FENOMENA GAMES DAN SEDIKIT HARAPAN

Salah satu tanda penting dari era entertainment yang sedang melanda Indonesia adalah sambutan yang demikian antusias terhadap produk – produk permainan (baca lagi: games) yang dikemas dengan kecanggihan tekhnologi dan dipermudah penyebarluasannya melalui internet dan televisi. Tidak percaya?


Cobalah pergi ke sebuah warung internet yang menyediakan fasilitas games khusus dan bandingkan jumlah pengunjung warnet games itu dengan warnet biasa. Sudah dapat dipastikan warnet games lebih banyak dan lebih tinggi intensitas pengunjungnya. Bahkan jika kita ke pedesaan – pedesaan di Jawa, Sumatra dan Bali pada saat ini (saya belum tahu di daerah lain), kita usah heran bila menemukan tempat – tempat bermain games (play station) yang penuh sesak oleh anak – anak dan remaja.

Atau aktifkan browser Anda, kemudian tulislah kata ‘game’ di kolom google search, pasti muncul ribuan nama situs game atau stasiun game yang dapat diakses secara gratis di tahap permulaan. Jika bersabar sedikit, Anda bahkan dapat mendownload permainan – permainan itu ke komputer Anda. Walaupun untuk lebih menikmati permainan yang lebih banyak dan panjang Anda harus menyertakan nomor rekening Anda atau membayar melalui visa dan credit card.

Situs – situs tersebut populer disebut Games Shop atau Toko Game Online. Menyediakan hampir seluruh yang kita impikan tentang dunia permainan dan merupakan situs yang banyak menyedot pengunjung bahkan mengalahkan situs sex sekalipun. Perkembangan games itu sendiri sungguh luar biasa kalau dilihat dari segi kreatifitas. Melampaui hampir seluruh bidang kreatif yang lain seperti film, musik, seni rupa, arsitektur dan seni – seni lain.

Bisa Anda bayangkan, pada masa ini seluruh karya kreatif yang tadinya hadir sebagi media tulis, media gambar, dapat dan telah dialihkan menjadi permainan – permainan yang menarik lantaran kemajuan di bidang tekhnologi. Khususnya tekhnologi efek gambar. Film – film box office seperti Star Wars, Harry Potter, Batman, hingga serial Avatar, Naruto, dan komik – komik populer lainnya memiliki versi gamenya sendiri. Begitu pula halnya dengan liga champions, piala dunia, pertandingan – pertandingan antar klub sepakbola terbaik dunia, dapat kita nikmati kembali melalui produk – produk games yang dipasarkan melalui keping vcd dan internet.

Kita bisa menaruh David Beckham di klub pilihan kita, Ronaldo di Persebaya, pemain Gelora Dewata di AC Milan hanya dengan membayar Rp 3000 per jam. Kita juga bisa memenangkan klub Persib Bandung atas klub Liverpool. Kita dapat memilih untuk menjadi siapa saja dan apa saja dari salah seorang bintang yang kita idolakan. Semua yang tidak mungkin, dibuat seolah – olah menjadi mungkin dan setiap orang bisa menjadi pelaku utamanya. Setiap orang adalah bintang! Inilah daya sihir game yang terpenting. Berbeda dengan tayangan sebuah film, dunia games tidak berupaya mentranformasikan gagasan ceritanya kepada penikmatnya. Sebaliknya, membuka jalan kepada penonton atau penikmat itu untuk menjadi pelaku langsung dari kisah tersebut.


Kreatif Dan Produktif


Perkembangan industri games tidak hanya mewujudkan impian kita untuk menjadi hero melalui bintang – bintang dalam sebuah permainan itu. Tetapi juga menampilkan dirinya sebagai media pembelajaran tentang banyak hal dalam aktivitas keseharian. Sebagai misal, games tentang belajar berpakaian bagi anak – anak, belajar pacaran, olahraga, petualangan, sex , bahkan jika kita punya obsesi untuk menjadi seorang profesor luar angkasa. Semuanya ada.


Kesadaran bahwa melalui games segala sesuatu dapat dipelajari tanpa harus merasa bosan, tampaknya telah mendorong sementara kalangan kreatif dan kalangan pendidikan untuk menjadikan games sebagai alternatif media pembelajaran kebudayaan yang efektif atau seolah – olah efektif. Hal ini sesuai dengan falsafah “belajar sambil bermain”.


Di sinilah kita melihat kemampuan masyarakat virtual internasional dalam mengembangkan daya kreatifnya. Melalui program yang disebut E-Learning, dipromosikanlah situs – situs yang berisi paket belajar cepat dengan kemajuan media ICT (Information and communnication Technology). Setiap paket dari situs itu dapat berisi ratusan kategori dengan ribuan tutorial untuk masuk ke link link situs belajar yang lain. Semuanya disajikan dalam kerangka education.

Model ini konon telah dipergunakan oleh ribuan bahkan mungkin jutaan orang setiap hari di seluruh dunia meskipun terkendala bagi anak – anak yang miskin karena harus membayar dan bagi masyarakat tertinggal yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang ICT. Games seakan telah menjadi sarana paling memungkinkan untuk mewujudkan strategi kebudayaan di sebuah era yang di dalamnya seluruh daya kreatif dikemas untuk melayani hasrat yang meluap – luap kepada fantasi.

Bagaimana di Indonesia? Inilah pertanyaan pokoknya. Selama ini hampir seluruh telaah budaya yang dihasilkan tentang fenomena budaya baru kita selalu berhenti pada kesimpulan yang tidak menyenangkan. Yakni betapa konsumtifnya masyarakat kita. Hal ini lambat laun membuat kita semakin minder pada setiap perkembangan yang digerakkan dari kemajuan tekhnologi luar negeri.


Fenomena budaya yang di negeri – negeri lain dapat diubah menjadi sumber energi baru untuk mengembangkan kemampuan produksi nasionalnya, di negeri kita tetap menjadi energi yang negatif alias jalan buntu. Lantaran kita tidak cukup memiliki kemauan untuk menjadikan fenomena itu sebagai sumber kreatifitas dan produktifitas kita. Alhasil, kita melulu jadi konsumen massal bagi setiap perkembangan yang ada.

Di sinilah saya kira perlunya membangun dialog yang intens tentang bagaimana melihat sebuah fenomena sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi sumber energi kreatif dan dikelola secara produktif. Taruhlah misalnya, fenomena games sebagaimana yang telah kita gambarkan tadi merupakan bagian dari apa yang disebut lupa budaya. Namun sesungguhnya di dalam fenomena tersebut terdapat ranah imajinasi yang sedemikian kaya dan dengan memanfaatkan kemampuan tekhnologi dapat diubah menjadi produksi.

Lagi pula kita tak pernah kekurangan bahan untuk mengambangkan produksi di bidang ini. Bahan – bahan yang berasal dari kebudayaan rakyat kita tidaklah terhitung jumlahnya kalau mau dikelola sebagai potensi kreatif. Juga kita tidak kekurangan SDM yang dapat menjalankan kerja serupa itu. Ribuan orang sarjana IT lulusan berbagai perguruan tinggi di negeri kita, saat ini sesungguhnya sedang menunggu suatu kebijakan resmi yang dapat memfasilitasi bakat serta kepandaian mereka untuk digunakan bagi pembangunan budaya masyarakat. Jangan biarkan mereka jalan sendiri – sendiri sebagai klub kreatif atau sebagai lembaga profit swasta dalam mendayagunakan kemampuannya. Pemerintah dapat memfasilitasi mereka dengan menyiapkan rancangan – rancangan kerja yang sensitif atas setiap fenomena terkini budaya kita.

Sekurang – kurangnya pemerintah mempunyai rumusan standar tentang bagaimana membangun sinergi yang berkesinambungan antara pekerja – pekerja IT tersebut dengan ‘pengkhayal – pengkhayal’ kebudayaan seperti seniman dan sastrawan yang jumlahnya tak terhitung itu. Apabila ini bisa diwujudkan, saya kira fenomena yang tadi konsumtif dapat diubah menjadi produktif. Saran saya, mulailah dari fenomena games ini. Jadi kalau kemaren hanya pengakses situs games yang disediakan pekerja kreatif luar negeri, sekurang – kurangnya sekarang para penggemar games cukup mengakses situs ciptaan anak negeri. Bukan tak mungkin pula bagi kita untuk jualan situs games kepada khalayak luar negeri. Sehingga kekalahan budaya dapat diubah menjadi prestasi.

Denpasar, mei 2008

catatan: esai ini dituliskan sebagai bahan masukan untuk Komunitas Kreatif Bali
Lanjuuuut...

Awas Zionis Di Depan Rumah

Salahlah kita, kalau mengira tak perlu terlibat dengan penderitaan orang Palestina. Hanya karena Palestina itu jauh, hanya karena kita bukan orang Palestina? Salah juga kita kalau menyangka kezaliman Israel di Palestina adalah sebuah takdir yang telah tercantum di dalam kitab suci kitab suci Samawi. Sama seperti salahnya kita karena percaya pada propaganda Yahudi yang mengatakan Palestina itu sebagai tanah yang dijanjikan. Sehingga banyak orang berpikir bahwa perang di Palestina adalah perang agama

Tidak begitu sesungguhnya. Bahkan kata “perang” yang biasa digunakan media massa dalam memberitakan Palestina itu sendiri tidaklah tepat. Itu semacam dusta semantik yang direkayasa sedemikian rupa agar seolah – olah ada perang antara dua kekuatan seimbang di Palestina. Yaitu antara Palestina dan Israel. Padahal bukanlah demikian kejadiannya.

Sebab yang terjadi di Palestina itu benar – benar sebuah kezaliman. Yaitu kolonialisme. Ada bangsa yang kuat namanya Israel. Menjadi kuat karena didukung tangan yang kuat namanya sekutu yakni Amerika Serikat dan Inggris dan negara sejenis. Nah mereka inilah yang mengambil Palestina dari orang Palestina.

2 November 1917, Inggris merilis sebuah deklarasi yang dikenal dengan Deklarasi Balfour yang isinya mengenai pembentukan negara bagi orang – orang zionis israel (ingat, zionis itu beda dengan Yahudi lho) di Palestina. Nama Balfour itu sendiri diambil dari nama perdana menteri inggris arthur james Balfour yang mencetuskan deklarasi balfour tersebut.

Tujuan dari deklarasi ini adalah untuk menjaga kepentingan Inggris di kawasan Timur Tengah yang saat itu dalam penguasaan mereka setelah melemahnya Kesultanan Ottoman Turki yang telah memimpin Palestina Arab dan sebagian Eropa selama 400 tahun dengan selamat sejahtera berdasarkan sistem pemerintahan wilayah yang disebut dengan "miller" atau sistem bangsa. Dalam sistem model ini Kesultanan Ottoman menguasai mediteranian dan menjadi penentu bagi hubungan timur - barat kala itu. Namun ottoman melemah dan akhirnya dianggap runtuh jatuh pada tahun 1918.

Tentu saja kesempatan ini tak disia - siakan oleh inggris yang sejak lama berambisi menjadi kekuatan tunggal di sepanjang jazirah arab. Salah satu strategi mewujudkan ambisi itu adalah dengan mengeluarkan deklarsi Balfour itu.

Pada waktu deklarasi balfour dirilis ini, populasi orang Yahudi di Palestina hanya 10 persen dari jumlah keseluruhan warga Palestina. Dan baik orang yahudi maupun orang Eropa tau kalau yahudi tidak berhak atas Palestina. Hal itulah yang menyebabkan deklarasi balfour mendapat tantangan cukup keras bahkan dari bangsawan inggris sendiri kala itu.

Hanya saja "kepentingan kawasan" tentu lebih penting bagi inggris. Pemindahan orang - orang Yahudi dari negeri - negeri di Eropa terus dilakukan dengan berbagai cara. Termasuk melalui teror dan pemaksaan atas orang -orang Yahudi yang menolak.

Di wilayah arab sendiri terjadi protes keras dan perlawanan walaupun dapat dipatahkan. Selama 30 tahun kemudian kita ketahui inggris menjadi pendukung utama zionis israel untuk mengkoloni Palestina.

Koloni, itulah kata kunci yang paling objektig untuk digunakan apabila kita hendak menulis sejarah israel dan sekutunya di Palestina. Sebagaimana kita ketahui, tahun dirilisnya deklarasi balfour tersebut masih berada dalam era puncak dari sebuah era imperialis – kolonialisme. Yakni suatu era yang menjadikan penjajahan sebagai ideologi demi mendukung atau mempertahankan industri di negara – negara kolonial Eropa. Prinsip dari ideologi kolonial ini adalah bangsa industri barat berhak melakukan penjajahan atas dunia lain dikarenakan mereka merasa memiliki berkah evolusi lebih dari bangsa – bangsa lain.

Menurut pakar islam dan tmur tengah, Harun Yahya, paham kolonialisme yang semacam itu secara langsung berjalin berkelindan dengan paham zionisme Yahudi yang dipropagandakan pertama sekali para pemimpin perintis zionis seperti Theodor Hezrl, Max Nordau, dan Mandelstamm. Mereka para pendiri zionis ini merupakan para pendukung fanatik kolonialisme itu dan bukannya orang yang beriman kepada kitab suci.

Diceritakan dalam banyak sumber sejarah, tadinya para pemimpin zionis ini pertama sekali berpikir mengambil Uganda. Bukan Palestina. Rencana tersebut dikenal dengan Uganda Plan.Tapi pikiran itu berubah ke Palestina. Tentu karena riwayat Palestina lebih bisa memberi banyak legitimasi atas rencana – rencana koloni mereka. Dan lebih penting lagi adalah karena ini: mereka mengetahui kalau di bawah bumi Palestina itu terkandung masa depan industri, yakni sumber energi yang disebut minyak bumi dan belakangan uranium.

Sampai di sini menjadi jelaslah bagi kita alasan apa yang membuat negara negara macam amerika serikat dan inggris itu harus habis – habisan mendukung zionis Israel.

Tahun 1947, inggris yang banyak merugi di perang dunia 2 merancang sebuah resolusi untuk membagi Palestina. Berdasarkan resolusi tersebut, daerah yang lebih luas diserahkan kepada minoritas Yahudi. Resolusi tahun 1947 yang membagi tanah Palestina sangat merendahkan negara-negara Arab yang buntutnya adalah perang tak seimbang antara negara-negara Arab dan Yahudi. Tahun 1948 inggris secara resmi menyerahkan pendudukannya atas palestina kepada PBB. Dengan kata lain, zionis israel pada saat itu sudah tidak menjadikan inggris lagi sebagai mitra tunggalnya. Perang dunia ke 2 memunculkan negara adidaya baru bernama AS. Negara inilah yang kemudian menjadi mitra utama zionis israel.

Perang pada tahun 1948 berakhir dengan dikeluarkannya resolusi berisikan pembentukan negara Yahudi di atas 80 persen luas tanah air Palestina. Tahun 1967, zionis berhasil semakin memperluas tanah jajahan Palestinanya yang dibarengi oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 242 yang pointnya untuk mengukuhkan pendudukan israel atas daerah-daerah Palestina.

Tahun 1979, amerika serikat memaksakan perjanjian Kamp David untuk menjamin keamanan israel dari serangan negara-negara Arab, utamanya Mesir. Zionis israel terus memperluas wilayahnya di Palestina dan telah mencakup hampir seluruh Palestina. Tahun 1982 dengan didukung amerika serikat, israel menyerang Lebanon dan mengeluarkan PLO yang dipimpin Yasser Arafat dari sana. Perang berakhir dengan penandatanganan sebuah perjanjian segi tiga Lebanon, Palestina dan israel dengan dihadiri oleh amerika serikat. Perjanjian itu berisikan larangan aktivitas kelompok-kelompok Palestina di Lebanon.

Setelah melihat kronologi di atas, tahulah kita mengapa negara negara industri seperti inggris dan amerika begitu ngotot mendukung koloni israel atas palestina. Kepentingan negara - negara maju atas kawasan timur tengah adalah kepentingan vital yakni pengadaan sumber energi demi menyambung nyawa industri di negara mereka sendiri. Demi itu mereka tak akan peduli sekalipun mengusir orang dari tanahnya sendiri. Itulah yang disebut kolonialisme

Waktu awal muharam lalu zionis israel melakukan agresi atas seluruh wilayah Palestina, tak ada seorang dari pemimpin – pemimpin negara industri Eropa itu yang bersuara apalagi bertindak nyata. Bukan karena tak mampu ataupun mereka beriman kepada sebuah kitab suci, tetapi lebih karena rasa takut mereka melihat belang wajah mereka sendiri di dalam cermin yang bernama Palestina itu.

Sebagaimana telah kita gambarkan sedikit di bagian atas tadi, sebenarnya tidak semua orang Yahudi bersetuju dengan pemikiran zionis yang sekarang telah mempunyai negara bernama israel itu. Karena ada juga orang Yahudi yang jujur dan tahu bahwa yang namanya “zion” itu tak ada dalam kitab suci mereka. Tak ada dalam Lisan Nabi Daud, tak ada dalam sepuluh perintah Musa dan tak ada juga dalam ajaran Nabi Isa. Adanya “zion” itu karena diada – adakan oleh para pengkhayal seperti Theodor Hezl itu, oleh sekelompok orang yang terus menerus ingin menguasai bumi dan mewariskan rencana jahat mereka tersebut kepada keturunan mereka. Lantaran mereka sama sekali tidak percaya bahwa dunia dan isinya dapat dibagi serta dinikmati dengan cara yang diredhai oleh Tuhan dalam kitab – kitab suci. Bagi mereka hanya ada sedikit sekali cara untuk mengambil manfaat dari dunia ini, yakni melalui kolonialisme dan turunannya.

Bahkan sesudah deklarasi balfour dirilis, para pendahulu zionis ini kebingungan untuk membawa orang – orang Yahudi yang tersebar di pinggiran Eropa karena banyak yang meragukan ide zionis yang tidak berdasar itu. Dimulailah kegiatan – kegiatan pemaksaan. Orang – orang Yahudi yang tidak menurut diganggu di seluruh penjuru Eropa. Mereka dipaksa untuk hijrah ke Palestina. Dipaksa berperang dengan orang – orang Palestina yang tanahnya diambil untuk kepentingan zionis dan koloni inggris ketika itu. Lebih buruk tentulah, karena secara pelan – pelan semua yang berlabel Yahudi itu diubah menjadi “zionis”.

Mereka terus menerus berupaya mengubah demografi dan sejarah Palestina demi memberi ruang bagi imigran Yahudi dan pada akhirnya menguasai jazirah Arab secara keseluruhan. Itulah tujuan terakhir mereka.

Dan pada gilirannya ketika gurun pasir Arab itu tidak lagi produktif atau tak bisa lagi dieksploitasi demi menghidupi industri baja dan pesawat mereka, dapat dipastikan kalau zionis dengan semangat kolonialisme industri di belakang mereka itu – akan datang ke kampung halaman Anda. Saya jamin deh, musti begitu. Atau malah mungkin sudah?

Mereka akan dengan mudah mengatakan bahwa kampung halaman anda adalah tanah yang dijanjikan buat mereka, lalu dengan mudah mengambilnya. Mungkin melalui tekanan IMF, kebijakan investasi, mungkin melalui undang - undang perburuhan, bahkan bisa saja melalui demokrasi, kebudayaan atau entah apa yang sekarang begitu anda gandrungi habis - habisan. Tak ada yang tak mungkin bagi makhluk macam zion zion itu.

Masih bagus kalau Anda bisa melawan tanpa henti seperti yang dilakukan HAMAS hingga hari ini di Palestina. Bagaimana kalau ternyata kita hanya sanggup menonton sebagaimana keadaan kita sekarang?

Bayangkanlah kembali hari - hari kita belakangan ini.Kita menonton langsung di televisi, saluran internet dan berbagai media massa mengenai apa yang terjadi di Palestina. Semua itu kita saksikan dengan jelas, terang. Kita melihat bagaimana ibu ibu tua, anak - anak dan seluruh orang Palestina dibombardir setiap tiga jam dengan bom dan roket oleh tentara israel. Kita melihat darah berlelehan dari tubuh bocah bocah tanpa dosa, para pelajar disekap dan resolusi PBB untuk gencatan senjata diabaikan. Tapi kita bisa berbuat apa? Malah kadang kita menyaksikan semua itu dengan perasaan tawar alias nihil. Kita menonton kekejaman laksana menonton film Holywood saja. Mungkin ditemani dengan segelas kopi, atau malah sambil berhibur dengan warna kembang api dan bir malam tahun baru.

Saya harap berhati - hatilah kita terhadap ini: munculnya perasaan nihil. Sebab itu adalah tanda dari hilangnya kesadaran penuh kita sebagai manusia. Kolonialisme dalam bentuk barunya sangat menunggu hal tersebut dari kita. Kolonialisme amat gembira kalau kita kehilangan rasa solidaritas kepada mereka yang tertindas, kehilangan daya spontan untuk membenci kekerasan dan kehilangan kemampuan untuk bersikap kritis secara nyata atas keadaan yang diciptakan oleh kolonialisme itu. Berhati - hatilah! Saya serius!

Lain hal kalau sejak dari sononya Anda mempunyai keyakinan lain. Atau mungkin Anda malah lebih tertarik untuk menjadi seorang zionis atau kolonialis bagi bangsa Anda sendiri ketimbang beriman kepada solidaritas dan berharap kepada dunia yang lebih baik? Atau malah sudah menjadi seorang zionis dalam wujud yang lain?Kalau begitu soalnya, tak tau lagi lah apa mau dikata. Tapi mudah – mudahan gak ya....

Januari 2009
Wasalam,
Riki Dhamparan Putra
Lanjuuuut...

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates
Layout has developed by Riki Dhamparan