PULUNG DAN FITNAH TERHADAP KEJAWEN

Pulung adalah istilah Kejawen untuk wahyu kekuasaan kepada seseorang. Biasanya para sarjana menghubungkan istilah ini dengan sifat sakral kekuasaan dalam perspektif Kejawen. Mengutip sebuah tulisan; konsep kejawen memandang proses jatuh bangun suatu kekuasaan akan berjalan dalam ritme kegaiban tanpa ada campur tangan manusia sedikit pun. Kekuasaan bersifat sakral. Akibatnya, sakralisasi kekuasaan melahirkan pemerintahan yang sentralistik dan otoriter, seperti terlihat pada pemerintahan Soekarno dan Soeharto yang merupakan personifikasi Kejawen...

Benarkah begitu? Masalahnya adalah pengertian Kejawen yang umum dikemukakan para sarjana kita berasal dari angan – angan kolonial yang menguasai pemikiran akademik kita. Bukan dari perkembangan nyata alam Kejawen itu sendiri. Ciri definisi akademik itu antara lain melihat Kejawen sebagai energi yang pasif di mana dimensi Ketuhanan dan kosmis dikatakan meniadakan keterlibatan manusia rakyat di dalamnya.

Padahal tidak ada di dalam sejarah, Kejawen melepaskan begitu saja pulung yang telah datang kepada seorang penguasa. Bahwa kekuasaan memiliki dimensi Ketuhanan dan bersifat sakral, itu karena kekuasaan pada dasarnya adalah amanat dari Tuhan untuk menyelaraskan keseimbangan kosmis. Dengan demikian kekuasaan merupakan titipan yang musti dijaga agar kosmik ( yang di dalamnya manusia merupakan mata rantai utama) tetap dapat berjalan seimbang.

Nah, dengan apa ‘titipan’ atau ‘pulung’ itu dijaga? Dengan konsep Kejawen juga. Yakni dengan sederet etika, budi pekerti dan aturan – aturan ketat yang harus dilakoni oleh seorang penguasa. Mengabaikan aturan tersebut berarti secara sengaja melawan tataran kosmik dan dapat membuat kosmik bereaksi melalui tanda – tanda. Jadi jelaslah Kejawen tidak sekedar memberikan pulung atau wahyu kuasa yang merupakan amanat Tuhan, melainkan melengkapinya dengan sejumlah kontrol yang disarikan dari penghayatan Kejawen atas sejarah kuasa dari waktu ke waktu.

Kalau saja kita tau, ada banyak contoh Lelaku Kejawen yang sampai hari ini tidak hilang dalam rangka menjaga keseimbangan kosmik dalam keseimbangan kuasa itu. Di antaranya adalah melakukan “tapa bisu” atau berjalan kaki mencari wangsit dari tempat tertentu ke tempat tertentu pada bulan – bulan tertentu seperti pada bulan Safar. Tujuannya adalah untuk mencari petunjuk agar dapat menuntun langkah – langkah menjadi tepat dalam rangka melakukan kontrol atas sebuah kekuasaan.

Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan oleh Mbah Marijan bersama sejumlah orang Kejawen beberapa waktu sebelum gempa bumi melanda Yogyakarta. Beliau melakukan “tapa bisu” hingga ke selat Bali untuk mencari petunjuk. Seusai ritual tersebut kita mendengar Mbah Marijan melancarkan banyak kritik kepada Hamengku Buwono X berkaitan dengan beberapa kebijakan ekonomi dan pembangunan pemerintah Kraton Yogyakarta.

Ini adalah suatu tanda bahwa Kejawen merupakan suatu pandangan dunia yang bersifat aktif dalam hubungannya dengan kekuasaan. Bahkan tindakan – tindakan Mbah Marijan dalam banyak hal menunjukkan betapa merdekanya seorang rakyat jelata dalam konsep Kejawen. Tindakannya menegur Sultan HB X atas beberapa kebijakan pembangunan komersial di DI Yogyakarta, tentulah sangat berbahaya kalau kita melihat hubungan Mbah Marijan dengan Sultan itu sekedar hubungan raja – rakyat belaka. Di mana yang satu harus patuh tunduk kepada apa saja yang dikatakan raja.

Tetapi ternyata tidak. Mbah Marijan sudah membuktikan kepada kita bahwa Kejawen menilai serta mengukur seorang manusia berdasarkan keaktifan dan keberaniannya menyampaikan kebenaran. “Banyak orang besar, tetapi kerdil karena tidak mempunyai keberanian.” kata Mbah Marijan kepada saya suatu kali.

Itulah sebenarnya Kejawen. Kebesaran rupanya tidak diukur berdasarkan kedudukan kelasnya. Tetapi berdasarkan kehormatan pribadi dan keberaniannya untuk menyampaikan kebenaran. Dan kebenaran adalah suatu hal yang nyata, ia adalah rahmat yang meliputi manusia di dalam harapan kepada hidup yang bertujuan, yang bersangkan paran ning dumadi. Mengabaikan kehormatan, keberanian dan tujuan yang serupa itu berarti menghancurkan tatanan kosmik yang asali dan dapat membuat kosmik bereaksi.

Tidaklah masalah di dalam Kejawen, apakah sebuah pemerintahan itu berbentuk republik atau kerajaan. Bukan soal lagi perkara bentuk. Masalahnya adalah sejauhmana sebuah pemerintah mampu menyelenggarakan amanah kuasa itu, yang merupakan “pulung” atau wahyu semesta untuk menyelenggarakan kesejahteraan rakyat. Untuk menjamin terpeliharanya kemakmuran di dalam kehormatan diri rakyat, kemerdekaan pribadi, pengawikan pribadi.

Pola pandang yang seperti inilah yang diterapkan oleh Sultan Hamengku Buwono IX ketika dia menjadikan tahta Kraton Ngayogyakartahadiningrat sebagai “Tahta Untuk Rakyat”.

Berdasar uraian singkat ini, dapatlah kita melihat tempat para pemimpin yang pernah memimpin republik ini dari sudut pandang Kejawen. Apakah Soeharto dan Soekarno itu benar sudah Kejawen? Bahwa mereka mungkin melakukan ritual Kejawen untuk memperkuat kedudukannya, tidak lantas mereka menjadi Kejawen, bukan? Kejawen tak dapat disalahkan bila seorang penguasa berlaku zalim hanya karena dikira dia orang Kejawen.

RIKI DHAMPARAN PUTRA

Catatan: Kutipan yang digaris miring di atas diambil dari tulisan Musa Asy’arie, Guru Besar dan Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Harian Kompas, 2003. Sengaja saya pilih karena mencerminkan cara pandang umum yang sedikit arogan dan cenderung menjadi fitnah terhadap Kejawen.

Lanjuuuut...

Desember, Amazing Grace Desember

BPM 12-07

Rasa – rasanya, hadiah terbesar buat kita keluarga besar Apresiasi-Budaya BPM pada akhir tahun ini adalah dua hal. Pertama, lahirnya Putu Putik Padi, putri dari sahabat kita pasangan yang berbahagia Made Adnyana Ole dan Sonia Piscayanti. Kedua, Mastera Award V untuk kumpulan puisi Gugusan Mata Ibu karya Raudal Tanjung Banua yang diterima Raudal pada minggu terakhir Desember 2007 ini.

Dalam bulan yang sama dan hari yang berdekatan, kedua peristiwa tersebut terjadi berbarengan. Seolah menyempurnakan arti Desember bagi kita keluarga besar Apre-Bud BPM. Sebuah keluarga yang mengikat diri dalam satu obsesi; yang berumah di dalam kemegahan kata sajak.

Sesungguhnya inilah momentum terindah yang layak kita syukuri dan layak menjadi dasar permenungan kita di akhir tahun 2007 ini. Sebab, sekalipun berbeda secara wujud dan ruang, kedua peristiwa tersebut bertemu di dalam satu garis; yakni karunia dan utopia.

Di sebut karunia karena kedua – duanya adalah buah dari kerja panjang kesunyian. Mereka adalah karunia Tuhan. Disebut utopia, karena kedua – duanya berangkat dari sebuah impian.

Keponakan kita, Putu Putik Padi adalah karunia yang bersifat kontekstual. Ia berupa darah, daging dan nyawa yang tersusun indah. Dapat kita rasakan senyata – nyatanya. Kelahirannya merupakan bagian dari perjuangan seorang manusia penyair untuk menemukan sejati ning urip. Untuk menemukan keterhubungan yang nyata antara kata dengan rupa.

Sebelum Putu Putik Padi berwujud janin di rahim ibunya, sebelum ia berupa seperti saat sekarang, terlebih dahulu ia adalah ruh cinta yang dihembuskan dari harapan, perjuangan dan doa ayah ibunya.

Seperti namanya, ia adalah gugusan benih harapan yang telah ditanam Ole jauh sebelum ia terbayang akan kedatangan seorang putri. Ia telah ada ketika baris ini ditulis “...kujunjung harapan//kumasuki lumbung kencana//dari denting piring kaca// gemericik tuak// dan lumpur kental...” (Lumbung Kencana). Namun adanya masih sebagai ruh tadi. Sebagai misteri.

Sebab ketika Ole menulis tentang padi dan lumbung, ia sesungguhnya sedang diliputi oleh misteri dari padi dan lumbung itu. Padi dan lumbung tidak ditulis sebagai produk pertanian belaka. Tetapi sebagai samudera makna. Inilah ruh puisi.

Ruh puisi kerap memberi pengalaman traumatik. Namun juga mampu menciptakan harapan dan utopia. Bagi Ole, sebagaimana tercermin pada sebagian besar sajaknya, ia menjadi utopia atas padi dan lumbung. Dikatakan utopia, karena pada dasarnya perasaan romantik yang bekerja dalam dirinya merupakan suatu proposal akan sebuah hari depan yang agraris, yang gemah ripah dalam harmoni kepada alam. Utopia seperti itulah yang dititipkan di dalam nama Putu Putiq Padi.

Hal yang sama dapat pula kita ceritakan dari Gugusan Mata Ibu. Ini adalah karunia tekstual. Lahir sebagai buah perjuangan seorang penyair dalam mencapai bahasa. Ada lelah dan doa di dalamnya. Ada utopia.

“Aku berlayar. Di segugus pantun// yang menyatukan jiwa dan badan..//” tulis Raudal dalam sebuah sajaknya. Pernyataan ini menjadi kompas untuk menelusuri wilayah eksplorasi sajak – sajak Raudal. Sebagaimana pernah dikomentari Goenawan Muhamad suatu kali, kekuatan sajak – sajak Raudal Tanjung Banua memang terletak pada kemampuannya utuk menghadirkan ‘sirih pinang’ dalam konteks hari ini. Kata ‘Sirih pinang’ menunjuk pada khazanah silam negeri negeri Melayu yang menjadi basis pencarian Raudal akan bahasa. Dan ia berjaya.

Metafor sirih pinang serta gaya pantun mengalir dalam sajak – sajak Raudal telah membuktikan kemampuan sebuah bahasa dalam menghadapi arus sejarah. Idiom yang bagi sebagian orang terasa antik, di tangan Raudal bisa menjadi segar dan kontekstual. “pantun begitu ranum// oleh kata – kata dan umpama...//penuh pesona dan berita: pulau atau kampung halaman// tanah asal yang sama// tanah yang akan mendekap badan linu ini// di akhir pelayaran/...” tulis Raudal.

Di tengah pemanasan global yang melanda bumi, Raudal lalu menawarkan isi pantun itu kepada kita. Ia menawarkan pandan dan sirih pinang. Menawarkan gambir dan butir kelapa sebagai harapan. Puisi pun menjadi obat bagi kita, karena puisi mengembalikan seluruh rasa kehilangan kita pada aroma pandan, hijau daun dan sirih pinang. Kepada makna – makna yang timbul tenggelam seperti sebutir kelapa di samudera luas.

Sejarah tidak memerlukan dekonstruksi di sini. Sebaliknya yang diperlukan adalah suatu kesinambungan. Penyair yang baik adalah orang yang mampu menjembatani sekat yang telah dibuat sejarah antara hal silam dan hal kini. Penyair yang baik melahirkan sajak yang baik. Yakni yang “melampaui ruang dan waktu” kata Chairil Anwar. Dengan demikian seorang penyair yang baik sebenarnya merupakan seorang yang mampu melampaui sejarah sebagai pengertian yang diatonis.

Begitulah, penyair yang baik adalah penyair yang mampu menangkap kenyataan sebagai makna dan menemukan makna itu sebagai harapan. Resikonya hanyalah puisi menjadi asing, karena makna – makna adalah sesuatu yang asing di tengah zaman yang memberhalakan benda.

Raudal pun sadar akan hal itu. Namun keadaan terasing memberikan orang visi yang berbeda. Di tengah keadaan terasing penyair memberikan kita harapan dan utopia. Seperti yang ditulis Raudal dalam sebuah sajaknya “...aku umpama sirih yang melata sunyi di rimba perbukitan// namun wanginya akan sampai padamu...”

Dan Desember 2007 ini telah mengantarkan wangi itu pada kita. Raudal meraih Penghargaan Mastera V, sebuah penghargaan tertinggi dari jaringan sastrawan Malaysia dan Indonesia. Wangi kata – katanya seakan menghibur kita dari sedih akibat bencana alam, mengeluarkan kita dari gemuruh industri tekhnologi yang telah menciptakan pemanasan global.

Hal yang sama berlaku untuk Ole. Tangis Putu Putik Padi adalah harapan di bulan Desember ini. Kemurnian tangis bayi akan menjadi suatu hiburan di tengah semakin tingginya harga BBM dan harga susu, di tengah kecemasan kita pada PIL-KADAL PIL- PREK 2008 – 2009, di tengah kepalsuan – kepalsuan yang mengepung kehidupan kita. Kita memerlukan kemurnian untuk melanjutkan hari – hari berat di tahun 2008.

RIKI DHAMPARAN PUTRA
Lanjuuuut...

Representasi Menyesatkan Tentang Peran KUK

Republika Minggu, 06 April 2008

Katrin Bandel
Kritikus sastra asal Jerman

Keterlambatan Ayu Utami dalam memenuhi janjinya dengan Figge merupakan satu-satunya hal negatif yang dilaporkan, sebelum Figge kemudian mulai memuji keberanian Ayu sebagai pemberontak. Dan keterlambatan itulah yang diakuinya sebagai satu-satunya ciri Ayu Utami yang "Indonesia"!Berarti semua sikap Ayu Utami yang dipujinya sebagai sikap yang maju, berani, pemberontak atau feminis merupakan sesuatu yang "bukan Indonesia"!

Laporan mengenai bir, "perkawinan liar" dan pornografi yang sudah saya kutip sebagian di atas pun kemudian mengukuhkan imaji stereotipikal Indonesia sebagai negara (bermayoritas) Muslim yang kolot, restriktif, patriarkal dan tertinggal.

Kasus tersebut menunjukkan betapa pencitraan Ayu Utami sebagai pemberontak dan disiden tidak bisa dilepaskan dari pencitraan Indonesia sebagai negara kolot dan tertutup. Hanya kalau Indonesia digambarkan sebagai negara di mana "tidak ada perempuan yang minum bir", misalnya, maka aksi demonstratif Ayu Utami memesan bir dengan suara lantang di cafe KUK bisa diinterpretasi sebagai sebuah perlawanan. (Di sini kita belum lagi mempertanyakan apakah memang tepat tindakan minum bir dihubungkan dengan kemajuan dan keterbukaan.)

Maka kalau kita pertimbangkan bahwa Ayu Utami (dan KUK pada umumnya) tampaknya dengan sengaja menimbulkan dan menjaga reputasi semacam itu, saya rasa kata "antek-antek imperialis" yang digunakan Jurnal Sastra Boemipoetra untuk mendeskripsikan KUK tidak terlalu berlebihan.

Kelihatannya Ayu Utami adalah anggota KUK yang paling "laku" dipasarkan sebagai "pengarang" di luar negeri, dibandingkan misalnya dengan Goenawan Mohamad atau Sitok Srengenge. Saya rasa wajar demikian: Dapat dibayangkan betapa cerita tentang seorang pengarang perempuan muda dari negara Dunia Ketiga yang berani menulis tentang hal-hal yang tabu namun sulit diterima masyarakat negaranya yang kolot, patriarkis dan tertinggal, akan dengan sangat mudah mengundang simpati.

Informasi bahwa Ayu Utami banyak dikritik di Indonesia dalam konteks itu umumnya bukan membuat pembaca waspada dan kritis, tapi justru memancing simpati. Martin Amanshauser, misalnya, dengan sangat emosional berkomentar tentang "spekulasi kotor media-media skandal" yang meragukan kepengarangan Ayu Utami "sebab bagi masyarakat Indonesia yang didominasi laki-laki hampir tidak terbayangkan bahwa seorang perempuan, apalagi perempuan muda, mampu menulis buku sehebat Saman dan Larung!"

Meskipun demikian bukan berarti hanya karya Ayu Utami saja yang mewakili KUK di luar negeri. Citra KUK sendiri sebagai komunitas dan sebagai tempat pun cukup berhasil dikonstruksi sesuai dengan kepentingan komunitas itu sendiri. Di website Prince Claus Fund saya menemukan keterangan bahwa KUK menjadi Network Partner Prince Claus Fund dari tahun 2004 sampai 2007, dan menerima dana sebesar 163.746 Euro selama 3 tahun tersebut.

Sebagai alasan mengapa KUK dianggap pantas didukung serupa itu, antara lain dijelaskan: "Komunitas Utan Kayu operates in a newly democratic Indonesia where freedom of thought has not been fully accepted. Therefore, its political concerns involve combating narrow-mindedness along with its mission to promote quality in the arts. However, even with the changing political landscape it has detected a level of intolerance amongst civil groups that prevents the development of free thought. Most of the recent cases of intolerance are based on the manipulation of religious identity."

Seperti Ayu Utami, KUK direpresentasikan sebagai perkecualian dalam masyarakat Indonesia: Masyarakat Indonesia konon belum mampu hidup demokratis, tidak bisa menerima kebebasan berpikir dan bersifat intoleran, sehingga membutuhkan KUK sebagai contoh kemajuan, demokrasi dan toleransi! Klaim sejenis yang lebih mencolok lagi kebohongannya muncul di sebuah artikel majalah mingguan Jerman, Der Spiegel, edisi 23 Desember 2005. Setelah mengunjungi KUK dan berbincang dengan Ayu Utami (lagi!), wartawan Jurgen Kremb menulis (dalam bahasa Jerman):

"Di tempat ini (KUK -- pen) dasar-dasar Indonesia modern diletakkan beberapa waktu yang lalu. Pada musim panas 1994 ketika atas perintah Suharto tiga majalah berita dibredel, sekelompok wartawan dan pengarang membeli rumah yang tidak terawat dengan alamat Utan Kayu 68 H dan melawan rejim diktator dengan mendirikan sebuah penerbit. Kelompok alternatif kiri terbentuk, dan demonstrasi massal 1998 yang menyebabkan jatuhnya sang diktator dimulai dari sini."

Kalau kita melihat betapa Ayu Utami dan KUK direpresentasikan dengan cara yang begitu tendensius dan menyesatkan di beberapa media di Jerman dan negara lain di Eropa, wajar kalau kemudian timbul sebuah pertanyaan: Apakah pembaca Eropa memang begitu mudah tertipu? Dalam kasus representasi KUK di situs web Prince Claus Fund dan di Der Spiegel saya rasa pembaca awam hampir tidak mungkin memeriksa kebenaran informasi yang diberikan. Prince Claus Fund dan Der Spiegel yang seharusnya lebih bertanggung jawab dalam melakukan riset. Dan tentu KUK pun seharusnya bertanggung jawab dalam memberi keterangan mengenai dirinya.

Tapi, bagaimana dalam kasus Saman? Bukankah pembaca Jerman bebas membentuk pendapatnya sendiri dengan membaca novel itu secara langsung? Saya rasa memang demikian, tapi kebebasan itu ada batasnya bagi pembaca Jerman yang tidak mengenal dunia sastra Indonesia.

Contoh yang menarik adalah resensi Birgit Koe di radio Jerman, Deutschlandradio (17 Desember 2007). Koe membandingkan Saman dengan sebuah puzzle yang tidak berhasil diselesaikan sehingga gambar yang utuh dan dapat dipahami tidak terbentuk. Dengan kata lain, Koe bingung, apa sebetulnya yang ingin disampaikan Saman.

Namun kebingungan itu tidak membuatnya menyimpulkan bahwa novel itu kurang berhasil, tapi justru dipahaminya sebagai bagian dari pengalaman baca "sebagai pembaca Barat" yang berhadapan dengan karya sastra asing. Mungkin memang begitulah cara bercerita khas Indonesia, spekulasinya.

Saya yakin bahwa serupa dengan Koe, sebagian pembaca Jerman yang membeli buku terjemahan sejenis Saman membacanya dengan kesiapan untuk menghormati perbedaan tradisi sastra sehingga mereka cenderung menerima hal-hal yang terasa janggal sebagai kekhasan lokal yang tidak bisa sepenuhnya mereka pahami.

Maka, kalau Saman yang dipilih di antara sekian banyak karya sastra Indonesia untuk disuguhkan kepada pembaca Jerman, wajar kalau cara bercerita ala Saman-lah yang akan dianggap pembaca Jerman sebagai cara bercerita "khas Indonesia". Menurut pandangan saya, penilaian terhadap karya terjemahan itu tidak bisa sepenuhnya dipercayakan atau dibebankan kepada pembaca Jerman. Karena, penilaian mereka sejak awal sudah diarahkan, lewat pilihan karya yang dianggap pantas diterjemahkan, kemudian diarahkan lebih lanjut lewat informasi yang diberikan kepada mereka mengenai pengarang dan latar belakang karya.

Maka, institusi dan orang-orang yang terlibat dalam proses pemilihan karya tersebut memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Dalam kasus Saman, menurut pengamatan saya, tanggung jawab tersebut sudah diselewengkan.

Lanjuuuut...

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates
Layout has developed by Riki Dhamparan