riki dhamparan putra
belimbing,
Mei 2009
belimbing,
bocah gembala itu
susah payah ia memanjat pohon belimbing
dari batang menggapai dahan
menjangkau buah di ujung ranting
di mana rembulan padang
di mana kampung seberang
di tikar pandan mengukur diri
mengikat ruh dengan janji
lihatlah keningnya sampai hitamkerbau,
ceruk matanya tersuruk
bagai pusaran tersembunyi di bawah
lubuk dalam
namun ia sendiri merasa semakin dangkal
sepanjang hari berzikir
bayang tidak menemu badan
tak seorang menyapa
ketika ia turun dengan tangan hampa
tak seorang menuntun
ketika ia kembali naik
ke pohon yang sama
ada terdengar dedaun gugur
temanten anyar
terkulai lemas di tempat tidur
ke sungai jernihkatak,
tanpa isi kepala
si buyung memandikan kerbau yang tak mau mandi
karena tak tahan berdingin
kerbau itu mati
tergugu - gugu si buyung pulang
airmata tak terkubur
air sungai yang jernih ia sesali
sepanjang umur
hingga matanya buta
seseorang sedang membuhulburung pungguk,
masa lampau
untuk menjadi katak katanya
untuk mengikat kata
maka jadilah orang itu
manusia pertama di bulan
seekor burung punggukjalan lurus,
telah tenggelam di laut tak berair
tapi tak binasa
hatinya yang gelap bahkan
terus menyigi lazuardi
seorang nelayan menemukannya
tapi nelayan itu tak pernah lagi kembali
ke rumah
pada titian serambut dibelah tujuh
kamu lah sehelainya
menatih tapi juga ditatih
mengejar dengan tangan dan kaki terikat
di tiang hakikat
jangan memaksa diri
kamu tak akan menemu siapa siapa
di seberang
sebab kamu lah yang ditemukan
pada saat itu
lupakan pintu rumah
demi Sang Tuan
sebutlah Ia Paduka
kata terindah yang pernah dicapai leluhur
serulah Ia dengan suara ayunan cangkul
di tanah keras tanah lumpur tanah kapur tanah subur
di akar dari segala jejak yang lurus
menuju aras
Ia ada di sana
saat engkau baru saja ingin naik ke bukit bukit
atau pun saat
tersesat di lembah lembah curam
tanpa tangga
bahkan bila engkau tak sanggup lagi berdiri
Ia akan memberimu sepasang kaki
lebih kuat dari darah dan tulang belulang
mengangkatmu serupa parasut
tiada pautan
tak ada misal yang sempurna
buat menerangkan hati kepadaNya
sebab Ia bukan misal
dari apapun di alam raya
Mei 2009
1 tanggapan:
Salam Sastra
Kumpulan Puisi Acep Zamzam Noor, Artikel Budaya, Artikel Sastra, Artikel Sosial, Artikel Seni, Lukisan Acep Zamzam Noor dapat di update pada Blog http://acepzamzamnoor.blogspot.com
Selamat Berapresiasi
Post a Comment
katakanlah padaku dengan kata - kata..
(Rabindranath Tagore)