Tetapi tentu bukan soal itu yang hendak menjadi topik pembahasan tulisan ini. Usaha saya sepenuhnya tertuju pada beberapa simpul pernyataan yang ditulis oleh Thomas Hunter jr mengenai puisi-puisi FransNadjira. Kecuali mungkin satu hal yang tidaksaya singgung di sini: perihal masa depannya. Atau, meminjam istilah Thomas M Hunter, Jr1 yang memberikan pengantar penerjemahan antologi Frans Nadjira ; “kehidupan pasca penciptaan” puisi puisi di dalam Springs of Fires Springs of Tears ( untuk selanjutnya kitasingkat SofSoT). Menurut Thomas M Hunter Jr, keagungan karya Frans terletak pada sikap penyairnya yang menolak untuk menyentuh kertas dengan pena kecuali dia ‘dimasuki’ oleh semacam ‘suara’ atau peristiwa yang memaksakan dia bertanggungjawab untuk menyampaikan pengalaman tersebut kepada orang lain. Dalam hal ini,Thomas HunterJr memakai pendapat Walter Benyamin yang mengukur keagungan sebuah karya seni berdasarkan ‘daya tahannya’ pada kehidupan pasca penciptaan.
Saya sendiri tidak terlalu tertarik untuk mengunakan istilah ‘ keagungan’ dalam memahami sebuah karya puisi. Tetapi pendapat Thomas Hunter adalah satu-satunya pendapat tertulis yang pernah ada dan yang bisa kita pergunakan untuk membicarakan puisi-puisi Frans Nadjira. Dan di sini penekanannya terhadap mistik dalam karya Frans Nadjira, cukup mendapat focus tulisan ini.
1.Tirani Kritik Atau Tirani Pembaca
Dalam mengkaji sebuah puisi, pertama-tama kita terbentur pada metode. Sejauh ini metode kritik sebenarnya mengandung beban sendiri saat digunakan untuk melakukan pengkajian puisi. Beban itu terjadi karena karena kritik seolah-olah tidakbicara tentang karya yang dibedahnya, melainkan tentang metode itu sendiri. Kritik-kritik akademis maupun kritik-kritik Avant Garde sesudah ‘matinya pengarang’ memiliki kecenderungan subyektifitas yang tinggi.Kritik tidak berusaha untuk menjelaskan atau menyampaikan isi dari puisi yang dhadapinya,sebaliknya memaksa puisi tersebut masuk ke dalam metode itu.
Memang genre-genre khusus kemudian muncul dengan kritik tersebut, seperti misalnya penggunaan teori dekonstruksi untuk puisi-puisi Sutardji sebagaimana yang dilakukan Umar Junus dan Dami N Toda, atau lebih jauh terjadi pada Afrizal Malna. Di wilayah akademis, kita bisa lihat bagaimana misalnya “strukturalisasi karya sastra” terjadi tanpa dapat menyampaikan rasa dari karya sastra itu kepada kita; bagaimana kita mendapatkan rasa bahasa apabila hanya sanggup mengutarakan jenis alur, penokohan, atau bentuk bentuk struktur belaka? Mengarang, menurut Michael Foucault adalah persoalan mencipta ruang untuk tempat subjek, di mana subjek yang mengarang itu terus menerus melenyapkan dirinya.2
Namun bila subjek yangmengarng itu telah melenyapkan diri, iapun dganti oleh subjek lain yaitu pembaca, yang oleh Roland Barthes dikatakan sebagai tempat di mana ambiguitas sebuah teks dikumpulkan. Pembaca adalah seorang yang memegang dalam medan yang sama semua jalur darimana tulisan dibuat.3Pembaca, dengan metode-metode yang dipergunakan untuk memahami sebuah karya lalu menjadi tirani tersendiri, karena padanya telah diberikan wewenang yang terlampau.
Kecenderungan untuk menjadi tirani ini terutama berkemungkinan besar terjadi pada pengkajian puisi, karena membawa sifat dasar ambiguitas teks yang tinggi. Lihatlah misalnya bagaimana Arif B Prasetyo membicarakan puisi-puisi Misalkan Kita Di Sarajevo-nya Goenawan Mohamad (majalah Kalam 1999). Jazz Aproach yang digunakan untuk membahas puisi Misalkan Kita Di Sarajevo, telah mengalihkan sisi pandang kita dari isi dan pencapaian sajak-sajak Goneawan, tapi lebih menonjolkan sisi bunyi atau musikal. Jadi lewat tangan Arif B Prasetyo, kita menemukan suatu bentuk Goenawan yang ‘pemantra’ dengan dominasi unsur musikal dalam sajak-sajaknya.
Itulah resiko kebebasan membaca yang sesungguhnya. Sebagaimana dikatakan Barthes; pembaca tidak usah berumit-rumit dengan persoalan kedalaman, isi, ataupun pencapaian tertentu, sebaliknya pembaca adalah subjek yang memberi makna pada makna itu, dan kemudian memindahkannya ke dalam bahan yang sedang dikaji. Bukan sebuah interpretasi saya kira, bukan pula sebuah resepsi. Tetapi lebih sebagai naluri kreatif sang kritikus untuk berbebas-bebas saja.
Bagaimanapun, bacaan Arif B Prasetyo untuk puisi-puisi Goenawan Mohamad, saya kira merupakan upaya mengingatkan kembali akan kekuatan pengaruh bunyi pada puisi-puisi modern Indonesia. Yaitu bunyi yang mengabaikan makna. Pada prinsipnya, apa yang telah dilakukan Arif dalam esainya itu, tidaklah merupakan suatu rekonstruksi terhadap kritik puisi kita, karena beberapa kritikus seperti Umar Junus dan Dami N Toda, telah melakukan pendekatan yang sama. Bagan persamaannya bisa dibuat:jazz = mantra.
Perbedaan terjadi dari segi penyebutan saja atau dari bentuk yang menjadi media sebuah unsur musikal. Jika pada Sutardji, kekuatan musikal itu bernama mantra, maka denyut musikal puisi-puisi Goenawan dekat dengan jazz. Setidaknya bagi Arif B Prasetyo.
Hubungan teks dengan pembacapun menjadi semacam hubungan mutual yang saling memberi . Di mana, teks sama sekali tak berdaya dihadapkan dengan pembacanya, namun tetap membuka peluang yang luas bagi pembaca untuk menafsirkan teks itu terus-menerus. Di sinilah tirani pembaca berpeluang untuk terjadi, dan saya merasa tak akan bebas dari tirani serupa, sekalipun saya memiliki keyakinan bahwa tirani kritik dapat menjadi bahaya karena terlalu memuliakan subjek pengganti setelah – ‘pengarang tak ada’.
Keyakinan saya yang agak konservatif lainnya adalah mengenai relasi pembaca dengan puisi yang dibaca. Bagi saya, kedua-duanya harus meng-adakan satu sama lain. Puisi membuat saya ‘ada’, karena memberi saya ruang hampa untuk melarutkan imajinasi saya di dalamnya. Sebaliknya saya membuat puisi ada, karena puisi itu telah menuntun saya memahami persoalan yang dibawakannya. Jadi ada dalam sebuah relasi eksistensial.
Dengan penjelasan di ataslah saya sampai kepada pertanyaan; apa benarkah kita dapat membunuh pengarang dalam semua teks, dalam semua jenis karya sastra?
2. Pengalaman Subjektif,Rangkaian Peristiwa; Sebuah Zielostof
Selalu menarik untuk membayangkan bagaimana puisi dilahirkan- hingga baris-barisnya kemudian mengantar peristiwa baru lagi yang sering tidak diduga penyairnya sendiri sebelumnya. Hanya saja godaan seperti itu dapat memerangkap kita ke dalam model pembahasan biografi- dimana pengarang karya yang dibahas itu muncul secara keterlaluan, bukan karangannya.
Dalam karya sastra contoh serupa telah tampak dalam interpretasi Sigmun Freud4 mengenai cerpen-cerpen dalam LA GRADIVA karya Wilhem Jensen (1906). Kendati dalam analisanya Freud bertolak dari mimpi-mimpi yang dialami oleh tokoh dalam cerpen yang dibahasnya, analisa Freud tetap saja lebih berguna bagi teori psikoanalisanya sendiri ketimbang sumbangan bagi kajian sastra. Jadi dia tidak mengemukakan sejauhmana La Gradiva memiliki pesona psikologis, melainkan sejauh mana kondisi psikologis mempengaruhi pengarangnya dalam membangun karakter tokoh tokoh cerpennya. Bagi Freud, sakitnya Wilhem Jensen lebih penting ketimbang La Gradiva yang dilahirkan dalam situasi sakit itu.
Puisi-puisi SoFSot menggoda kita untuk membayangkan peristiwa yang melatari lahirnya puisi hingga baris-barisnya mengantarkan peristiwa baru lagi. Peristiwa adalah sebuah tema general sebelum ia diurai ke dalam sebuah sub tema atau sub-peristiwa. Kendati seluruh peristiwa yang melatari puisi-puisi dalam SofSot adalah peristiwa yang hanya diketahui, dialami, dipahami secara subjektif oleh penyairnya, tidak tertutup kemungkinan bahwa peristiwa itu dialami atau dinikmati secara subjektif pula oleh subjek lain.
Puisi-puisi dalam SofSot tampaknya sangat memperhitungkan ruang komunikasi dengan subjek yang lain itu hingga subjek tersebut dapat masuk ke dalam berbagai peristiwa SofSot. Kekuatannya yang penting terletak pada bagaimana peristiwa itu diungkapkan hingga menjadi rangkaian peristiwa bagi subjek lain. Kunci pengungkapan itu ada pada daya haru dan kematangan bahasa yang dikandungnya.
Setumpukan daging
menyeberang bayang-bayang
mesin jahit
Peristiwa pertama ada pada bagaimana kondisi awal penyair hingga melihat “setumpukan daging dapat bergerak kearah mesin jahit”. Selanjutnya pengarang melakukan penyegaran terhadap kata daging dan mesin jahit.
Setumpukan daging adalah ihwal biasa, seperti kita mengatakan daging sapi,daging ayam ataupun makan daging. Namun pada saat pengalaman subjektif penyair menyentuh daging itu, terjadilah peristiwa naratif yang lain, yang tidak biasa. Kata tersebut menjadi “sebuah dunia”, ruh yang baru atau Chairil Anwar mengatakan “dunia yang menjadi”.
Selanjutnya tanpa menyebut pengalaman personal subjek pertama (penyair), pembaca bisa menemukan pengalaman tersendiri pula dengan larik-larik sajak itu:
Setumpukan daging bergerak p>menyeberang bayang-bayang
mesin jahit
Di ranjang pulas anak-anakku
telah kutempeleng mereka tadi sore
hanya karena alasan yang sepele
Pemintal terkutuk
Pestalah sepuasmu
Beraikan pecahan nafsuku
Setumpukan membusuk
Meleleh sekarat
Dari langit lagit syahwat
Pada saat “setumpukan daging” itu hadir dalam imaji pembaca, lompatan alur dari kata “mesin jahit” ke kata ranjang menjadi matra kosong yang membuka ruang peristiwa bagi pembaca- sesuai dengan horisan harapan yang dimiliki pembaca terhadap kata-kata pada peristiwa pertama. Begitupun sapaan pemintal terkutuk dapat beralih ke wujud lain yang bukan pemintal terkutuk-sesuai dengan pengalaman subjektif pembaca.
Saya kira memang itulah kelebihan sebuah puisi yang dibangun dengan tekhnik psikografi5. Cukup dengan menghadirkan latar sebagaimana halnya setumpukan daging itu, pembaca telah memperoleh rangsangan kreatif sebagai hasil komunikasinya dengan lirik puisi tersebut. Bahkan seandainya puisi itu tidak diteruskan dengan bait-bait lain yang menyatakan kehadiran penyair, bait pertama sebenarnya sudah cukup . Namun tampaknya di sini penyair sekaligus hendak memberi defenisi yang tegas mengenai puisi. Beberapa nilai puisi, mungkin terpenuhi oleh larik-larik pertama tadi. Hanya saja ia lebih tepat dinamakan lukisan sebuah suasana kata-kata.
Sesudah deskripsi peristiwa ada sebuah hal pokok lagi; yakni apa yang hendak dicapai dengan peristiwa dan penggambaran itu. Itu dapat berupa pertanyaan, hikmah, pengetahuan terhadap hal, kemarahan,kegembiraan.dan inti peristiwa yang lainnya. Tanpa ada hal-hal yang menjadi inti peristiwa tadi segala hanya akan menjadi lukisan hampa.
Begitulah keyakinan yang tampak dalam puisi-puisi Frans Nadjira. Dari sini kita dapat menjelaskan kenapa ia selalu mengatakan “melukis itu gampang, sangat gampang, dibanding menulis puisi.”6
Sebagaimana yang telah disinyalir oleh Thomas Hunter jr, semua puisi dalam Sofsot dibangun dengan kecenderungan psikografi yang tinggi. Tadi saya telah mendefinisikannya dengan; lukisan batin mengenai peristiwa subjektif dengan media kata-kata. Alur psikografi SofSoT penuh dengan lompatan-lompatan yang menandakan kualitas kesabaran penyairnya dalam mengelola ilham dari peristiwa ke peristiwa, dari waktu ke waktu. Sehingga sepintas lalu kita tidak melihat hubungan yang serius antara larik yang satu dengan larik yang lain. Tetapi marilah kita ambil contoh bagaimana hubungan yang tidak serius itu sesungguhnya tidak terjadi, seperti dalam puisi P.B:
Musim kupu-kupu
Musim terakhir yang menyapanya
Sebelum berlayar dilaut gerimis
Ia mengenal isak ini
Ia mengenal isak ini, menegaskan karakter larik sebelumnya. Jadi ‘musim kupu-kupu’ yang dimaksud ada dalam pernyataan; ia pengenal isak ini. Atau dengan pernyataan itulah ‘musimkupu-kupu’ menjadi kenyataan. Tanpa “ia mengenal isak ini”, musim kupu-kupu pastilah bersifat fisik belaka (bukan dunia yang menjadi). Sesudah itu diberikan lagi padanan lanjut: warna kemarau dan tepi malam//sampai ke batas paling hening. Bait selanjutnya muncul lagi dengan jarak lompatan yang lebih dekat:
Karena ia peka
Dan tak ada saat lewat
Tanpa menyentuh
Bahagian paling dingin
Dari angin
Bahagian paling asin dari garam
Ujung lidahnya.Buat kita semuanya
Buat kita yang,
Kadang-kadang Frans juga tidak mengabaikan unsur bunyi yang mempertautkan larik satu dengan larik selanjutnya…//bahagian paling dingin//..dari angin // Bahagian paling asing..//Menunjukan suatu proses penciptaan yang mengalir, dan pada pengulangan pengulangan kata:bahagian,paling,ngin, kita menemukan apa yang oleh Thomas Hunter jr disebut sebagai proses automatiking dalam penciptaan.
Kalau diperhatikan proses automatiking pada puisi P.B (seperti juga pada puisi SoFSoT lainnya) bukanlah proses tak sadar, di mana penyair benar-benar kehilangan otaknya sebagaimana yang terjadi pada orang kesurupan. Tidak, sungguh tidak begitu. Bagaimana puisi diakhiri, telah menunjukan secara jelas kalau proses penciptaan bagi Frans Nadjira adalah proses yang sepenuhnya sadar. Imaji dalam puisinya, benar-benar memenuhi pengertian imaji sebagai wilayah kesadaran.
Kini tibalah saatnya mengemukakan bagaimana pengalaman subjektif penyair hadir ke dalam benda-benda, dan nama-nama, serta bagaimana pengalaman itu mengikuti wujud benda-benda, nama-nama itu dalam kehendaknya. Pikiran pokoknya adalah bukan benda benda yang yang memberi makna pada pengalaman subjektif penyair, tetapi ia disebut subjektif karena telah memberi ‘hidup baru’ (…//Aku yang memberi roh//)7 dan makna baru bagi kehadiran benda-benda itu.
Pengalaman subjektif itu seperti zat maha halus yang memberi kehidupan pada semesta. Zat yang dalam literature etnografi awal dinamai Zielestof8. “baturisau” dalam puisi Sutardji Calzoum Bakhrie misalnya, adalah peristiwa zielestof, yakni usaha untuk membangkitkan ‘daya hidup’ yang ada dalam seluruh benda-benda. Zielestof dapat berganti-ganti medium dari manusia ke tumbuhan, ke benda mati, dan seterusnya. Tanpa zielestof tak akan ada semesta puisi, tak akan ada absurditas yang benar-benar membuktikan adanya hubungan individu dengan semesta mati. Zielestof adalah syarat untuk mencipta.
Proses penciptaan selanjutnya ditentukan oleh bagaimana zielestof itu dikelola atau digiring dengan kejujuran dan kecerdasan kreatif, dan tidak semena-mena. Karena penggunaan zielestof yang semena-mena menandakan ketidaksabaran dalam mencipta.
Puisi berikut ini akan membantu kita untuk melihat apakah Frans Nadjira tergolong sabar atau tidak dalam mengelola zielestof itu:
MALAM Sebuah ayunan mengayun gerimis di halaman kriik kriik
Seekor belalang jatuh dari lampu ke rerumputan
Pada sajak MALAM, zielestof itu datang pada sebuah ayunan yang mengayun gerimis di halaman. Ayunan bukanlah peristiwa yang hidup seandainya ia tidak dikatakan – mengayun gerimis di halaman.
Kita memerlukan sejuta jendela untuk melihat seperti apa gerimis di ayun. Bait terakhir sajak MALAM menyatakan keadaan diri penyair seperti seekor belalang yang jatuh dari lampu ke rerumputan. Terang ke kesabaran.
Idiom belalang, lampu, rerumputan, terutama ayunan, tidak hadir sebagai materi pasif. Tapi perlambang – perlambang yang muncul untuk mengangkapkan keadaan person yang menulisnya.
Situasi yang sama ada dalam sajak Mimpi Dalam Demam, Sekawanan Semut dan Siang Di Pekarang. Namun pada sajak Siang Di Pekarangan ”Aku” telah muncul menegaskan dirinya:…Aku angin kering yang bertiup dari arah matahari…Tidak lagi dalam perlambang tertentu.
Sebenarnya, SofSoT dengan 42 puisi yang ada, tergolong miskin dari segi kuantitas penggunaan perlambang. Kita menemukan banyak perlambang ataupun kata yang sama – yang kembali diulang dalam puisi puisi berikutnya. Namun miskin secara kuantitas, bukanlah halangan berarti bagi keutuhan sajak-sajak dalam SofSoT. Semua perlambang itu pada saat digunakan pada sajak yang lain, hadir sebagai peristiwa baru. Jadi tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa pengulangan penggunaan perlambang akan menyebabkan pengulangan tema ataupun pengulangan peristiwa.
Memang, kadang-kadang kita merasakan muatan yang sama pada satu kata manakala digunakan pada sajak yang berbeda. Contohnya kata “tidur” dalam Labalaba Di sudut Kamar:
tidur di kamar ini//berarti//berbaring di atas// sungai-sungai bawah tanah//berarti// terhimit//dalam lapisan udara//yang bergetar,dan//sepanjang malam mendengar//suara-suara bertengkardi luar//. Dari segi muatan tidak berbeda dengan horizon yang menyertai kata ‘tidur’ dalam puisi Tengah Malam: Mustahil aku tidur selama anak-anak itu di situ memainkan bayang tubuhnya gepeng seperti wayang
Zielestofnya adalah kondisi asthenis yang menyertai kata “tidur itu. Tetapi peristiwa dan pikiran yang kemudian muncul dari kedua sajak itu ternyata berbeda: kenapa tidak masuk saja!(Laba-laba Di Sudut Kamar)dan “berapa lama kau mengatur//semua ini?// (Tengah Malam).
3. Waktu Eksistensial
Meskipun Dzat penghidup atau Zielestof dalam SoFSoT lebih banyak berwujud penderitaan dan ketertekanan batin, tidaklah berarti kalau Frans Nadjira kehilangan daya kritis, humorik, serta kesadaran akan kekinian bahkan masa datang. Masa lalu dan masa depan dalam SoFSoT hadir menurut porsinya. Justru di situlah terlihat keliarannya. Yakni bagaimana melompat-lompat dari masa lalu ke masa sekarang tanpa harus terikat pada aturan-aturan diakronis. Hidup bagi Frans Nadjira sepertinya hanyalah sebuah mimpi panjang yang benar-benar terjadi, dan ia menyelam ke masa silam dengan bahasa masa kini. Ada di masa kini dengan pengalaman masa silam. Begitu sadar dalam keliaran, dan begitu liar dalam kesadaran.
Waktu bagi dia terhampar seperti sungai Missisipi yang mengalir di belakang berbagai wujud perubahan dan pergantian. Sebuah waktu eksistensial, di mana seseorang tidak diperangkap oleh tiga segi dari waktu itu; sudah, sekarang, dan nanti, tetapi menjadi pusat bagi sintesa dialektis dari tiga segi waktu.
Waktu bagi dia hanyalah: “bayangan yang saling tindih menindih dalam kaca”. Sesudah itu yang penting: “ minum//baru sejam lalu aku meminta//kartu nasibku pada sebuah kotak//es krim//..//baru sejam lalu aku bicara dengan seseorang tentang borobudur//tentang bumi yang tak ceper//..//tentang mereka yang di suatu tempat// tapi tak lagi memiliki tempat//…//tentang salju dan angin puyuh//tentang roh,kelahiran,nasib,dan kematian//
Semua yang telah terjadi ada kembali dalam medan yang sama; imajinasi, di mana waktu dan ruang hanya “selaput yang dapat ditembus”, layaknya pesawat luar angkasa menembus atmosfir bumi, untuk lebih jauh memotret keluasan semesta. Tapi apa yang didapatkan setelah itu? keluasan yang telah diperlihatkan kepada penyair itu ternyata baru setitik air di lautan penciptaan yang maha luas.
Seorang Frans mendapatkan absurditas sebagai takdirnya, bermula dari : “diriku yang retak bagian dalamnya//dan selalu ingin menjenguk keluar” hingga iapun sampai pada keterbatasan absurditas itu sendiri:
Aku yang memberi hidup Aku yang meniupkan roh Aku yang menyeberang di siang Lengang Aku yang menyebereang bayang-bayang Tapi nyatanya Aku tak pernah tahu Kapan aku lahir dari rahim yang mana Dan begini jadi orang yang sukar Akrab dengan diri sendiri.yes,I’m crazy Memang But I’m not a suicidal person
Saya rasa, ini bukanlah ungkapan yang frustasi untuk menemu. Tetapi sebuah kesadaran mencipta yang rendah hati, yang tak akan sampai-sampai. Pada Sutardji Calzoum Bakhrie kesadaran yang sama muncul dalam ungkapan: walau penyair besar, tak kan sampai sebatas Allah.
Hanya saja Sutardji dalam mengatasi keterbatasan seperti itu, kemudian menciptakan medan bermain yang lain. Yaitu kata sebagai mantra. Sehingga tanpa beban dia mengungkapkan: bagaimana penyair sampai kalau kata tak sampai?” Sutardji ditolong konvensi bermain dalam seni. Dalam hal ini dewa penolongnya adalah puisi Indonesia purba (yang menurut dia) adalah mantra, yang mengandung zielestof pada bunyi.
Mantra tidak diikat oleh suatu pengertian normatif, tapi mantra memiliki kekuatan bunyi. Itulah yang menjadi medan permainan Sutardji. Mantra digunakan dengan modal keyakinan pada kekuatan mantra itu. Tidak perlu ditambah dengan pengetahuan akan isi mantra itu.
Berbeda sekali dengan Sutardji, Frans Nadjira tidak berniat membuka medan permainan baru sebagai kompensasi atas keterbatasan absurditas tadi. Dia tidak menjadikan puisi sebagai sarana pelepasan dengan menciptakan sebuah medan bermain seperti yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bakhrie. Tidak pula sebagai sarana pengaduan atau tempat berkeluh kesah.
Puisi baginya adalah proses defragmenting yang terus menerus menerus. Tampak jelas bagaimana ia berupaya untuk mencari pengertian yang lebih mendalam pada setiap peristiwa yang dialaminya, menyusunnya dan berusaha mengungkapkannya dengan bahasa sublim.
Di sini terasa sebagai peristiwa yang sakral, karena penyair seolah-olah sebagai nabi yang tak henti-hentinya menyelam dan menyampaikan kebenaran yang diwahyukan kepadanya. Penyair menerima ilham, dan menanggungnya sebagai amanah yang harus dijaga sekuat-kuatnya. Jadi di sini kita dapat membedakan ciri yang tegas antara sajak Frans Nadjira dengan puisi bagi Sutardji Calzoum Bakhrie. Bagi Sutardji, puisi berpusat pada kata: datang dari kata, kembali pada kata, dan penyair hanyalah medium tempat kata-kata itu mengalir, seperti yang pernah ia tulis dalam sebuah edisi di majalah Horison. Sedang bagi Frans Nadjira segala-galanya berpusat pada manusia.
Ini sekaligus menegaskan ideologi humanisnya; karena kata hanya milikku ,cahaya darimu, aku yang meniupkan roh, aku yang memberi hidup, aku yang menyeberang di siang lengang,..”Aku” adalah sumber kehidupan semesta itu.
4. Peta,Ruang Mistik?
Sebuah ruang dikatakan mistik karena jalan-jalan dan tatanan dalam ruangan itu tertuju kepada kenyataan yang paling rahasia dari semesta. Seseorang yang pernah mengalami trance ataupun pernah mengalami proses automatiking dalam melakukan hal-hal tertentu tidak serta merta dikatakan memiliki perilaku mistik atau seorang mistikus. Bila para sufi seperti Jalalludin Rumi atau Hamzah Al Fanshur digolongkan sebagai penyair mistik, itu tidaklah karena Fanafi’illah (leburnya jasad ke dalam Ke Ilahian) yang mereka alami belaka. Tetapi lebih pada pencerahannya pada proses menuju Fanafi’illah itu, menuju kenyataan yang paling rahasia dari semesta itu.
Saya menyebut kenyataan, karena kenyataan di dalam mistik bukanlah angan-angan belaka, dan dengan sifat itu kenyataan mistik serta merta menafikan apa yang tdak nyata dan tidak pasti. Absurditas tidak ada di dalam mistik, karena absurditas dibangun di atas ketidakpastian. Satu hal lagi, seorang yang mistik tidak memiliki ‘mata yang lain’ selain hasrat untuk mencapai kenyataan gnostik itu.
Dia tidak hendak mengetahui, mencapai, menginginkan atau menjelaskan apa-apa selain yang membantu menuntunnya ke arah kenyataan yang paling rahasia itu. Seorang mistik adalah Al Hallaj yang buta karena cinta. Dalam tradisi mistik para sufi Islam, kenyataan yang paling rahasia itu diikat oleh satu sebuat:Allah-Hu.
Begitulah sajak-sajak dalamSoFSoT tidak menunjukkan kecenderungan mistik yang kuat. Penyairnya tidak terlihat sebagai orang yang bersedia ‘buta karena cinta’. Sebaliknya, matanya adalah mata elang yang menyala tajam saat terbang mengintai mangsa di bawah rerimbunan dan semak tanah.
Ia tidak sedang jatuh cinta kepada apa-apa, sekalipun ia memiliki rindu. Dan berbeda dengan remaja yang merindu, ia tdak dibawa terbang oleh rindu itu, tetapi berusaha mencari tahu dan mengungkapkan kenapa harus merindu. Jika boleh dibandingkan, ia memilih tidak “membubung dalam baris kata sajak”, tetapi lebih suka mencari tahu kenapa ia mesti membubung di situ.
Kenyataan yang terungkap dalam SoFSoT sebenarnya hanyalah persoalan-persoalan sehari-hari yang menjadi unik karena dikatakan dengan pengalaman subjektif penulisnya. Di sinilah saya kekeliruan Thomas Hunter Jr yang mencoba melihat kecenderungan mistik pada proses penciptaan puisi-puisi Frans Nadjira.
Saya sendiri lebih tertarik pada pandangannya soal kemampuan sebuah puisi untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain, yang oleh A.l Becker disambut dengan “seperti membaca dari kejauhan, sebuah asklepiad”. Istilah asklepiad itu sendri mengingatkan kita pada konsentrasi yang begitu penuh kecermatan dan kecemasan, tetapi sekaligus juga keahlian spesifik.
Sajak-sajak Frans Nadjira memiliki build character yang khusus; yaitu kecenderungan untuk menghadirkan rangkaian peristiwa dalam uraian yang gamblang dan spesifik. Kecenderungan yang biasanya dimiliki oleh seorang saintis.
Dan itulah yang hendak saya katakan. Frans Nadjira dalam SoFST lebih mirip seorang ahli fenomonologi ketimbang penyair perindu, seandainya dia tidak memiliki kekuatan pengungkapan puitik yang khusus.
Seperti laba-laba dia menebar jaring, dan dengan jaring itu dia membuat peta mengenai peristiwa-peristiwa yang dialami dan dipikirkannya secara seksama. Peta itu dimulai dengan intuisi, untuk seterusnya diper-alam-kan, hingga dia bisa meletakkan titik-titik pemberangkatan dan tujuan dari setiap wilayah dalam peta itu.
Memper-alam-kan watak yang fenomenologis, dia datang menceburkan diri dan menggunakan seluruh akal budinya dalam wilayah yang tampak dalam intusi awalnya.
Dari situ dia lanjut ke proses menemukan, bahkan membangun makna spesifik dari peristiwa-peristiwa tersebut. Dengan memperalamkan itu berarti dia menjadi pelaku bagi peta yang dibuatnya, sehingga apa yang hendak dia ungkapkan dalam peta itu tidak menjadi rangkaian teoritis sebagaimana halnya seorang evolusionist menguraikan teorinya.
Frans Nadjira sungguh-sungguh tidak dapat menahan keinginannya untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai bukan tergolong pengkhayal belaka, peniup buluh perindu belaka ataupun seorang pemikir eksak. Dia ada di tempat yang menjadi lintasan dari semua kebiasaan tadi.
Seperti kalian kamipun bergerak di bawah langit.Kami memiliki kediaman pancang arah angin di atas bukit//…//Cuma kami tiada membutuhkan air untuk pesawahan//…"
Dengan begitu dia telah memberi garis antara proses bekerja dalam dunia sehari-hari dengan proses bekerjanya sendiri dalam puisi. Penggarisan itu bisa terjadi disebabkan oleh takdir mitologik yang diterimanya, yaitu absurditas. Sekedar mengulang, absurditas di sini adalah sebuah eksistensi, yang dibangun berdasarkan kesadaran akan ketidakpastian absurditas itu.
Sebab kami dalam cahaya,bergetar di udara yang Mengalir,muncul dari dalam keheningan, Pusat dari tiada, tempat semua bakal kembali Di mana tak menyusup lagi hawa nafsu,yang Dihembuskan lewat bilik hati yang lain
Hadirnya kata ‘cahaya’ dalam puisi ini tidak dapat dipersamakan dengan cahaya dalam baris baris puisi mistik Rumi, misalnya. Karena cahaya di sini adalah pengungkapan ketidakberdayaan sekaligus kesadaran untuk memilih menerima takdir mitologiknya, yaitu absurditas.
Hei,kalian yang di bawah yang hidup dalam jasad yang hidup dalam api: Seekor burung tak lagi dapat menelan air liurnya, tak lagi dapat mengepakkan sayapnya. Karena kekal menelan tanpa liur Mengepak tanpa sayap.”
Akhirnya untuk melengkapi pengetahuan kita mengenai wilayah estetik sajak-sajak Frans Nadjira, kita mesti pergi ke sebuah ‘perayaan natal’ dan menjadikan seluruh properti perayaan tersebut sebagai metafor pencapaian estetika sajak-sajak dalam SoFSoT.
Estetika di sini berarti biografi perjalanan batin Frans Nadjira yang menemukan titik ungkapnya pada sebuah lanskap Natal.
...//Olele perih paku berkarat Tirai tipis di usiamu yang kelimapuluh dua Adalah buih laut juga.Adalah pembaringan juga//...
Sebuah pencapaian yang skeptis mungkin. Itulah mungkin akhir dari semua perayaan, akhir dari semua gemerlap yang ada pada lanskap Natal. Namun, kesadaran humanisnya yang kuat telah memberi makna bagi perasaan skeptis itu. Seperti terungkap dalam Sajak Malam Natal.
B.
1 Thomas Hunter jr, dalam pengantar antologi puisi Springs of Fires S[prings of Tears.
2 Apa itu Pengarang? Obor,2000
3 ibid,hal 197
4 intermesa,1992
5 penyebutan psikografi mengikuti pandangan Thomas Hunter Jr,pengantarSofSot
6 ibid,pengantarSofsot
7 Missisipi
8 Ac Kryut(1869-1949),Het animisme in den indischen archipel(1906)
" hal.40
B hal 109