Desember, Amazing Grace Desember

BPM 12-07

Rasa – rasanya, hadiah terbesar buat kita keluarga besar Apresiasi-Budaya BPM pada akhir tahun ini adalah dua hal. Pertama, lahirnya Putu Putik Padi, putri dari sahabat kita pasangan yang berbahagia Made Adnyana Ole dan Sonia Piscayanti. Kedua, Mastera Award V untuk kumpulan puisi Gugusan Mata Ibu karya Raudal Tanjung Banua yang diterima Raudal pada minggu terakhir Desember 2007 ini.

Dalam bulan yang sama dan hari yang berdekatan, kedua peristiwa tersebut terjadi berbarengan. Seolah menyempurnakan arti Desember bagi kita keluarga besar Apre-Bud BPM. Sebuah keluarga yang mengikat diri dalam satu obsesi; yang berumah di dalam kemegahan kata sajak.

Sesungguhnya inilah momentum terindah yang layak kita syukuri dan layak menjadi dasar permenungan kita di akhir tahun 2007 ini. Sebab, sekalipun berbeda secara wujud dan ruang, kedua peristiwa tersebut bertemu di dalam satu garis; yakni karunia dan utopia.

Di sebut karunia karena kedua – duanya adalah buah dari kerja panjang kesunyian. Mereka adalah karunia Tuhan. Disebut utopia, karena kedua – duanya berangkat dari sebuah impian.

Keponakan kita, Putu Putik Padi adalah karunia yang bersifat kontekstual. Ia berupa darah, daging dan nyawa yang tersusun indah. Dapat kita rasakan senyata – nyatanya. Kelahirannya merupakan bagian dari perjuangan seorang manusia penyair untuk menemukan sejati ning urip. Untuk menemukan keterhubungan yang nyata antara kata dengan rupa.

Sebelum Putu Putik Padi berwujud janin di rahim ibunya, sebelum ia berupa seperti saat sekarang, terlebih dahulu ia adalah ruh cinta yang dihembuskan dari harapan, perjuangan dan doa ayah ibunya.

Seperti namanya, ia adalah gugusan benih harapan yang telah ditanam Ole jauh sebelum ia terbayang akan kedatangan seorang putri. Ia telah ada ketika baris ini ditulis “...kujunjung harapan//kumasuki lumbung kencana//dari denting piring kaca// gemericik tuak// dan lumpur kental...” (Lumbung Kencana). Namun adanya masih sebagai ruh tadi. Sebagai misteri.

Sebab ketika Ole menulis tentang padi dan lumbung, ia sesungguhnya sedang diliputi oleh misteri dari padi dan lumbung itu. Padi dan lumbung tidak ditulis sebagai produk pertanian belaka. Tetapi sebagai samudera makna. Inilah ruh puisi.

Ruh puisi kerap memberi pengalaman traumatik. Namun juga mampu menciptakan harapan dan utopia. Bagi Ole, sebagaimana tercermin pada sebagian besar sajaknya, ia menjadi utopia atas padi dan lumbung. Dikatakan utopia, karena pada dasarnya perasaan romantik yang bekerja dalam dirinya merupakan suatu proposal akan sebuah hari depan yang agraris, yang gemah ripah dalam harmoni kepada alam. Utopia seperti itulah yang dititipkan di dalam nama Putu Putiq Padi.

Hal yang sama dapat pula kita ceritakan dari Gugusan Mata Ibu. Ini adalah karunia tekstual. Lahir sebagai buah perjuangan seorang penyair dalam mencapai bahasa. Ada lelah dan doa di dalamnya. Ada utopia.

“Aku berlayar. Di segugus pantun// yang menyatukan jiwa dan badan..//” tulis Raudal dalam sebuah sajaknya. Pernyataan ini menjadi kompas untuk menelusuri wilayah eksplorasi sajak – sajak Raudal. Sebagaimana pernah dikomentari Goenawan Muhamad suatu kali, kekuatan sajak – sajak Raudal Tanjung Banua memang terletak pada kemampuannya utuk menghadirkan ‘sirih pinang’ dalam konteks hari ini. Kata ‘Sirih pinang’ menunjuk pada khazanah silam negeri negeri Melayu yang menjadi basis pencarian Raudal akan bahasa. Dan ia berjaya.

Metafor sirih pinang serta gaya pantun mengalir dalam sajak – sajak Raudal telah membuktikan kemampuan sebuah bahasa dalam menghadapi arus sejarah. Idiom yang bagi sebagian orang terasa antik, di tangan Raudal bisa menjadi segar dan kontekstual. “pantun begitu ranum// oleh kata – kata dan umpama...//penuh pesona dan berita: pulau atau kampung halaman// tanah asal yang sama// tanah yang akan mendekap badan linu ini// di akhir pelayaran/...” tulis Raudal.

Di tengah pemanasan global yang melanda bumi, Raudal lalu menawarkan isi pantun itu kepada kita. Ia menawarkan pandan dan sirih pinang. Menawarkan gambir dan butir kelapa sebagai harapan. Puisi pun menjadi obat bagi kita, karena puisi mengembalikan seluruh rasa kehilangan kita pada aroma pandan, hijau daun dan sirih pinang. Kepada makna – makna yang timbul tenggelam seperti sebutir kelapa di samudera luas.

Sejarah tidak memerlukan dekonstruksi di sini. Sebaliknya yang diperlukan adalah suatu kesinambungan. Penyair yang baik adalah orang yang mampu menjembatani sekat yang telah dibuat sejarah antara hal silam dan hal kini. Penyair yang baik melahirkan sajak yang baik. Yakni yang “melampaui ruang dan waktu” kata Chairil Anwar. Dengan demikian seorang penyair yang baik sebenarnya merupakan seorang yang mampu melampaui sejarah sebagai pengertian yang diatonis.

Begitulah, penyair yang baik adalah penyair yang mampu menangkap kenyataan sebagai makna dan menemukan makna itu sebagai harapan. Resikonya hanyalah puisi menjadi asing, karena makna – makna adalah sesuatu yang asing di tengah zaman yang memberhalakan benda.

Raudal pun sadar akan hal itu. Namun keadaan terasing memberikan orang visi yang berbeda. Di tengah keadaan terasing penyair memberikan kita harapan dan utopia. Seperti yang ditulis Raudal dalam sebuah sajaknya “...aku umpama sirih yang melata sunyi di rimba perbukitan// namun wanginya akan sampai padamu...”

Dan Desember 2007 ini telah mengantarkan wangi itu pada kita. Raudal meraih Penghargaan Mastera V, sebuah penghargaan tertinggi dari jaringan sastrawan Malaysia dan Indonesia. Wangi kata – katanya seakan menghibur kita dari sedih akibat bencana alam, mengeluarkan kita dari gemuruh industri tekhnologi yang telah menciptakan pemanasan global.

Hal yang sama berlaku untuk Ole. Tangis Putu Putik Padi adalah harapan di bulan Desember ini. Kemurnian tangis bayi akan menjadi suatu hiburan di tengah semakin tingginya harga BBM dan harga susu, di tengah kecemasan kita pada PIL-KADAL PIL- PREK 2008 – 2009, di tengah kepalsuan – kepalsuan yang mengepung kehidupan kita. Kita memerlukan kemurnian untuk melanjutkan hari – hari berat di tahun 2008.

RIKI DHAMPARAN PUTRA

0 tanggapan:

Post a Comment

katakanlah padaku dengan kata - kata..
(Rabindranath Tagore)

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates
Layout has developed by Riki Dhamparan