Bagian 1
Jumat 17 Oktober 2008. Tradisi baru sedang dimulai di jawatan jawatan resmi pemerintahan propinsi NTB. Mengikuti anjuran gubernur baru TGH Zainul Majdi, setiap intstansi pemerintahan di NTB sekarang sedang menampilkan sisi islami mereka pada hari Jumat. Para pegawai ke kantor mengenakan peci dan pakaian ala santri. Sedangkan para pegawai perempuan mengenakan jilbab atau kerudung. Tak terkecuali di Taman Budaya NTB di jalan Majapahit, Mataram. Kegiatan ngopi pagi di warung Pak Jek di sebelah Taman Budaya tampaknya sedang ditunda demi mengikuti anjuran gubernur tersebut. Penceramahnya adalah kepala taman budaya sendiri, Mamik Agus Faturahman.
Karena saya bukan pegawai taman budaya, tentu saja saya tak mengikuti kegiatan itu. Saya hanya melihat ini sebagai hal baru yang cukup menarik di bulan pertama pemerintahan gubernur NTB TGH Zaenul Majdi. Jadi sekarang setiap kepala jawatan tampaknya dituntut untuk melengkapi pengetahuan agama Islamnya agar bisa memberikan ceramah agama setiap hari jumat. Seorang birokrat sekaligus adalah seorang penceramah agama. Itulah tampaknya gebrakan pertama gubernur baru di bidang birokrasi. Suatu fenomena yang mungkin sudah diperkirakan banyak orang sebelumnya. Lantaran latar belakang sosial dan kultural gubernur NTB sekarang adalah dunia pesantren.
Saya sendiri belum mendapat informasi yang detail mengenai anjuran tersebut. Cuman dikabarkan hal tersebut memang untuk menuruti anjuran gubernur. Jadi agar kelihatan taat kepada gubernur, instansi - instansi pemerintahanpun melakukannya.
Marilah kita berpikir positif saja. Kita lihat anjuran untuk berpakaian islami serta ceramah agama di hari Jumat tersebut memang sebagai upaya untuk melakukan pembenahan mental di bidang biokrasi. Sebab mental yang baik (dalam hal ini yang sesuai dengan agama Islam) diyakini bakal menghasilkan kualitas birokrat ataupun aparatur negara yang baik pula. Siapa tahu saja dengan sering - sering mendengar ceramah agama, seorang pegawai jawatan yang tadinya suka nilep uang bakal mengurangi kebiasaannya lantaran malu dengan pengetahuannya sendiri. Siapa tahu saja kepala jawatan yang tadinya punya niat korupsi, lantas menunda niatnya karena malu pada kopiah dan baju koko yang dikenakannya setiap minggu. siapa tahu, kan begitu...hehehe
Memang, penerapan kultur santri dalam usaha memperbaiki birokrasi pemerintahan belum pernah teruji secara nyata di negara kita lantaran memang birokrasi kita tidak dilandaskan kepada aqidah dan adab Islam. Tetapi berlandaskan profesionalisme khas Indonesia. Yakni profesionalisme campuran budaya feodal dan modern sedikit.
Kita bahkan belum mempunyai suatu referensi yang cukup meyakinkan untuk dijadikan teladan bagi penerapan suatu kultur Islam ke dalam pemerintahan itu. Baik referensi di dalam negeri maupun di luar negeri. Negara - negara Islam saat ini (mungkin bisa dikecualikan Persia) adalah negara - negara kurang beruntung yang bangunan birokrasinya lebih banyak berdiri di atas prinsip modern barat. Kebanyakan negara itu bahkan tidak cukup punya posisi tawar di dunia internasional karena sangat menggantungkan segala sesuatunya dari keinginan negara - negara pusat korporasi dunia seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat.
Tak terkecuali persekutuan - persekutuan internasional berbendara Islam seperti OKI dan lain - lainnya. Semuanya tak berdaya di depan kekuatan korporasi internasional itu. Kata orang Melayu, kalangan Islam secara internasional saat ini hanya bisa angguk - angguk balam saja kepada kehendak korporat internasional itu. Tinggal Yes, Sir! saja. Sehingga sulit bagi kita untuk meneladan kepada mereka.
Fenomena kurang beruntung itu terlihat juga pada penerapan syariat Islam di dalam negeri. Lihatlah sekarang Aceh, yang karena suatu kehususan lantas diperbolehkan menerapkan syariat Islam di dalam negeri Aceh. Al hasil, kita melihat wajah Islam yang terkesan kampungan. Islam itu sejauh ini di Aceh hanya mampu menghukum tukang judi ataupun pezina kampung di depan umum, ditontonkan di tivi dan orang - orang di seluruh dunia melihatnya dengan senyum - senyum.
Belum kita lihat pengaruh Islam itu dalam menangkap koruptor - koruptor besar, memperbaiki kehidupan pasca tsunami secara mandiri, mengurangi kekerasan politik dan bagi kemajuan cara berpikir orang Aceh sendiri dalam mengimbangi kemajuan dunia internasional. Misalkan kita ke Aceh sekarang ini paling - paling kita hanya bisa belajar bagaimana mengenakan jilbab di depan umum. Entahlah kalau seribu ke depan.
Fenomena ini tentu tidak lantas membuat kita sangsi kepada Islam sebagai landasan kultural maupun landasan kebangsaan. Sejarah juga menunjukan bahwa ada masanya Islam itu berjaya menegakan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan, membebaskan manusia dari keterbelakangan, dan betul - betul berjaya di segala bidang.
Kita sering dengan bangga menceritakan bagian - bagian yang gemilang dari sejarah itu. Kita sering mengulang - ngulang kenangan tentang Baghdad masa silam, Andalusia, konstatinopel dan sebagainya.
Hanya saja kita jarang mendalami bagian - bagian mana saja yang membuat Islam itu berjaya. Kita lebih sering berpikir formalisme ketimbang mutual. Kita pikir Islam itu cukup ditegakkan dengan memelihara jenggot, membuat sinetron wali songo ataupun membangun masjid megah banyak - banyak. Padahal bukan demikian. Di sinilah perlunya kita belajar sejarah secara kritis dan kualitatif. Agar pilihan kita kepada Islam tidak meleset menjadi sekedar performance sosial.
Di Indonesia, orang sering mengatakan bahwa sedang muncul suatu gejala baru yang digerakkan oleh semangat untuk ber-islam ria. Secara politik, islam yang sempat dibungkam di zaman orde militer, sekarang mulai menguatkan pengaruhnya melalui partai dan organisasi - organisasi massa. Secara sosial budaya pun terjadi peningkatan yang signifikan dalam meningkatkan pengaruh itu. Yakni melalui adaptasi yang intens dengan kultur pasar global yang menguasai hajat hidup bangsa kita. Hal itu terbaca misalnya pada padatnya rating acara bernuansa islam di media televisi. Mulai dari ceramah subuh sampai sinetron sinetron horor yang berlatar kehidupan orang islam.
Boleh dikatakan, dalam masa beberapa tahun terakhir ini islam telah hadir menjadi performance massal yang paling ajaib dalam sejarah orang islam di Indonesia. Kejaiban itu sejalan dengan meningkatnya tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok - kelompok berbendera islam terhadap kelompok lain yang berbeda pahamnya, meningkatnya jumlah koruptor serta skandal seks tokoh - tokoh yang berasal dari partai islam.
Apakah kita kaget? Tidak juga. Islam yang tampil di dalam kehidupan orang Indonesia saat ini sebenarnya menggambarkan pengertian yang kita miliki tentang islam itu sendiri. Yakni islam sebagai fashion atau apa yang tadi kita sebut dengan istilah performance sosial. Kita tidak mengukur mutu keislaman kita melalui kemampuan islam itu untuk memperbaiki tatanan kehidupan bagi semua orang, melainkan melalui dua hal mendasar. Yakni pertama, upaya menyesuaikan diri dengan kultur pasar global. Kedua, merebut akses politik.
Hal pertama terlihat di dalam perilaku kita terhadap wacana. Sebagaimana kita ketahui, kultur pasar global antara lain dibangun dengan kegilaan yang berlebihan terhadap wacana dan reaksi atas wacana. Dalam kasus orang Indonesia berarti reaksi terhadap impor wacana. Perhatikanlah bagaimana saat ini Islam dibicarakan. Sebagian besar temanya tergantung dari wacana yang dilemparkan dari pusat kekuatan global (dalam hal ini adalah opini publik Barat). Bahkan Islam itu sendiri saat ini seolah hanya sepotong wacana karena kita mengunyahnya dengan cara yang sama dengan cara yang dilakukan oleh masyarakat global saat membicarakan Islam. Manakah menurut Anda tema Islam saat ini yang benar – benar berasal dari kalangan Islam itu sendiri dan bukan sebagai reaksi atas tema – tema yang dilemparkan ke panggung opini publik global?
Demokrasi, Liberalisme, Homoseks, Pornografi, terorisme adalah wacana global yang direaksi balik dengan beragam opini dan sikap oleh kalangan Islam. Bahkan sekarang tema – tema tersebut menjadi begitu dominannya dalam tulisan – tulisan kaum intelektual Islam mengenai Islam, menjadi label.
Jadilah sekarang orang Islam itu terpecah pecah berdasarkan kehendak wacana global itu. Sampai – sampai ada yang memasang label Islam Liberal, Islam pendukung Homoseks, Pendukung Terorisme, pendukung pasar uang, pendukung suku bunga tinggi dan sebagainya. Maka kalau dulu di zaman Islam mula – mula berkembang sebagai agama internasional, Islam itu terbelah – belah karena aneka paham yang tumbuh dari dalam diri Islam itu sendiri, sekarang terbelah karena kehendak dari luarnya.
Sayang sekali memang, kita sepertinya tak kan sempat melihat Islam itu bergerak sesuai kebutuhan dan kemauannya sendiri yang mandiri bagi kemajuan seluruh manusia dan yang berdasarkan kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad Saw yang sudah jelas. Waktu kita habis untuk mendengarkan serta melihat orang Islam bereksperimen dengan kemauan – kemauan pasar global itu. Sayang sekali memang.
Bersambung