Surat OKtober Kepada Wayan

Wayan, orang Islam itu bukan musuhmu
Mereka seperti aku yang pernah menemanimu di dalam kesedihan
bersama menatap langit yang tidak biru
mengukur panjang jalan – jalan
memandang hening kepada patung – patung perak
di jantung taman

Rabalah telapak tangan mereka
Kau akan merasa bagaimana jantung mereka
berdetak
serupa jantungmu juga
Seperti juga kau paham betapa sesak
kehidupan yang telah memberi mereka nasib
dan keluarga besar

Bagaimana jika seandainya nanti kau hidup
di gang – gang sempit di pulau Jawa
Bagaimana jika suatu hari kebunmu menjadi gurun
karena airnya
bercampur zat kimia beracun?
Kamu akan merantau seperti mereka

Kamu akan menjadi pemulung
menggali got
membuka tempel ban
membuka cukur rambut
membiarkan diri diburu – buru petugas Trantib-->Pikirkanlah jika
itu benar terjadi padamu
Pikirkanlah bagaimana di hari lebaran kamu memecahkan
lima tahun uang celenganmu
tapi tetap tak cukup untuk pulang kampung
Pikirkanlah jika tabungan itu masih harus kau bagi untuk
membayar petugas pasar atau banjar
Pikirkanlah bagaimana seandainya
kamu menjadi diriku
yang berpura – pura sabar menahan lapar

Wayan, salah seorang dari mereka
mungkin pernah mencongkel jendela rumahmu tengah malam
Seorang yang lain mungkin pernah menjambret kalung pacarmu
Tapi itu tak cukup alasan untuk benci kepada setiap pendatang
Apakah suara azan itu menganggumu?
Apakah karena ada orang puasa kamu merasa tak nyaman
dengan makanan yang kamu makan?
Masjid – masjid itu milik Tuhan Yang Maha Kaya
Tuhan yang sama
dengan Tuhan yang membuat leluhurmu ada
ke dunia

Dia mengasihimu
lebih dari segala yang bisa kau pikirkan tentang kasih sayang
Dia tidak akan mengusirmu dari kampung halamanmu
Jadi tak perlu merasa curiga
Jika hari ini kau lihat kontrakan pada penuh
dan halaman pertokoan dipadati pedagang nasi lele
Itu karena ada banyak orang yang tetap berjuang dengan cara halal
Mereka pun mengerti bagaimana mestinya datang
bagaimana mestinya pergi
Mereka pun mengerti bagaimana rasanya
menjadi orang yang didatangi
Tidak kau lihatkah
bagaimana mereka berpayah – payah
mengurus surat – surat
Tidak kau lihatkah betapa di jam weker mereka hidup
berjalan begitu lambat
Salah seorang dari mereka mungkin punya tanah
di bilangan Sanur atau Kuta
Tapi Wayan, perlu waktu
tujuh puluh tahun untuk bisa memperolehnya
Tak bisa disamakan dengan orang Amerika atau orang Belanda
yang cukup kawin dengan seorang penari atau pematung
lalu bisa beli tanah seluas lereng gunung Agung

Tapi engkau tak
pernah mengusik mereka
Karena engkau pikir mereka selalu membawa emas kepada kita
Jangan Wayan, nanti kita menyesal
Nanti setelah mati kita akan
ditanya mengapa membenci orang miskin
Nanti setelah jadi abupun kita tetap akan ditanya
“Siapakah sebenarnya yang membuat harga tanah begitu melangit?”

Orang Islam itu bukan musuhmu, Wayan
Mereka seperti teman lama
Salah seorang dari mereka mungkin cucu, keponakan atau anak
dari sahabat kakekmu ketika berjuang merebut kemerdekaan dulu
Mungkin juga salah seorang dari mereka akan kawin
dengan anakmu
memberi cucu
masa lalu,
sekaligus masa depan

Mereka seperti diriku Wayan
Bertanya – tanya tentang setiap hal yang kita bisikkan di dalam

hati masing – masing


Denpasar, Oktober 2008

4 tanggapan:

koto said...

da riki. awak lebaran alah baputa-puta denpasar. eh, urang yang dicari ndak batamu do. kama se mailang???

riki said...

uda sadang gerilya di pulau Lombok In

Ngurah Satriya said...

Wayan telah memberitahuku soal itu
saat kami bersantap lele dan manghisap cerutu

maka janganlah tuan penulis surat khawatir
salam.

Angga Wijaya said...

wayan, semua juga pendatang di bumi ini...

keluarlah dari kotak sempitmu.

Post a Comment

katakanlah padaku dengan kata - kata..
(Rabindranath Tagore)

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates
Layout has developed by Riki Dhamparan