Sajak Bukan Manusia Tapi Sebuah Afrizal Malna

...Afrizal bukan manusia/ tapi nyaris seperti manusia...

Itulah di antara baris paling menarik dari sebuah sajak yang menurut saya merupakan sajak terpenting sepanjang tahun 2007 dan 2008 khususnya kalau mau bicara tentang Afrizal Malna. Ditulis oleh seorang penyair muda asal Lamahala, NTT bernama Bara Pattyradja dan setahu saya belum pernah dipublikasikan di media massa.


Afrizal Malna, penyair yang dimaksud dalam baris sajak tersebut memang dapat dikatakan salah satu penyair terantik Indonesia dari generasi penyair kemunculan tahun 90-an. Antik karena sajak - sajaknya seolah berasal dari sebuah zaman antah berantah yang belum mempunyai tradisi tulis menulis yang mapan. Amat lugu dan naif, cerewet, tapi mati - matian mendukung bentuk puisinya dengan sejumlah referensi filsafat zaman baru. Khususnya filsafat bahasa anti bahasa(maaf,saya tak tahu nama persis filsafatnya).

Agar tak terlalu bingung, berikut ini saya kutipkan beberapa sajak Afrizal tersebut.

Pagi-pagi sekali hutan telah bangun dan berjalan ke kamar hotelmu. Hutan yang berjalan, bayangannya seperti jubah matahari. Disel telah mati. TV telah mati. Ada musang mengambil kepala ayam. Anak-anak babi berebut tetek ibunya. Aku menari, tubuhku terbuat dari oli dan obat tidur. Pagi-pagi sekali. Pagi-pagi sekali batang-batang pohon berjatuhan dari perutku. Gelondongan-gelondongan kayu, pagi-pagi sekali, gelondongan-gelondongan kayu mengapung di sungai Mahakam, diseret oleh ribuan kapal yang seperti menyeret tubuh ibumu pagi-pagi sekali. Ibu yang dilahirkan dari rahim Dayak Bahau. Namaku Lung Ding Lung Intan. Aku juga dipanggil Daleq Devung dan Joan Ping. Bapak dan hinangku adalah sepasang burung elang yang terbuat dari karung plastik. Malam ini aku sedang berhudoq, menari hingga perahu-perahu melaju di permukaan pagi. Pagi yang membuat pusaran- pusaran air di Tering Seberang.(Bau Airmata di Bantal Tidurmu)

Nah,lo! Apa kira - kira yang ingin diucapkan penyair ini? Sejujurnya, saya sendiri juga tak tahu bagaimana cara menikmati sajak model Afrizal ini. Namun agar tak kelihatan terlalu bodoh, baiklah saya akan berpura - pura tahu alias berpura - pura mengerti saja.

Menurut saya sajak ini tentang orang lagi nonton tivi. Mungkin sebuah film kartun. Karenanya ada baris kalimat "hutan telah bangun". Itu kira - kira adalah sebuah tampilan slice gambar bergerak di layar kaca. Kemudian Afrizal sakit perut lalu ingin ke wc, lalu buang hajat di situ. Kebetulan kotoran yang keluar agak keras, maka ada batang - batang pohon dst.

Film kartun berganti siaran berita pencurian kayu gelondongan di Kalimantan, maka adasungai mahakam dst dst dst

Bagaimana bisa demikian? Saya juga tidak tahu. Kan tadi saya hanya berpura - pura tahu. Yang jelas dasar saya dalam melihat sajak - sajak Afrizal adalah pernyataan saya di atas (ini serius lho), sajaknya berasal dari dunia antah berantah tanpa tradisi tulis yang mapan.Dalam sajak Afrizal semua hal di dunia ini selalu baru saja akan sedang belajar karena itu gampang dibodohi dan disulap sesuai keinginan penyair. Kotoran disulap menjadi batang - batang pohon, rosa disulap menjadi micropon dan seterusnya dan seterusnya. Nah lo ;p

Pertanyaannya kemudian adalah apa dasarnya untuk menyebut Afrizal sebagai penyair jika dalam menulis kalimat saja tidak sesuai dengan EYD alias masih terbata - bata?

Sebelumnya marilah kita cari definisi penyair itu terlebih dulu. Menurut Wali Penyair Indonesia, Amir Hamzah,penyair adalah orang yang ...hamparkan badan ditubir bibir penaka durjana.../jadi tanda di hari muka(Astana Rela). Artinya penyair itu membawa watak martir dalam usahanya mencapai bahasa. Penyair adalah orang yang siap sedia berputih mata mengorbankan diri demi bahasa. Demi sebuah ranah yang dalam sajak Amir Hamzah di atas disebut sebagai penaka durjana.
Ruffle-Feather.Get from Internet

Afrizal adalah salah seorang yang semacam itu. Lantaran dia siap sedia untuk tidak dimengerti oleh kita yang bodoh - bodoh ini, siap sedia menghancurkan keterbatasan bahasa demi ketakterbatasan bahasa. Pokoknya dia siap sedia go to space meninggalkan cara pikir kita yang bodoh - bodoh ini tentang bahasa.

Kegiatan persulapan (ribuan kapal menyeret gelondongan kayu di sungai Mahakam, di taman membuat wortel dan lain sebagainya)di dalam sajak - sajaknya merupakan wujud dari pengorbanan yang semacam itu.Pengorbanan itu dilakukan agar konon katanya, penyair dapat menemukan bentuk pengucapan yang baru, menciptakan bahasa baru...laksana Tuhan ye...

Wah Afrizal kayak anggota alqaeda dong, pake korban korbanan segala ;p. Ya mungkin saja sama. Karena pengertiannya tentang bagaimana menciptakan dunia baru itu sama. Bedanya hanyalah Afrizal gak sungguh - sungguh mati. Kan dia hanya nulis puisi. Kira - kira kalau dicari hubungannya dengan ayat Al quran dan hadis Nabi Saw, Afrizal maupun para penyair semacam dia termasuk ke dalam mereka mengucapkan apa yang tidak pernah mereka lakukan...

Kembali kepada puisi Bara Pattyradja di atas. Lalu apa hubungannya pendapat saya di atas dengan baris sajak Bara pattyradja yang dikutip di bagian pembukaan di atas?Afrizal bukan manusia/tapi nyaris seperti manusia?. Pertama - tama, sajak ini adalah sebuah parodi tentang Afrizal. Jadi tidak mungkin lahir tanpa pergulatan yang serius dengan sajak - sajak Afrizal. Umpama orang memanah, Bara pattyradja tampaknya sudah membidik bagian paling inti dari sebuah Afrizal. Yakni Afrizal sebagai sebuah perumpamaan. Sebagaimana pendapat saya di atas, daya martir atau daya jihad fisabilsyair atau sedia hancur lebur demi puisi dalam kerja - kerja eksperimen bahasa sebuah Afrizal Malna secara keseluruhan mencerminkan upaya Afrizal untuk menjadi sebuah perumpamaan. Saat menulis puisi, ia bukan lagi seseorang, tapi sebuah atau sesuatu.

Sebuah Afrizal adalah sebuah pengandaian dari kehidupan real yang ada hari ini. Yang demikian absurd, terputus satu sama lain dan karena itu tak mungkin dipahami dengan lurus. Sebuah Afrizal adalah sebuah dunia yang tersihir oleh televisi, ke dalam benda - benda, dunia yang semu dan kadang tanpa arti tapi punya banyak keinginan. Sebuah Afrizal kemudian menuliskannya dengan begitu lugu agar - mungkin begitu maksudnya - orang dapat melihat keadaanya sendiri melalui puisi - puisi Afrizal. Kesimpulannya, dengan cara menjadikan dirinya sebagai perumpamaan, maka Afrizal tentu saja bukan seorang manusia. Ia hanya mirip manusia. Sebagaimana dikata dalam baris sajak Bara Pattyradja di atas.

Apakah penjelasan ini membingungkan Anda? Kalau gitu, sama deh. Saya juga bingung. Lagian kita ngomongin soal Afrizal sih...Tapi tenanglah. Saya tidak menganjurkan Anda untuk percaya pada tulisan ini dan tidak menganjurkan tulisan ini untuk dikutip sebagai bahan kuliah atau bahan tulisan. Sebab tulisan ini hanya tentang hal sepele - sebuah Afrizal...hehehe. Oke, ya...pamit dulu. Daah...

Selamat 2009
Riki Dhamparan Putra

denpasar, 29 Desember 2008
Lanjuuuut...

Yang Terlupa Dari Manggarai

Kebudayaan (kalau dilihat dari atas perbukitan) adalah sebuah cita rasa estetika. Mungkin terwujud secara tak sengaja melalui keseharian masyarakat pendukungnya. Contohnya seperti Sawah Lodok di Cancar Manggarai sebagaimana tampak di photo ini.
photo by Flores Out-door
Kadangkala disebut juga dengan istilah Sawah Lingko atau Sawah Ulayat. Hanya ada di Cancar ruteng Manggarai, NTT, lho...mungkin kagak ade di Chine. Kira - kira kalau dari Ruteng memakan waktu setengah jam perjalanan naik oto.

Jangan lupa naik kendaraan yang ada jendelanya. Supaya Anda dapat membuang pandang pandang ke lembah - lembah yang terhampar luas di sepanjang jalan.Di situlah kita melihat paduan antara keajaiban alam dan keajaiban citarasa manusia yang sesungguhnya. Sawah - sawah mengapung hijau serupa jaring laba - laba raksasa yang setiap sudutnya diikatkan ke dinding perbukitan. Ada kabut tipis yang sesekali menggelusur jatuh, juga dari perbukitan.
Orang menamainya Sawah Lodok. Dinamai sesuai dengan salah satu cara pembagian tanah ulayat dalam komunitas adat Manggarai, NTT. Konon, dari bentuk artistik persawahan itu tercermin betapa kuatnya hubungan kekerabatan masyarakat Cancar. Menurut sebuah sumber Lodok adalah penyebutan lokal untuk sistem pembagian tanah ulayatnya. Tanah-tanah adat yang disebut lingko dibagi kepada warga dengan sistem lodok. Yakni cara membagi lingko yang dimulai dari teno di pusat lingko. Kemudian menarik garis lurus (jari-jari) hingga batas terluar tanah lingko tersebut sebagai batas (langang).
Proses pembagian sebagai berikut: di pusat lingko ditanam sebatang kayu yang disebut “teno”.Dinamakan teno karena sepotong tiang itu diambil dari sejenis pohon yang dinamakan haju teno.(pohon teno). Teno merupakan pusat lingkaran tanah lingko yang selanjutnya disebut sebagai lodok (titi pusat) Dari teno ditarik garis batas yang disebut langang (batas tanah) sampai ke batas terluar tanah lingko yang disebut “cicing”. (lodokn one cicingn pe’ang).
Berapa besar ukuran besaran tanah di lodok (pusat lingko)? Masyarakat Manggarai membaginya berdasarkan “moso” (satu jari tangan) sebagai dasar pembagian awal. Besaran mosopun sangat relatip, tergantung pada berapa jumlah warga yang akan menerima pembagian di lingko bersangkutan. Makin banyak yang akan menerima, makin kecil ukuran moso, demikian pula sebaliknya makin sedikit jumlah penerima, makin besar ukuran moso. Berapa moso dibagikan kepada setiap orang juga bergantung pada kedudukan orang dalam beo (kampung). Maka dikenal istilah moso biasa (satu jari), moso kina (satu setengah jari) dan moso wase (tiga jari). Warga yang dianggap sebagai pemimpin (tu’a beo / golo) atau tuan tanah (tua teno) biasanya mendapat moso wase (tiga jari) yang merupakan ukuran paling besar. Sedangkan warga lainnya akan menerima moso biasa (satu jari) atau moso kina (satu setengah jari).
Hasilnya adalah suatu contur estetika seperti dalam photo ini.

photo by adventure travel

Mengagumkan bukan? Kalau bukan seperti jaring laba - laba, bentuk ini mengingatkan kita pada sebuah kubah yang terbalik. Mungkin di zaman dahulu kala sekali ada sebuah kubah yang terjatuh dari surga dan jatuhnya tepat di bumi Manggarai kali ya...

Lembor - Labuan Bajo
Manggarai memang dikenal sebagai lumbung berasnya NTT. Khusunya Lembor. Kalau di Cancar (yang lokasinya agak masuk ke selatan dari jalan utama Ruteng - Labuan Bajo) kita menemukan keunikan kultur agraris yang masih terpelihara, di kecamatan Lembor kita dapat melihat betapa suburnya NTT. Dari sinilah kebutuhan beras penduduk disuplay sepanjang waktu.Sebagian besar daerahnya adalah dataran luas persawahan yang di lingkari gugusan perbukitan di kejauhan. Luas sekali terlihat.
Ke sana, ke bukit - bukit di kejauhan itulah oto yang menuju labuan Bajo terus bergerak. Apabila sudah terasa jalan mulai mendaki, siapkanlah diri Anda. Jalan makin sempit ke arah Labuan Bajo, aspalnya sudah banyak yang rusak. Kalau sudah begini, siapkan pula lah diri Anda untuk memaki - maki pemerintah dalam hati karena infrastruktur jalan dan transportasi umum yang buruk (dan ini terjadi hampir di seluruh propinsi NTT). Sangat tak sebanding dengan karunia alam yang diberikan kepada Manggarai ini.
Sekali lagi, silahkan menyumpahi pembangunan yang lalai. Sumpah serapah kita tak kan didengar orang kalau di dalam oto. Sebab biasanya ada musik dipasang keras - keras toh. Apalagi sopir oto Ruteng - Labuan Bajo itu biasanya lulusan STM alias Sopir Timor Modifikasi. Dibentuk oleh campuran kultur santri katolik, budaya lokal, budaya indonesia modern dan pengaruh tuak sedikit hehhehe... .... Jadi sudah pasti suka musik dan suka gila-gilaan di jalan sempit yang di sisinya ada jurang - jurang dalam. Mana sempat memperhatikan kita hehehe. Namun tentu saja pengalaman seperti ini hanya terjadi kalau kita naik bis umum.
Kalau menaiki mobil travel tentu lain lagi ceritanya ya. Flores secara umum ditempati oleh masyarakat yang ramah dan penuh toleransi, fair dan karena itu siapapun yang mengunjungi wilayah ini dijamin merasa aman. Seaman perasaan kita menyaksikan panorama luar biasa saat oto menuruni jalan perbukitan ke arah Labuan Bajo menjelang senja.
Ada gugusan bukit yang berlapis - lapis hingga ke bawah sana. Punggung pulau - pulau yang warnanya berubah jingga karena disepuh lembayung senja. sampai di sini, cobalah mengheningkan pikiran. Rasanya kita sedang berada di garis batas alam nyata dan alam gaib. Matahari yang meninggalkan cahayanya di balik gugusan pulau pulau jauh itu bagaikan sebuah pintu gerbang ke alam lain. sedang oto terus melaju mendekatnya.
Tak lama kita saksikan hal seperti itu. Karena hari segera malam dan malam segera menjemput subuh. Pada saat itulah kita selalu ingin melihat Labuan Bajo. Seekor elang putih melayang ringan ke pucuk menara kapal. Hinggap di sana dan matanya yang tajam memandang ke dasar laut yang jernih, perahu - perahu nelayan, gugusan pulau berpasir halus. Sedang ke seberang sana, laut yang tenang dan jernih itu terus mengalun riak dan cahya. Laut yang sepertinya tak ingin menyembunyikan apa - apa yang ada di dasarnya...
photo by flores out-door
Lanjuuuut...

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates
Layout has developed by Riki Dhamparan