riki dhamparan putra
kura – kura ,
Mei 2009
kura – kura ,
pohon pisangmu Pak Tani
tak kan sekali berbuah
walau lampau
tunasnya kini tumbuh subur di punggung kebun
seekor kura – kura
sabar dalam kerja
daun pun mengembang
pucuk lembut mengulur jantung
telanjang
jantung yang tenang
bunga air di tengah ladang
di dalam batang menyimpan batang
selapis demi selapis lepas
hingga tiada
tinggal tandan dan buah matang
tanda hidup meninggalkan tanda
menunai lunas segala utang
utang waktumu Pak Tanimonyet
bergerak lambat menempuh hari
menempuh janji diri
tapi pohon pisang tak kan sekali berbuah
walau lampau
kenanganku padanya kini merangkak
bagai seekor kura – kura
monyet bodoh itu mengeluh
sebab katanya pisangnya tidak tumbuh
maka datanglah ia ke kebun
kura – kura
tak ada penghuni
di mana – mana ada buah
si monyet yang tak lapar itu pun
tinggal memetik tanpa bersusah payah
maka tersebar kabar angin
ada seorang menjadi monyet karena makan
dari peluh orang lain
peluh kura – kura
peluh Pak Tani
Mei 2009
2 tanggapan:
Rhiki Damparan, Pernah Aku dengar namamu. Salam hangat dari Komunitas Sastra Jogja "Komunitas Tanpa Nama"
salam hangat juga di hari penghujan kepada komunitas tanpa nama
Post a Comment
katakanlah padaku dengan kata - kata..
(Rabindranath Tagore)