riki dhamparan putra
Eyang mungkin tertakdir sebagai subyek pembuat sejarah bagi diri dan bangsa Indonesia. Namun takdir itu tidak berjalan secara tunggal. Peran bangsa Indonesia pun ada dalam takdir yang semacam itu. Sebab seorang pemimpin pada dasarnya terlahir sebagai cerminan dari kehendak dan harapan harapan yang tersembunyi dalam jiwa masyarakat yang memilihnya.
Bukankah Eyang itu juga dipilih selain memilih dirinya? Saat rakyat memilih pemimpinnya itulah harapan dan keadaan jiwa rakyat itu kelihatan. Jadi, kalau pemimpin itu baik, pertanda dari pilihan yang baik, dari rakyat yang tahu memilih yang baik. Begitu sebaliknya.
Bukan berarti saya mengatakan bahwa semua dosa seorang pemimpin berarti juga dosa rakyatnya. Bukan begitu. Dalam sebuah sistem republik, seorang pemimpin yang zalim, tidak muncul atau tidak dipilih oleh rakyat yang alim. Tapi oleh rakyat yang pada dasarnya juga zalim. Ini hukum alam saja. Sekumpulan beruk, tidak memilih pemimpin seekor burung merak bukan? Kalau pun ada itu pasti hanya di dalam dongeng Tantri Kamandaka. Di sinilah saya hendak merefleksikan hubungan kita sebagai bangsa Indonesia dengan Eyang.
Awal kepemimpinan Eyang adalah sebuah orde militer dan ditandai dengan banyak kezaliman terjadi. Ia muncul sebagai figur terpenting dalam pemulihan ketahanan dan keamanan nasional di akhir kekuasaan orde lama (1965 – 1966). Inilah era transisi politik yang paling tragis dan berdarah dalam sejarah Republik Indonesia. Sepanjang setahun itu kezaliman telah menjadi laku kolektif dan telah meninggalkan luka yang mendalam dalam sejarah kebangsaan kita.
Tentu, bukan tangan Eyang langsung yang mengambil dan menghilangkan orang – orang yang dituduh PKI di masa – masa pembersihan RI dari unsur – unsur Marxisme - Leninisme. Tapi tangan rakyat banyak, tangan ormas, tangan parpol dan seluruh unsur yang terlibat dalam peristiwa berdarah itu.
Mengapa rakyat mau melakukan kezaliman tersebut? Karena takut? Apakah takut cukup untuk menjadi pembenaran bagi suatu kejahatan? Sesungguhnya, rakyat yang lebih takut kepada sebuah instruksi yang zalim ketimbang berkorban melawan kezaliman adalah rakyat yang zalim juga.
Peran Eyang di sini menjadi lebih besar karena ia menjadi penentu sebuah kebijakan resmi negara yang membangkitkan watak zalim itu. Dan ia juga tidak berupaya menciptakan rekonsiliasi nasional. Satu – satunya hal yang dilakukan Eyang untuk menutup tragedi politik dan kemanusiaan di masa orde baru adalah dengan membungkam.
Kurikulum sejarah tidak diberi kesempatan untuk mengungkit – ungkit peristiwa tersebut dan berupaya menghapusnya dari ingatan generasi yang muncul kemudian dengan pertimbangan ketahanan nasional. Dengan demikian Eyang sebenarnya hanya menutup luka yang belum sembuh.
Kehendak untuk menciptakan stabilitas keamanan dengan pola militer telah menimbulkan akibat yang menyedihkan. Sebagai akibatnya, sejarah menjadi arus balik bagi orde Eyang. Ia menjadi alamat dendam dan kemarahan. Semua kezaliman yang pernah terjadi dikatakan menjadi tanggung jawab Eyang. Sampai- sampai orang lupa, bahwa Eyang juga telah bersusah payah membangun kesejahteraan rakyat selama berkuasa.
Ketika Eyang jatuh keprabon tiga puluh dua tahun sesudah pengangkatan pertamanya sebagai Presiden RI, orang hanya melihat dosa - dosanya. Orang lupa bahwa Eyang adalah contoh figur pemimpin yang paham pada potensi dan cita – cita bangsanya. Suatu hal yang kurang kelihatan pada pemimpin sesudahnya.
Kebijakan pembangunan negara di masa Eyang yang terfokus pada pembangunan pertanian dan ekonomi menunjukkan kepekaan Eyang kepada aset originil dan kebutuhan mendasar bangsa ini di masa kepemimpinannya. Eyang terlambat membangun demokrasi dan rekonsiliasi nasional karena terfokus pada usaha membuat stabil ekonomi rakyat dan stabilitas keamanan.
Bahwa bangsa Indonesia juga memiliki cita – cita sebagai bangsa yang canggih di bidang tekhnologi, juga berupaya diwujudkan dengan program pembuatan pesawat terbang sendiri.
Sayangnya, cita – cita ini terputus. Banyak bangsa yang syirik karena khawatir dengan pembangunan tekhnologi Indonesia. Malah, sebagian anak bangsa kita ikut – ikut pula mencerca program itu demi melayani selera lembaga pendukung dana.
Eyang telah menjadi seperti buah simalakama sejak kejatuhannya. Keinginan untuk mengadilinya saat ini telah berbenturan dengan keinginan untuk memaafkan. Keadaan seperti ini telah membuat bangsa Indonesia seperti memasukan benang besar ke lubang jarum yang sangat kecil. Apabila saja tembus, maka ini akan menjadi salah satu prestasi terbesar yang pernah dicapai bangsa Indonesia dalam sejarah.
Januari 2008