Catatan Kecil Tentang Mati

Mungkin hanya Jalaluddin Rumi yang paham arti perkataannya"kematian tidak mengurangi apapun dari diriku". Tapi kita mengutipnya, mengulangnya dari waktu ke waktu. Setengah dari kita bahkan mencoba untuk mengujinya di dalam hidup nyata dan di dalam perjalanan rohani mereka. Kemudian merekapun paham, membenarkannya dan menyampaikan kebenaran ini dengan berbagai cara untuk membantu orang yang belum merasakan menjadi percaya dan menjadi paham.

Tentu saja beliau Maulana Jalaluddin Rumi belum mati ketika mengucapkan baris syair tentang kematian itu. Tapi orang mengatakan beliau Rumi telah kembali dari mati ketika mengucapkannya. Mati spritual, kata orang. Dan sesungguhnya - kata orang juga - mati spritual itu mungkin lebih berat dari mati biasa. Sebab melalui sebuah mati spritual seseorang bukannya tak punya pilihan lain seperti ketika orang dihadapkan pada mati biasa. Mati spritual berarti memilih jalan kematian untuk mencapai kualitas rohani tertentu. Bukankah memilih itu pekerjaan berat? Bukankah memilih mati di atas hidup yang selalu dirayakan ini hanya dilakukan oleh orang - orang gila saja kalau dilihat dari ukuran kita?

Kalau begitu Maulana Rumi telah gila. Setiap orang yang memilih jalan sepertinya juga gila. Mereka gila kebenaran. Mereka tak takut mati demi memahami sebuah kebenaran.Kita pun heran, mengapa dalam sejarah manusia yang panjang selalu ada saja yang berani berbuat demikian?

Saat Maulana Rumi menggunakan kata "mati", sesungguhnya kata ini sudah tidak mengemban makna serupa makna yang kita berikan lagi tentang apa itu mati. Kata ini sudah menjadi diri yang memiliki dirinya sendiri. Ia berkuasa, bebas dan mampu membangkitkan kebenarannya di dalam hati manusia. Ia datang, mengetuk seperti angin, menghembuskan gairah dan membujuk kita untuk memahaminya. Maka Maulana Rumi pergi untuk memahami apa itu mati. Ia meninggalkan kebesarannya sebagai seorang ahli hukum agama, melepaskan jubah pangkat dan jabatannya, hingga kebenaran memberikannya jubah yang lain yang lebih hangat dan tahan lama, pangkat yang lebih tinggi, jabatan yang lebih mewah meskipun di dalam jubah itu Rumi hanya debu. Hanya makhluk papa tak sempurna yang bergembira karena dapat merasakan kebesaran Penciptanya.

Semua itu tidak akan terjadi kalau beliau Maulana Rumi tidak pernah mengalami mati. Mati adalah sebuah pintu untuk menuju rumah hidup yang lebih luas. Pintu yang tidak hanya menunggu diketuk tetapi juga mendatangi hati manusia. Pintu yang akan mengantar kita ke rumah hidup yang lebih terang dan di dalamnya semua orang bergembira.

Untuk bergembira atau dengan kata lain untuk mendapatkan kegembiraan berTuhan selama - lamanya, itulah di antara tujuan terpenting kenapa orang demikian ikhlas menempuh jalan mati.

Mereka para Darwish itu, adalah orang - orang yang digambarkan di dalam Al Quran sebagai para Syuhada. Yakni mereka yang hidup di dalam kematiannya. "Apakah kamu menyangka orang - orang yang berzikir kepada Tuhan itu mati? sekali - kali tidak. Mereka hidup di sisi Tuhannya." Demikian firman Tuhan di dalam Quraan. Dan tafsir atas firman tersebut hanya tepat apabila diuraikan di dalam jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh para kekasih Allah dan para hamba Allah. Yakni jalan yang menuju kepada hidup. Bukan sebaliknya - dari hidup kepada mati.

Saya percaya, beliau Maulana Rumi dan orang - orang seperti beliau tidak berbohong soal pintu ini. Saya percaya karena hingga era kloning ini selalu saja ada di antara kita yang merindukan pintu itu dan jalan untuk membukanya tidak pernah ditutup. Saya percaya karena pintu ini tidak bermaksud mengambil harapan dari hati manusia seperti halnya kapitalisme mengambil harapan dari hati orang miskin. Atau seperti halnya pasukan bom bunuh diri mengambil harapan hidup orang banyak. Kematian yang dikatakan Rumi bukan yang seperti itu. Sebaliknya, kematian ini memberi seseorang hidup dan harapan. Bukan keputusasaan. Sebagaimana dikatakan Maulana Rumi " mati tidak mengurangi apapun dari diriku". Lantas mengapa kematian harus diratapi?

-

Denpasar, Ramadhan September 2008

2 tanggapan:

esha said...

Maaf lahir batin bang...
bukan komentar buat ini
cuma mau bilangin, link awak ciek: http://kandangpadati.wordpress.com/

thx
Esha Tegar Putra

Angga Wijaya said...

Halo apa kabar, riki? Mampir ke blog ku ya.

Salam,
Angga

Post a Comment

katakanlah padaku dengan kata - kata..
(Rabindranath Tagore)

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates
Layout has developed by Riki Dhamparan