagan persamaannya bisa dibuat:jazz = mantra.

Perbedaan terjadi dari segi penyebutan saja atau dari bentuk yang menjadi media sebuah unsur musikal. Jika pada Sutardji, kekuatan musikal itu bernama mantra, maka denyut musikal puisi-puisi Goenawan dekat dengan jazz. Setidaknya bagi Arif B Prasetyo.

Hubungan teks dengan pembacapun menjadi semacam hubungan mutual yang saling memberi . Di mana, teks sama sekali tak berdaya dihadapkan dengan pembacanya, namun tetap membuka peluang yang luas bagi pembaca untuk menafsirkan teks itu terus-menerus. Di sinilah tirani pembaca berpeluang untuk terjadi, dan saya merasa tak akan bebas dari tirani serupa, sekalipun saya memiliki keyakinan bahwa tirani kritik dapat menjadi bahaya karena terlalu memuliakan subjek pengganti setelah – ‘pengarang tak ada’.

Keyakinan saya yang agak konservatif lainnya adalah mengenai relasi pembaca dengan puisi yang dibaca. Bagi saya, kedua-duanya harus meng-adakan satu sama lain. Puisi membuat saya ‘ada’, karena memberi saya ruang hampa untuk melarutkan imajinasi saya di dalamnya. Sebaliknya saya membuat puisi ada, karena puisi itu telah menuntun saya memahami persoalan yang dibawakannya. Jadi ada dalam sebuah relasi eksistensial.

Dengan penjelasan di ataslah saya sampai kepada pertanyaan; apa benarkah kita dapat membunuh pengarang dalam semua teks, dalam semua jenis karya sastra?

2. Pengalaman Subjektif,Rangkaian Peristiwa; Sebuah Zielostof

Selalu menarik untuk membayangkan bagaimana puisi dilahirkan- hingga baris-barisnya kemudian mengantar peristiwa baru lagi yang sering tidak diduga penyairnya sendiri sebelumnya. Hanya saja godaan seperti itu dapat memerangkap kita ke dalam model pembahasan biografi- dimana pengarang karya yang dibahas itu muncul secara keterlaluan, bukan karangannya.

Dalam karya sastra contoh serupa telah tampak dalam interpretasi Sigmun Freud4 mengenai cerpen-cerpen dalam LA GRADIVA karya Wilhem Jensen (1906). Kendati dalam analisanya Freud bertolak dari mimpi-mimpi yang dialami oleh tokoh dalam cerpen yang dibahasnya, analisa Freud tetap saja lebih berguna bagi teori psikoanalisanya sendiri ketimbang sumbangan bagi kajian sastra. Jadi dia tidak mengemukakan sejauhmana La Gradiva memiliki pesona psikologis, melainkan sejauh mana kondisi psikologis mempengaruhi pengarangnya dalam membangun karakter tokoh tokoh cerpennya. Bagi Freud, sakitnya Wilhem Jensen lebih penting ketimbang La Gradiva yang dilahirkan dalam situasi sakit itu.

Puisi-puisi SoFSot menggoda kita untuk membayangkan peristiwa yang melatari lahirnya puisi hingga baris-barisnya mengantarkan peristiwa baru lagi. Peristiwa adalah sebuah tema general sebelum ia diurai ke dalam sebuah sub tema atau sub-peristiwa. Kendati seluruh peristiwa yang melatari puisi-puisi dalam SofSot adalah peristiwa yang hanya diketahui, dialami, dipahami secara subjektif oleh penyairnya, tidak tertutup kemungkinan bahwa peristiwa itu dialami atau dinikmati secara subjektif pula oleh subjek lain.

Puisi-puisi dalam SofSot tampaknya sangat memperhitungkan ruang komunikasi dengan subjek yang lain itu hingga subjek tersebut dapat masuk ke dalam berbagai peristiwa SofSot. Kekuatannya yang penting terletak pada bagaimana peristiwa itu diungkapkan hingga menjadi rangkaian peristiwa bagi subjek lain. Kunci pengungkapan itu ada pada daya haru dan kematangan bahasa yang dikandungnya.

Setumpukan daging

menyeberang bayang-bayang

mesin jahit

Peristiwa pertama ada pada bagaimana kondisi awal penyair hingga melihat “setumpukan daging dapat bergerak kearah mesin jahit”. Selanjutnya pengarang melakukan penyegaran terhadap kata daging dan mesin jahit.

Setumpukan daging adalah ihwal biasa, seperti kita mengatakan daging sapi,daging ayam ataupun makan daging. Namun pada saat pengalaman subjektif penyair menyentuh daging itu, terjadilah peristiwa naratif yang lain, yang tidak biasa. Kata tersebut menjadi “sebuah dunia”, ruh yang baru atau Chairil Anwar mengatakan “dunia yang menjadi”.

Selanjutnya tanpa menyebut pengalaman personal subjek pertama (penyair), pembaca bisa menemukan pengalaman tersendiri pula dengan larik-larik sajak itu:

Setumpukan daging bergerak p>menyeberang bayang-bayang

mesin jahit

Di ranjang pulas anak-anakku

telah kutempeleng mereka tadi sore

hanya karena alasan yang sepele

Pemintal terkutuk

Pestalah sepuasmu

Beraikan pecahan nafsuku

Setumpukan membusuk

Meleleh sekarat

Dari langit lagit syahwat

Pada saat “setumpukan daging” itu hadir dalam imaji pembaca, lompatan alur dari kata “mesin jahit” ke kata ranjang menjadi matra kosong yang membuka ruang peristiwa bagi pembaca- sesuai dengan horisan harapan yang dimiliki pembaca terhadap kata-kata pada peristiwa pertama. Begitupun sapaan pemintal terkutuk dapat beralih ke wujud lain yang bukan pemintal terkutuk-sesuai dengan pengalaman subjektif pembaca.

Saya kira memang itulah kelebihan sebuah puisi yang dibangun dengan tekhnik psikografi5. Cukup dengan menghadirkan latar sebagaimana halnya setumpukan daging itu, pembaca telah memperoleh rangsangan kreatif sebagai hasil komunikasinya dengan lirik puisi tersebut. Bahkan seandainya puisi itu tidak diteruskan dengan bait-bait lain yang menyatakan kehadiran penyair, bait pertama sebenarnya sudah cukup . Namun tampaknya di sini penyair sekaligus hendak memberi defenisi yang tegas mengenai puisi. Beberapa nilai puisi, mungkin terpenuhi oleh larik-larik pertama tadi. Hanya saja ia lebih tepat dinamakan lukisan sebuah suasana kata-kata.

Sesudah deskripsi peristiwa ada sebuah hal pokok lagi; yakni apa yang hendak dicapai dengan peristiwa dan penggambaran itu. Itu dapat berupa pertanyaan, hikmah, pengetahuan terhadap hal, kemarahan,kegembiraan.dan inti peristiwa yang lainnya. Tanpa ada hal-hal yang menjadi inti peristiwa tadi segala hanya akan menjadi lukisan hampa.

Begitulah keyakinan yang tampak dalam puisi-puisi Frans Nadjira. Dari sini kita dapat menjelaskan kenapa ia selalu mengatakan “melukis itu gampang, sangat gampang, dibanding menulis puisi.”6

Sebagaimana yang telah disinyalir oleh Thomas Hunter jr, semua puisi dalam Sofsot dibangun dengan kecenderungan psikografi yang tinggi. Tadi saya telah mendefinisikannya dengan; lukisan batin mengenai peristiwa subjektif dengan media kata-kata. Alur psikografi SofSoT penuh dengan lompatan-lompatan yang menandakan kualitas kesabaran penyairnya dalam mengelola ilham dari peristiwa ke peristiwa, dari waktu ke waktu. Sehingga sepintas lalu kita tidak melihat hubungan yang serius antara larik yang satu dengan larik yang lain. Tetapi marilah kita ambil contoh bagaimana hubungan yang tidak serius itu sesungguhnya tidak terjadi, seperti dalam puisi P.B:

Musim kupu-kupu

Musim terakhir yang menyapanya

Sebelum berlayar dilaut gerimis

Ia mengenal isak ini

Ia mengenal isak ini, menegaskan karakter larik sebelumnya. Jadi ‘musim kupu-kupu’ yang dimaksud ada dalam pernyataan; ia pengenal isak ini. Atau dengan pernyataan itulah ‘musimkupu-kupu’ menjadi kenyataan. Tanpa “ia mengenal isak ini”, musim kupu-kupu pastilah bersifat fisik belaka (bukan dunia yang menjadi). Sesudah itu diberikan lagi padanan lanjut: warna kemarau dan tepi malam//sampai ke batas paling hening. Bait selanjutnya muncul lagi dengan jarak lompatan yang lebih dekat:

Karena ia peka

Dan tak ada saat lewat

Tanpa menyentuh

Bahagian paling dingin

Dari angin

Bahagian paling asin dari garam

Ujung lidahnya.Buat kita semuanya

Buat kita yang,

Kadang-kadang Frans juga tidak mengabaikan unsur bunyi yang mempertautkan larik satu dengan larik selanjutnya…//bahagian paling dingin//..dari angin // Bahagian paling asing..//Menunjukan suatu proses penciptaan yang mengalir, dan pada pengulangan pengulangan kata:bahagian,paling,ngin, kita menemukan apa yang oleh Thomas Hunter jr disebut sebagai proses automatiking dalam penciptaan.

Kalau diperhatikan proses automatiking pada puisi P.B (seperti juga pada puisi SoFSoT lainnya) bukanlah proses tak sadar, di mana penyair benar-benar kehilangan otaknya sebagaimana yang terjadi pada orang kesurupan. Tidak, sungguh tidak begitu. Bagaimana puisi diakhiri, telah menunjukan secara jelas kalau proses penciptaan bagi Frans Nadjira adalah proses yang sepenuhnya sadar. Imaji dalam puisinya, benar-benar memenuhi pengertian imaji sebagai wilayah kesadaran.

Kini tibalah saatnya mengemukakan bagaimana pengalaman subjektif penyair hadir ke dalam benda-benda, dan nama-nama, serta bagaimana pengalaman itu mengikuti wujud benda-benda, nama-nama itu dalam kehendaknya. Pikiran pokoknya adalah bukan benda benda yang yang memberi makna pada pengalaman subjektif penyair, tetapi ia disebut subjektif karena telah memberi ‘hidup baru’ (…//Aku yang memberi roh//)7 dan makna baru bagi kehadiran benda-benda itu.

Pengalaman subjektif itu seperti zat maha halus yang memberi kehidupan pada semesta. Zat yang dalam literature etnografi awal dinamai Zielestof8. “baturisau” dalam puisi Sutardji Calzoum Bakhrie misalnya, adalah peristiwa zielestof, yakni usaha untuk membangkitkan ‘daya hidup’ yang ada dalam seluruh benda-benda. Zielestof dapat berganti-ganti medium dari manusia ke tumbuhan, ke benda mati, dan seterusnya. Tanpa zielestof tak akan ada semesta puisi, tak akan ada absurditas yang benar-benar membuktikan adanya hubungan individu dengan semesta mati. Zielestof adalah syarat untuk mencipta.

Proses penciptaan selanjutnya ditentukan oleh bagaimana zielestof itu dikelola atau digiring dengan kejujuran dan kecerdasan kreatif, dan tidak semena-mena. Karena penggunaan zielestof yang semena-mena menandakan ketidaksabaran dalam mencipta.

Puisi berikut ini akan membantu kita untuk melihat apakah Frans Nadjira tergolong sabar atau tidak dalam mengelola zielestof itu:

MALAM Sebuah ayunan mengayun gerimis di halaman kriik kriik

Seekor belalang jatuh dari lampu ke rerumputan

Pada sajak MALAM, zielestof itu datang pada sebuah ayunan yang mengayun gerimis di halaman. Ayunan bukanlah peristiwa yang hidup seandainya ia tidak dikatakan – mengayun gerimis di halaman.

Kita memerlukan sejuta jendela untuk melihat seperti apa gerimis di ayun. Bait terakhir sajak MALAM menyatakan keadaan diri penyair seperti seekor belalang yang jatuh dari lampu ke rerumputan. Terang ke kesabaran.

Idiom belalang, lampu, rerumputan, terutama ayunan, tidak hadir sebagai materi pasif. Tapi perlambang – perlambang yang muncul untuk mengangkapkan keadaan person yang menulisnya.

Situasi yang sama ada dalam sajak Mimpi Dalam Demam, Sekawanan Semut dan Siang Di Pekarang. Namun pada sajak Siang Di Pekarangan ”Aku” telah muncul menegaskan dirinya:…Aku angin kering yang bertiup dari arah matahari…Tidak lagi dalam perlambang tertentu.

Sebenarnya, SofSoT dengan 42 puisi yang ada, tergolong miskin dari segi kuantitas penggunaan perlambang. Kita menemukan banyak perlambang ataupun kata yang sama – yang kembali diulang dalam puisi puisi berikutnya. Namun miskin secara kuantitas, bukanlah halangan berarti bagi keutuhan sajak-sajak dalam SofSoT. Semua perlambang itu pada saat digunakan pada sajak yang lain, hadir sebagai peristiwa baru. Jadi tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pengulangan penggunaan perlambang akan menyebabkan pengulangan tema ataupun pengulangan peristiwa.

Memang, kadang-kadang kita merasakan muatan yang sama pada satu kata manakala digunakan pada sajak yang berbeda. Contohnya kata “tidur” dalam Labalaba Di sudut Kamar:

tidur di kamar ini//berarti//berbaring di atas// sungai-sungai bawah tanah//berarti// terhimit//dalam lapisan udara//yang bergetar,dan//sepanjang malam mendengar//suara-suara bertengkardi luar//. Dari segi muatan tidak berbeda dengan horizon yang menyertai kata ‘tidur’ dalam puisi Tengah Malam: Mustahil aku tidur selama anak-anak itu di situ memainkan bayang tubuhnya gepeng seperti wayang

Zielestofnya adalah kondisi asthenis yang menyertai kata “tidur itu. Tetapi peristiwa dan pikiran yang kemudian muncul dari kedua sajak itu ternyata berbeda: kenapa tidak masuk saja!(Laba-laba Di Sudut Kamar)dan “berapa lama kau mengatur//semua ini?// (Tengah Malam).

3. Waktu Eksistensial

Meskipun Dzat penghidup atau Zielestof dalam SoFSoT lebih banyak berwujud penderitaan dan ketertekanan batin, tidaklah berarti kalau Frans Nadjira kehilangan daya kritis, humorik, serta kesadaran akan kekinian bahkan masa datang. Masa lalu dan masa depan dalam SoFSoT hadir menurut porsinya. Justru di situlah terlihat keliarannya. Yakni bagaimana melompat-lompat dari masa lalu ke masa sekarang tanpa harus terikat pada aturan-aturan diakronis. Hidup bagi Frans Nadjira sepertinya hanyalah sebuah mimpi panjang yang benar-benar terjadi, dan ia menyelam ke masa silam dengan bahasa masa kini. Ada di masa kini dengan pengalaman masa silam. Begitu sadar dalam keliaran, dan begitu liar dalam kesadaran.

Waktu bagi dia terhampar seperti sungai Missisipi yang mengalir di belakang berbagai wujud perubahan dan pergantian. Sebuah waktu eksistensial, di mana seseorang tidak diperangkap oleh tiga segi dari waktu itu; sudah, sekarang, dan nanti, tetapi menjadi pusat bagi sintesa dialektis dari tiga segi waktu.

Waktu bagi dia hanyalah: “bayangan yang saling tindih menindih dalam kaca”. Sesudah itu yang penting: “ minum//baru sejam lalu aku meminta//kartu nasibku pada sebuah kotak//es krim//..//baru sejam lalu aku bicara dengan seseorang tentang borobudur//tentang bumi yang tak ceper//..//tentang mereka yang di suatu tempat// tapi tak lagi memiliki tempat//…//tentang salju dan angin puyuh//tentang roh,kelahiran,nasib,dan kematian//

Semua yang telah terjadi ada kembali dalam medan yang sama; imajinasi, di mana waktu dan ruang hanya “selaput yang dapat ditembus”, layaknya pesawat luar angkasa menembus atmosfir bumi, untuk lebih jauh memotret keluasan semesta. Tapi apa yang didapatkan setelah itu? keluasan yang telah diperlihatkan kepada penyair itu ternyata baru setitik air di lautan penciptaan yang maha luas.

Seorang Frans mendapatkan absurditas sebagai takdirnya, bermula dari : “diriku yang retak bagian dalamnya//dan selalu ingin menjenguk keluar” hingga iapun sampai pada keterbatasan absurditas itu sendiri:

Aku yang memberi hidup Aku yang meniupkan roh Aku yang menyeberang di siang Lengang Aku yang menyebereang bayang-bayang Tapi nyatanya Aku tak pernah tahu Kapan aku lahir dari rahim yang mana Dan begini jadi orang yang sukar Akrab dengan diri sendiri.yes,I’m crazy Memang But I’m not a suicidal person

Saya rasa, ini bukanlah ungkapan yang frustasi untuk menemu. Tetapi sebuah kesadaran mencipta yang rendah hati, yang tak akan sampai-sampai. Pada Sutardji Calzoum Bakhrie kesadaran yang sama muncul dalam ungkapan: walau penyair besar, tak kan sampai sebatas Allah.

Hanya saja Sutardji dalam mengatasi keterbatasan seperti itu, kemudian menciptakan medan bermain yang lain. Yaitu kata sebagai mantra. Sehingga tanpa beban dia mengungkapkan: bagaimana penyair sampai kalau kata tak sampai?” Sutardji ditolong konvensi bermain dalam seni. Dalam hal ini dewa penolongnya adalah puisi Indonesia purba (yang menurut dia) adalah mantra, yang mengandung zielestof pada bunyi.

Mantra tidak diikat oleh suatu pengertian normatif, tapi mantra memiliki kekuatan bunyi. Itulah yang menjadi medan permainan Sutardji. Mantra digunakan dengan modal keyakinan pada kekuatan mantra itu. Tidak perlu ditambah dengan pengetahuan akan isi mantra itu.

Berbeda sekali dengan Sutardji, Frans Nadjira tidak berniat membuka medan permainan baru sebagai kompensasi atas keterbatasan absurditas tadi. Dia tidak menjadikan puisi sebagai sarana pelepasan dengan menciptakan sebuah medan bermain seperti yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bakhrie. Tidak pula sebagai sarana pengaduan atau tempat berkeluh kesah.

Puisi baginya adalah proses defragmenting yang terus menerus menerus. Tampak jelas bagaimana ia berupaya untuk mencari pengertian yang lebih mendalam pada setiap peristiwa yang dialaminya, menyusunnya dan berusaha mengungkapkannya dengan bahasa sublim.

Di sini terasa sebagai peristiwa yang sakral, karena penyair seolah-olah sebagai nabi yang tak henti-hentinya menyelam dan menyampaikan kebenaran yang diwahyukan kepadanya. Penyair menerima ilham, dan menanggungnya sebagai amanah yang harus dijaga sekuat-kuatnya. Jadi di sini kita dapat membedakan ciri yang tegas antara sajak Frans Nadjira dengan puisi bagi Sutardji Calzoum Bakhrie. Bagi Sutardji, puisi berpusat pada kata: datang dari kata, kembali pada kata, dan penyair hanyalah medium tempat kata-kata itu mengalir, seperti yang pernah ia tulis dalam sebuah edisi di majalah Horison. Sedang bagi Frans Nadjira segala-galanya berpusat pada manusia.

Ini sekaligus menegaskan ideologi humanisnya; karena kata hanya milikku ,cahaya darimu, aku yang meniupkan roh, aku yang memberi hidup, aku yang menyeberang di siang lengang,..”Aku” adalah sumber kehidupan semesta itu.

4. Peta,Ruang Mistik?

Sebuah ruang dikatakan mistik karena jalan-jalan dan tatanan dalam ruangan itu tertuju kepada kenyataan yang paling rahasia dari semesta. Seseorang yang pernah mengalami trance ataupun pernah mengalami proses automatiking dalam melakukan hal-hal tertentu tidak serta merta dikatakan memiliki perilaku mistik atau seorang mistikus. Bila para sufi seperti Jalalludin Rumi atau Hamzah Al Fanshur digolongkan sebagai penyair mistik, itu tidaklah karena Fanafi’illah (leburnya jasad ke dalam Ke Ilahian) yang mereka alami belaka. Tetapi lebih pada pencerahannya pada proses menuju Fanafi’illah itu, menuju kenyataan yang paling rahasia dari semesta itu.

Saya menyebut kenyataan, karena kenyataan di dalam mistik bukanlah angan-angan belaka, dan dengan sifat itu kenyataan mistik serta merta menafikan apa yang tdak nyata dan tidak pasti. Absurditas tidak ada di dalam mistik, karena absurditas dibangun di atas ketidakpastian. Satu hal lagi, seorang yang mistik tidak memiliki ‘mata yang lain’ selain hasrat untuk mencapai kenyataan gnostik itu.

Dia tidak hendak mengetahui, mencapai, menginginkan atau menjelaskan apa-apa selain yang membantu menuntunnya ke arah kenyataan yang paling rahasia itu. Seorang mistik adalah Al Hallaj yang buta karena cinta. Dalam tradisi mistik para sufi Islam, kenyataan yang paling rahasia itu diikat oleh satu sebuat:Allah-Hu.

Begitulah sajak-sajak dalamSoFSoT tidak menunjukkan kecenderungan mistik yang kuat. Penyairnya tidak terlihat sebagai orang yang bersedia ‘buta karena cinta’. Sebaliknya, matanya adalah mata elang yang menyala tajam saat terbang mengintai mangsa di bawah rerimbunan dan semak tanah.

Ia tidak sedang jatuh cinta kepada apa-apa, sekalipun ia memiliki rindu. Dan berbeda dengan remaja yang merindu, ia tdak dibawa terbang oleh rindu itu, tetapi berusaha mencari tahu dan mengungkapkan kenapa harus merindu. Jika boleh dibandingkan, ia memilih tidak “membubung dalam baris kata sajak”, tetapi lebih suka mencari tahu kenapa ia mesti membubung di situ.

Kenyataan yang terungkap dalam SoFSoT sebenarnya hanyalah persoalan-persoalan sehari-hari yang menjadi unik karena dikatakan dengan pengalaman subjektif penulisnya. Di sinilah saya kekeliruan Thomas Hunter Jr yang mencoba melihat kecenderungan mistik pada proses penciptaan puisi-puisi Frans Nadjira.

Saya sendiri lebih tertarik pada pandangannya soal kemampuan sebuah puisi untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain, yang oleh A.l Becker disambut dengan “seperti membaca dari kejauhan, sebuah asklepiad”. Istilah asklepiad itu sendri mengingatkan kita pada konsentrasi yang begitu penuh kecermatan dan kecemasan, tetapi sekaligus juga keahlian spesifik.

Sajak-sajak Frans Nadjira memiliki build character yang khusus; yaitu kecenderungan untuk menghadirkan rangkaian peristiwa dalam uraian yang gamblang dan spesifik. Kecenderungan yang biasanya dimiliki oleh seorang saintis.

Dan itulah yang hendak saya katakan. Frans Nadjira dalam SoFST lebih mirip seorang ahli fenomonologi ketimbang penyair perindu, seandainya dia tidak memiliki kekuatan pengungkapan puitik yang khusus.

Seperti laba-laba dia menebar jaring, dan dengan jaring itu dia membuat peta mengenai peristiwa-peristiwa yang dialami dan dipikirkannya secara seksama. Peta itu dimulai dengan intuisi, untuk seterusnya diper-alam-kan, hingga dia bisa meletakkan titik-titik pemberangkatan dan tujuan dari setiap wilayah dalam peta itu.

Memper-alam-kan watak yang fenomenologis, dia datang menceburkan diri dan menggunakan seluruh akal budinya dalam wilayah yang tampak dalam intusi awalnya.

Dari situ dia lanjut ke proses menemukan, bahkan membangun makna spesifik dari peristiwa-peristiwa tersebut. Dengan memperalamkan itu berarti dia menjadi pelaku bagi peta yang dibuatnya, sehingga apa yang hendak dia ungkapkan dalam peta itu tidak menjadi rangkaian teoritis sebagaimana halnya seorang evolusionist menguraikan teorinya.

Frans Nadjira sungguh-sungguh tidak dapat menahan keinginannya untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai bukan tergolong pengkhayal belaka, peniup buluh perindu belaka ataupun seorang pemikir eksak. Dia ada di tempat yang menjadi lintasan dari semua kebiasaan tadi.

Seperti kalian kamipun bergerak di bawah langit.Kami memiliki kediaman pancang arah angin di atas bukit//…//Cuma kami tiada membutuhkan air untuk pesawahan//…"

Dengan begitu dia telah memberi garis antara proses bekerja dalam dunia sehari-hari dengan proses bekerjanya sendiri dalam puisi. Penggarisan itu bisa terjadi disebabkan oleh takdir mitologik yang diterimanya, yaitu absurditas. Sekedar mengulang, absurditas di sini adalah sebuah eksistensi, yang dibangun berdasarkan kesadaran akan ketidakpastian absurditas itu.

Sebab kami dalam cahaya,bergetar di udara yang Mengalir,muncul dari dalam keheningan, Pusat dari tiada, tempat semua bakal kembali Di mana tak menyusup lagi hawa nafsu,yang Dihembuskan lewat bilik hati yang lain

Hadirnya kata ‘cahaya’ dalam puisi ini tidak dapat dipersamakan dengan cahaya dalam baris baris puisi mistik Rumi, misalnya. Karena cahaya di sini adalah pengungkapan ketidakberdayaan sekaligus kesadaran untuk memilih menerima takdir mitologiknya, yaitu absurditas.

Hei,kalian yang di bawah yang hidup dalam jasad yang hidup dalam api: Seekor burung tak lagi dapat menelan air liurnya, tak lagi dapat mengepakkan sayapnya. Karena kekal menelan tanpa liur Mengepak tanpa sayap.”

Akhirnya untuk melengkapi pengetahuan kita mengenai wilayah estetik sajak-sajak Frans Nadjira, kita mesti pergi ke sebuah ‘perayaan natal’ dan menjadikan seluruh properti perayaan tersebut sebagai metafor pencapaian estetika sajak-sajak dalam SoFSoT.

Estetika di sini berarti biografi perjalanan batin Frans Nadjira yang menemukan titik ungkapnya pada sebuah lanskap Natal.

...//Olele perih paku berkarat Tirai tipis di usiamu yang kelimapuluh dua Adalah buih laut juga.Adalah pembaringan juga//...

Sebuah pencapaian yang skeptis mungkin. Itulah mungkin akhir dari semua perayaan, akhir dari semua gemerlap yang ada pada lanskap Natal. Namun, kesadaran humanisnya yang kuat telah memberi makna bagi perasaan skeptis itu. Seperti terungkap dalam Sajak Malam Natal.

B.

1 Thomas Hunter jr, dalam pengantar antologi puisi Springs of Fires S[prings of Tears.

2 Apa itu Pengarang? Obor,2000

3 ibid,hal 197

4 intermesa,1992

5 penyebutan psikografi mengikuti pandangan Thomas Hunter Jr,pengantarSofSot

6 ibid,pengantarSofsot

7 Missisipi

8 Ac Kryut(1869-1949),Het animisme in den indischen archipel(1906)

" hal.40

B hal 109


Lanjuuuut...

Surat-surat Yang Pernah Tak Terkirimkan

28 Oktober 2002,

Kekasihku, Jalan ke Paddy’s dan SC masih ditutup hingga hari ini. Kuta masih lengang dari tamu, dan koran-koran lokal masih merayakan kesedihan atas peristiwa 12 Oktober lalu. Orang-orang masih menunggu perkembangan penyidikan tragedi ini selanjutnya. Tapi tampaknya tak ada kemajuan. Kerjasama intelijen Indonesia dengan intelijen asing untuk mengungkapkan kasus ini sepertinya gombal belaka. Terakhir diberitakan di media massa kalau sembilan orang veteran perang Afganistan menjadi tersangka utama pelaku pengeboman di Legian. Mereka diindikasi sebagai anggota Al Qaeda yang memiliki kontak dengan Jamaah Islamiyah di Indonesia. Berita ini sebenarnya sangat tidak nyaman bagi kebanyakan orang Islam. Karena Jamaah Islamiyah itu kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti orang Islam. Demikian seorang peneliti dari LIPI menulis di sebuah harian nasional. Saya sendiri dalam hal ini lebih suka mencari sumber berita yang dapat menyenangkan hati saya. Yaitu analisa dan keyakinan saya sendiri. Bukan karena sentimen keislaman saya tersentuh oleh tuduhan terhadap Jamaah Islamiyah itu, tapi karena saya pikir dengan menjadikan Jamaah Islamiyah sebagai tersangka utama pelaku pengeboman di Kuta, pemerintah sebenarnya telah membenarkan secara legal opini umum pers Barat (AS dan sekutunya) yang selalu melihat dunia Islam sebagai ancaman selama ini. Padahal siapapun tau, bahwa masalah terorisme tidak muncul semata-mata sebagai sebuah kejahatan yang tiba-tiba. Ada sejarah panjang ketidakadilan yang mendahuluinya.

Bom-bom bunuh diri yang selalu terjadi disepanjang jalur Gaza, misalnya, mungkin sudah berhenti seandainya AS tidak terus menerus mendukung kezaliman tentara Israel terhadap warga Palestina. Begitupun bentuk-bentuk perlawanan lewat teror yang lain, tidaklah dapat diselesaikan dengan perintah membasmi teroris belaka. Namun mesti menyentuh ke akar penyebab terjadinya bentuk-bentuk perlawanan seperti itu. Terorisme sendiri, sebenarnya bukanlah mekanisme perlawanan yang berasal dari dunia Islam. Sepanjang pengetahuan saya, terorisme itu pertama sekali dimulai oleh para pengikut Trotsky di Rusia saat menghadapi rezim komunis Stalin ketika itu. Mereka populer dengan sebutan Red Army.

Red Army itu selanjutnya berbasis di Italia dan Jepang. Hanya saja di awal kemunculannya itu sasarannya bukan tempat-tempat umum, melainkan pabrik-pabrik yang menjadi simbol kepemilikan kuasa yang mereka lawan. Dan sebisanya menghindari korban manusia. Sekarang terorisme telah menyasar pusat-pusat keramaian. Dalam teori disebut sebagai sasaran lunak. Orangpun menilainya sebagai gejala keputusasaan yang hebat dan merupakan cara terakhir untuk melawan. Lebih banyak yang membencinya. Tapi ada juga yang membenarkannya, karena terorisme dilihat dari terminologi perlawanan.Di luar itu ada juga teori yang mengatakan terorisme sesungguhnya adalah kreasi dari penguasa yang mengalami teror. Menurut cara pandang ini yang populer adalah Noam Chomsky. Amatlah susah menentukan mana yang paling objektif dari semua teori terorisme yang pernah ada. Namun semuanya sepakat bahwa sasaran utama sebuah tindak teroris adalah kecemasan dan rasa takut pada kematian. Dengan begitu teroris menarik perhatian dunia supaya tuntutan tuntutan mereka diperhatikan.

Atas alasan ini juga sejumlah negara merasa perlu membuat undang anti teroris yang sangat keras. Namun dengan undang itu juga negara menebar kematian di banyak daerah pendudukan. Namun sejarah manusia selalu bergerak menurut kehendak mereka yang kuat. Kita hanya bisa menjadi saksi bisu atas semua itu. Tetap bertahan sebagai saksi yang diam juga sudah untung. Kebanyakan dari kita malah larut menuruti kehendak si Kuat itu. Bahkan dengan cara yang latah dan ironik. Inilah yang hendak saya ceritakan padamu.

Dan saya memulainya dari sini, Hampaku. Dari sebuah paradiso Indonesia bernama Bali, yang pada awal abad dua puluh telah direncanakan sebagai tempat peristirahatan dan penyehatan mental manusia di zaman modernisme. Sejak saat itu sebenarnya Bali adalah sebuah gelas anggur yang digenggam oleh tangan raksasa bernama Kapitalisme. Dikendalikan dari sebuah meja kristal di pusat bisnis dunia, dan dijinakkan sedemikian rupa sesuai kehendak tuan tuan kapital yang duduk melingkari meja itu. Sementara orang Bali tetap merasa Bali adalah milik mereka. Itulah sebabnya mengapa modernisasi di Indonesia seperti tidak menyentuh mentalitas kehidupan tradisional orang Bali sampai awal abad ke dua puluh satu ini.

Exotisme dan romantisme tetap menjadi denyut utama kehidupan tradisional mereka. Bahkan ketika sekolah-sekolah dibangun, pasar rakyat lenyap digantikan mall dan circle, dan jalanan dipenuhi oleh berbagai jenis kendaraan berbagai merek produk termutakhir. Kajian-kajian kesarjanaan diarahkan untuk memelihara exotisme dan romantisme itu. Study-study kebudayaan dijalankan dalam sebuah program bernama heritage culture. Dengan heritage culture itu, dikembangkan suatu image tentang daya tahan kultural menghadapi gempuran globalisasi.

Kebudayaan pada akhirnya cukup menjadi tontonan, festival festival yang meriah, dan yang penting tetap menghasilkan dolar. Terhadap generasi muda yang membangun cara hidup sendiri, sesuai dengan jiwa zaman yang mereka miliki hari ini, diberikan nilai minus. Lewat mereka para penulis bercerita tentang “Bali yang hilang”, tradisi yang terampas, dan sejenisnya. Apalagi dikuatkan oleh realita, dalam gaya hidup generasi muda itu menyelip drag, narkotik, dan jarum jarum yang membunuh.

Realita seperti ini terus menerus menjadi kambing hitam dan menguatkan alasan orang untuk terus hidup dalam tradisi adiluhung mereka yang penuh moral, santun, ramah, gemah ripah, hah,... Sementara orang-orang terus saja mengkonsumsi produk produk hp terbaru dan makan di restoran-restoran kelas satu. Banyak yang melihat kenyataan hari ini sebagai paradoks manusia Bali. Jiwa yang terbelah dan sepertinya tak seorangpun luput dari kenyataan itu. Dan itu terus berlangsung. Bahkan ketika bom pemusnah massal diledakkan di Legian Oktober lalu, kenyataan yang sama tak akan berubah. Sungguh tak akan berubah. Kecuali mungkin orang terkejut sebentar, dan sedikit pelit terhadap nilai belanja mereka selama ini.

Tidak ada apa-apa di sini, Semua akan tetap berlangsung dalam kenihilan. Karena realitas global yang saya ceritakan padamu memang hanya memberi kita satu nilai; yaitu kenihilan itu. Itulah sebabnya kenapa tak ada reaksi yang terlalu berlebihan dari warga Bali sendiri. Apabila kamu lihat di sepanjang jalan di Kuta para pecalang bersiaga penuh semenjak pengeboman, itu bukan karena pecalang tersebut mewakili keadaan psikologis warga Bali yang sebenarnya. Tapi karena pecalang itu hanyalah alat bagi sebuah komando yang lebih tinggi, yaitu aparat keamanan. Dan aparat keamanan adalah alat dari komando yang lebh tinggi lagi, yaitu investasi.

Jadi semua reaksi yang timbul atas peristiwa pengeboman tersebut digerakkan oleh sebuah energi materialistis yang mendominasi hajat hidup orang Bali selama ini, yaitu investasi. Karena itu tak usah heran, apabila orang yang pertama sesengukan di muka umum (selain keluarga korban) adalah mereka yang investnya porak poranda oleh pengeboman itu. Juga tak usah heran apabila banyak kaum selebritis Indonesia rame-rame datang membuat pertunjukan di Bali dan mengibarkan bendera damai, melagukan kesedihan,... Semua itu bagi saya terasa palsu. Sebab saya tahu sendiri, tidak ada damai dan tidak damai di sini. Bom hanyalah bagian yang harus lewat dalam hidup orang di Bali, sebagaimana peristiwa-peristiwa lain terjadi.

Memang, masyarakat adat Kuta khususnya, mengadakan persembahyangan bersama yang disebut “tawur agung”. Tapi itu mesti dilihat dalam konteks spritualitas lokal, yakni untuk membersihkan jagat dari leteh akibat peristiwa tersebut, supaya arwah para korban tidak mengganggu, dan (ini adalah bagian yang sangat penting) agar kepercayaan dunia kembali terhadap Bali. Jadi nilainya masih berbasis investasi dolar.

Bukan maksud saya untuk melecehkan hajat sprituil masyarakat itu. Tetapi kenyataannya, seluruh tradisi spritualitas kita hari ini memang mesti diperiksa kembali. Karena disitu telah sejak lama menyusup tangan-tangan lain di luar dimensi spritualitas itu. Tangan-tangan raksasa kapitalisme, hamba kenihilan.

Kekasihku, Atas alasan itu juga saya tidak berdoa untuk mereka yang mati. Dan saya menolak membaca puisi dalam acara damaimu dengan kaum selebritis itu. Bukan karena saya tak ingin membaca puisi untukmu. Tapi karena saya tau, sebuah panggung pada hari ini akan memperpanjang tontonan kecemasan akibat peristiwa teror itu. Seperti kamu, sayapun menangis. Dan saya kira itu sudah saya alami jauh sebelum bom meledak di Kuta. Ada luka di mana-mana,. Tidak hanya di sini.

Tapi dalam keseharian kita yang melelahkan. Di sudut-sudut kota, di daerah-daerah pendudukan,...kenapa orang-orang tak menjerit-jerit untuk mereka? Kenapa tidak ada pernyataan nasional untuk berkabung bagi kekejaman tentara di daerah-daerah pendudukan? Bagi kejahatan modal yang mengeksploitasi sumber-sumber alam, tetapi hanya mendatangkan penderitaan panjang penduduk di daerah yang dieksploitasi itu?

Seperti kamu, saya menangis,. Dan saya merasakan kengerian yang lebih dahsyat dari sekedar yang diberitakan di koran-koran. Bukan saja kengerian untuk hidup sekelompok warga di pulau ini. Tapi kengerian yang meliputi semesta hidup ke depan nanti. Bisakah kamu membayangkan bila suatu hari tak ada pembicaraan apa-apa lagi tentang apa-apa? Saat sesuatu disampaikan tanpa kata-kata lagi, sebagai wujud frustasi atas tuntutan yang tak terpenuhi, dan itu dihadapi dengan cara yang sama kerasnya?

Saya bicara tentang keputusasaan, berarti saya juga bicara tentang kemarahan. Tentang teror, tentang ketidakadilan, dan hilangnya rasa percaya antara satu kelompok dengan kelompok lain, antara seorang dengan seorang yang lain, antara yang kaya karena makan di atas punggung mereka yang miskin... Namun saya tidak akan menangis di atas panggung bersama dengan para penari penari topeng itu. Saya lebih suka bersembunyi dan diam, menyendiri seperti bintang malam yang tak kelihatan. Dengan cara itulah saya bertahan dari bah zaman selama ini.

Di Bali, di mana waktu lewat bersama buih-buih alkohol yang sirna di bawah gemerlap lampu lampu cafe, dan jiwa bertahan dalam pusaran yang tak pernah diam, ironi siang malam,.... Hingga saya menemukan jasad dan ruh saya menjadi dingin. Beku seperti bongkahan es di negeri yang tak ada matahari. Dan pelan-pelan saya mulai merasakan betapa nihilnya kenyataan itu,...

2

Kubutambahan, November,...

Bisakah kita berdamai, Hampaku? Mumpung hari ini semua orang lagi mabuk perdamaian. Dan tidak ada project yang lebih besar harganya dibanding perdamaian itu sekarang. Damai telah menjadi sebuah point paling populer dalam medan kebudayaan hari ini di Bali. Kadang ada yang mengaku beruntung tinggal di sebuah pulau yang selalu menjadi titik point seperti Bali, meskipun itu kadang hanya ilusi orang-orang pulau itu sendiri.

Hingga pertengahan November ini saja ada tiga ungkapan populer yang diringi kata point - zero point, Bali Peace Point, Bali pis point,.. Entah apa arti kata point itu. Tapi mungkin identik dengan “peringatan”. Sedang kalau dilihat dari nilai projectnya mungkin bisa berarti “keberuntungan” atau bisa juga kesempatan dalam kesusahan. Sehingga istilah Bali Peace point misalnya sering diplesetkan oleh masyarakat menjadi Bali Pis Point. Bedanya sangat menyolok. Pis pertama adalah pis beneran, dari bahasa Bali dan berarti uang. Sedang peace berikutnya adalah pis beneran juga, dari bahasa Inggris, artinya damai dan sebagai sebuah... (sayapun tak cukup tau apa namanya) tapi mungkin semacam lembaga sosial juga – dideklarasikan pada tanggal 26 Oktober 2003 oleh sejumlah selebritis dari Jakarta dan Bali.

Di singkat Bali Peace Point. Dan damai adalah uang! Kata peace dan kata peace yang lahir dari dua daerah kebudayaan dengan latar belakang kebudayaan yang sangat berbeda jadi nyambung belakangan ini. Perbedaan Timur-Barat, kaya-miskin, Indo-Melayu, bersatu padu merapatkan barisan dalam satu semboyan “damai adalah uang!” Siapa yang tidak cinta uang, Hampaku?

Susah mencari orang yang benar-benar menolaknya, sesusah mencari orang yang bisa benar-benar. Apalagi tipe manusia yang terbiasa hidup dengan kebutuhan tinggi dan terbiasa bekerja dengan kadar intelektualitas serta kesadaran project tingkat tinggi pula. Sebagian dari mereka adalah para konseptor pembangunan dan perubahan sosial. Dalam hubungan dengan pemerintah, sebagian mereka bekerja dengan metode kooperatif – kadang mereka menyebutnya partisipasi.

Sebagiannya bekerja secara radikal – tidak kooperatif dengan pemerintah – tapi memberi laporan pada lembaga pendukung dananya. Tapi sudahhlah. Keadaan serupa hanya ironi yang biasa. Kita manusia, lahir dengan kodrat yang paradoks dan tidak konsisten. Beda maksud dengan perbuatan, di bawah tapi di atas, ngono tapi ora ngono...Itulah sebabnya mengapa kata-kata menjadi tidak berisi seperti butir padi hampa. Termasuk kata ‘damai’ itu.

Tidak berisi, tapi banyak yang membelinya. Damai begitu laris dan menurut perkiraan saya masih akan laris dalam bulan-bulan ke depan. Pemerintah mungkin sedang berpikir pula untuk membelinya ataupun menjualnya. Karena sekarang mereka sedang dipanikkan oleh agenda recovery mereka yang ternyata – masih banyak tempat kosong, karena mereka sebenarnya tidak tahu apa yang mestinya dilakukan dengan agenda yang mereka bikin sendiri.

Kondisi ini memberi peluang pada sejumlah aktivis komersial yang memiliki otak dan pengetahuan untuk menyusun strategi serta program kerja berkaitan dengan pemulihan Bali di segala bidang. Meskipun kalau ditanya benar apa yang harus dipulihkan dan kenapa dipulihkan? Pasti mereka bingung sendiri. Kalau mereka menjawabnya itu berarti mereka berdusta. Dan itulah salah satu pencapaian terpenting dalam medan kebudayaan yang tidak konsisten seperti sekarang, yakni metode mengelola dusta. Tapi bisakah kita berdamai, Hampaku? Saya harap akan banyak jalan ke sana.

Sebanyak jalan ke – Kubutambahan. Dan kita tak perlu tergesa-gesa...

(3) Desember, 2002

Kamu bertanya padaku tentang penyu. Aku bacakan sebuah puisi

aku akan menemu burung-burung dan penyu membangun sarang…// air laut pasang…//aku berteriak dengan suara bisu//…(Sindhu Putra,1996)

Dan seperti yang telah kau dengar, beberapa ekor penyu mendarat di pantai Kuta, bulan Oktober 2003 lalu (beberapa hari sebelum bom menghancur Paddy’s dan Sari Club). Ini sebenarnya adalah peristiwa yang aneh. Karena areal pantai Kuta bukanlah zona lazim pendaratan penyu. Namun masyarakat meresponnya biasa saja. Tidak ada yang aneh dari situ. Tentu akan berbeda keadaannya apabila peristiwa ini terjadi lima puluh tahun atau seratus tahun yang lalu, saat masyarakat di Kuta dan di Bali umumnya masih hidup dengan kultur semiotika yang natural dan sangat responsif terhadap gejala sekecil apapun dari alam. Namun sekarang adalah milenium.

Penyu itu hanya menarik bagi kebanyakan aktivis lingkungan (karena dapat menjadi proposal project baru untuk perdamaian pasca bom), tidak menarik lagi bagi warga Bali. Dia telah menjadi masa silam atau bagian dari apa yang oleh Arjun Appadurai dikatakan sebagai they are part of not irretrievably of our world.

Penyu itu telah kehilangan medan tandanya. Kebudayaan tak lagi memerlukannya sebagai sebuah medan tanda yang penting dalam dinamika yang sedang berlangsung - sebagai sebuah firasat, akan sebuah kejadian yang akan datang. Karena ada banyak tanda-tanda lain. Yang lebih canggih, dan supersonik. Yakni semua tanda di era cyberspace, yang dapat dimasuki dan dipanggil sewaktu-waktu dengan sekali klik pada tombol dan daftar menu yang tersedia. Dan Kuta, hari ini (setidaknya hingga sang penyu melabuh) adalah perkampungan internasional yang gemerlap, transaksi jutaan dolar, dan di balik dinding temboknya yang urakan terdapat sorga hidup yang mahal, namun sangat jauh dari mimpi si miskin.

Sekalipun orang masih melihat dilangsungkannnya rangkaian demi rangkaian festival tradisional yang banyak menggunakan instrumen kebudayaan natural, itu tidaklah alami terasa. Karena semuanya merupakan reproduksi tradisi yang terus menerus. Di permukaan memang tampak sebagai pesona daya tahan kultural yang hebat , namun sisi dalamnya tak lebih dari pengulangan pengulangan yang hampa dari makna.

Sangat menjenuhkan. Semua tanda telah mati semenjak Kuta (baca, Bali sebagai primadona pariwisata) didesain sesuai kebutuhan kultur kapitalisme mutakhir. Dan tidak seorangpun yang selamat dari situ. Tapi bagaimana dengan Sang Penyu (jika ia dipahami sebagai sebuah medan tanda) tetap bertahan? Kita bicara tentang daya tahan di sini. Daya tahan sebuah medan tanda dalam lenyapnya “perhatian” dan “kepercayaan”.

Dua hal yang harus ada untuk menyambung kehidupan sebuah medan tanda, ruh bagi sesuatu. Karena kemunculan Sang Penyu ternyata berbarengan dengan kemunculan tokoh penting zaman ini, Imam Samudra dan kelompoknya.

Dengan itu Sang Penyu sesungguhnya mengukuhkan eksistensi kulturalnya sebagai sebuah medan tanda. Bahwa ia, dengan tubuhnya yang dingin, tidak kehilangan kebenaran. Sekalipun telah kehilangan perhatian dan kepercayaan. Bukan karena kita percaya atau tidak percaya pada laporan kepolisian bahwa Imam Samudra dan kelompoknya adalah pelaku utama pengebomam Kuta dan punya kaitan dengan jaringan teroris internasional, tapi karena konspirasi yang membuat mereka jadi bintang itu. Di mana menurut Radhar Panca Dahana (Kompas,Nov/2002) konspirasi terhadap wacana terorisme pada akhirnya benar-benar meneror hidup kita sendiri, oleh karena energi kita tertumpah untuk itu. Dan baik pihak yang meragukan maupun pihak yang sengaja menghembuskan bahaya teroris di Indonesia itu sama-sama turut menjadi konspirator.

Terorisme dalam bingkai konspirasi ini, tidak lagi menjadi semacam bentuk perlawanan murni sebagaimana awal kemunculannya. Tapi lebih sebagai percikan noda yang ditumpahkan di muka kita di permulaan milenium ketiga ini, dan setiap kita bercermin noda itulah yang tampak melumuri wajah kita. Dan dalam ironi yang dikemukakan Radhar panca Dahana, kita bukannya menghapus noda itu, tapi makin mempertebalnya dengan sejumlah tindakan lewat slogan – anti terorisme yang marak belakangan ini.

Kekuatan apa yang bisa melakukan itu? Tak lain adalah kekuatan imajinasi yang diwujudkan dengan kapital dan kekuasaan. Konspirasi kapital dan kekuasaan ini tidak hanya melampaui batas-batas politis regional, tapi juga batas batas kenyataan dan impian manusia. Dia muncul sebagai kekuatan utama yang mencengkram dunia, dan sangup merekayasa apa saja. Sang penyu muncul sebagai sebuah titik yang dingin dan mencoba menarik perhatian dalam rekayasa kenyataan seperti itu. Sementara di garis yang berbeda Imam Samudera muncul di titik yang panas, juga untuk menarik perhatian atas kenyataan yang sama. Dua-duanya membuka selubung semiologis yang selama ini menyelimuti dinamika terakhir kehidupan kita, tapi tak sungguh-sungguh kita baca.

Dengan kata lain, ada yang terhinakan dan terlupakan, kemudian mencari jalan untuk mengungkapkan perasaan keterhinaan itu. Hanya saja dengan energi dan pengungkapan yang berbeda. Bila sang penyu muncul dengan energi mitologis yang natural dan bersahabat, maka yang satunya lagi muncul dengan energi kengerian, akibat dari rasa frustasi yang telah dialaminya selama ini.

Kehidupan, dalam satu bulan yang sama telah menunjukkan gerak yang paling dialektis. Menimbulkan kegamangan pada mereka yang membaca dan memikirkannya (bagaimana menentukan benar dan tidak benar dalam kondisi itu?), rasa ambigu, dan pada titik yang positif, juga membangkitkan insting untuk memilih sebuah jalan yang lain sama sekali, setelah semua jalan selama ini ternyata tak cukup laik.

Demikianlah kalau kita menuruti alur pikiran Michael Bakunin dalam God and State, insting sesungguhnya tidak hanya menegaskan dimensi universal kemanusiaan, tetapi juga menjadi jembatan yang mempertemukan dimensi kemakhlukan antara manusia dengan makhluk lain seperti hewan. Insting adalah permulaan untuk membuka sebuah relasi natural yang memadai. Sehingga kita memiliki kepekaan natural, dan dapat mengambil tindakan waspada, tepat, dan bijaksana, atas interaksi dengan tanda-tanda alamiah di sekitar kita. Namun ini adalah milenium ketiga, era cyberspace (bahkan postcyber,mungkin).

Di mana tanda-tanda berakhir sebagai seperangkat ikon yang baku, eksploitatif, dan tunduk pada otoritas mekanis penggunaan tanda itu. Oleh karenanya tidak bisa didekati dengan insting. Proses-proses kultural yang berlangsung telah membunuh insting sebagai sebuah syarat utama untuk mencapai kepekaan natural itu, sebagai jembatan yang dapat menghubungkan manusia dengan tanda-tanda alamiah di sekitarnya. Akibatnya semua kreatifitas yang berlangsung menjadi anti dialog, karena sepenuhnya bergantung pada otoritas subyektif pengguna tanda.

Masalahnya, kreatifitas tersebut pada kenyataannya lahir untuk menghancurkan dirinya. Padahal seharusnya dalam sebuah kreatifitas kita menemukan pencapaian, bukan penghancuran belaka. Terorisme adalah contoh kreatifitas mutakhir yang telah dibuat di era konspirasi sebagaimana diuraikan tadi. Contoh yang sangat buruk dan menakutkan. Lebih menakutkan lagi seandainya kita tidak melihat ada pilihan lain. Aku tidak tau, apakah untuk menentukan pilihan lain itukah sang penyu hadir.

Atau mungkin ia hanya sekedar datang sebagai sisa-sisa ingatan mitologis dalam perjalanan kultural kita yang sedang mengalami pembusukan di segala lini ini. Namun paling tidak dia telah muncul sebagai sebuah medan tanda yang perlu “perhatian”, sebelum kejenuhan kita kepada zaman berkembang menjadi tindakan-tindakan yang tidak dialogis. Kalau tidak, lama-lama sang penyu yang bertapa di dasar lautpun bisa belajar bikin bom… Bisakah kamu membaca tanda yang kukirimkan bersama cemas di dagingku….? 4 Akhir tahun, 2002,Ubud Mereka masih bicara padaku tentang peradaban. Yaitu omong kosong. Tapi mereka menyebutnya pesona. Lalu mereka mendirikan panggung, sejumlah forum retorik, menyelenggarakan festival, dan mengarak omong kosong mereka di jalan-jalan kota.

Sementara hari-hari semakin payah bagi mereka yang hanya bisa menonton festival demi demi festival itu. Kebudayaan adalah sebuah panggung pesakitan yang besar, dinamikanya dibangun di atas kesenangan-kesenangan tak berbatas, mimpi-mimpi, permainan,...dan di atas itu semua adalah hampa. Aku pun mengangkat gelasmu yang hampa. Mengisinya dengan cairan cairan putih yang tak abadi, lalu meminumnya sendiri.

Di Ubud, gerimis berangsur turun seperti pisau taji yang mengejar lawannya dengan hati cemas. Terasa tajam. Orang-orang bersorak di gelanggang, seekor jago terguling, aku cemas, dan di lingkaran pusat gelanggang makin amis bau darah. Senja pun sempurna menjadi caru pada dewata.

Engkau menyebutnya pesona, daya tahan yang kekal. Bagaimana dengan diriku yang mual, karena tak tahan menyaksikan semua itu? Aku menghindar, ya, aku menghindar. Menjauh ke jalan-jalan yang lebih sunyi dan membiarkannya hidup sebagai lupa dalam hari-hariku. Tapi tak ada tempat aman, Sayang.

Tak ada tempat yang aman untuk melupakan. Lupa itu bohong! Gerimis mengejarku, dan kontes-kontes digelar untuk merayakan pelarianku. Aku menepi untuk melindungi diri, berhenti di gerbang sebuah museum yang megah dengan halaman yang begitu luas. Padahal di dalamnya hanya ada masa lampau; sejumlah lukisan senja, kain-kain, payung kuning, dan sejumlah senjata tajam yang meninggalkan noda dari pembunuhan demi pembunuhan yang telah terjadi di masa lalu.

Mereka menyebutnya pesona, daya tahan! Bagaimana dengan diriku yang ketakutan mengenang semua itu? Raja-raja kawin, selir-selir haram mereka membagi tubuh pada yang lain. Tapi istana itu tetap suci. Sementara pada saat yang sama sebuah khayangan dinyatakan leteh hanya karena seorang gadis telah memasukinya selagi ia haid.

Gerimis telah menjadi hujan yang tajam. Jalanan penuh, dan di tempat-tempat yang remang aku telah menyaksikan pohon-pohon melindungi bunga-bunga yang sedang belajar telanjang. Lalu sepuluh tangan lelaki memetiknya dengan nafsu yang menggila. Bunga-bunga itu kemudian menjelma patung yang mengeluarkan uap. Sepasang kekasih yang habis serong lalu bersimpuh di hadapannya. Aku kedinginan, Sayangku. Aku perlu selimut, tapi aku tak mau mencurinya dari tubuhmu...

Riki Dhamparan Putra

Lanjuuuut...

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates
Layout has developed by Riki Dhamparan