Di zaman seribu satu siang malam di kota Baghdad yang masyur, raja Harun Al Rasyd mempunyai sebuah rencana untuk mengerjai Abu Nawas. Ia pun menyamar sebagai tukang monyet dan melatih monyetnya menggeleng – geleng. Ia mengancam akan memukul jika monyet itu berani mengangguk.
Setelah yakin kalau Sang Monyet pasti menuruti perintahnya, pergilah dia ke jalanan kota Baghdad dan mulai mengundang orang banyak menyaksikan Pertunjukan Monyetnya.
“Selamat datang Tuan, Puan. Yang besar tidak menyebut gelar, kecil tidak menyebut nama. Mari ke mari, yang jauh mendekat yang dekat merapat. Bukan sulap bukan sihir bukan sirkus. Inilah pertunjukan jang langka adanja. Barang siapa bisa membuat monyet ini mengangguk, akan memperoleh uang emas sebanyak seratus keping...”serunya kepada orang – orang yang mulai berkerumun menyaksikan pertunjukkannya.
Banyak yang tertarik dan mencoba taruhan itu. Namun tiada seorang pun yang berhasil membuat monyet itu mengangguk. Saat itulah Abu Nawas muncul di kerumunan tersebut. Ia penasaran juga karena tak ada yang bisa membuat monyet itu mengangguk. Abu Nawas pun mendekati Sang Monyet.
"Tahukah engkau siapa aku?" tanya Abu Nawas. Monyet itu menggeleng.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?" tanya Abu Nawas lagi. Monyet itu tetap menggeleng.
"Apakah engkau takut kepada tuanmu?" tanya Abu Nawas memancing. Monyet itu mulai ragu.
"Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu" lanjut Abu Nawas pula. Mendengar akan dilaporkan kepada tuannya tentu saja monyet itu terpaksa mengangguk-angguk karena ia memang takut kepada tuannya.
Al hasil, Abu Nawas mendapat seratus keping uang emas dan pujian dari orang – orang yang berkerumun. Bukan main marah dan malunya pemilik monyet itu hingga ia memukuli binatang itu sampai babak belur. Ia ingin menebus kekalahannya. Kali ini ia melatih monyetnya mengangguk-angguk.
Ia mengancam akan menghukum berat monyetnya bila sampai bisa dipancing penonton untuk menggeleng terutama oleh Abu Nawas. Tak peduli apapun pertanyaan yang diajukan.
Tiga hari kemudian, ia pun membawa monyetnya ke jalanan kota Baghdad. Menantang kepada siapa saja yang mampu membuat monyetnya menggeleng, akan memperoleh uang seribu kepeng. Banyak sekali yang mencoba. Tapi tidak berhasil. Saat itulah Abu Nawas datang dan mengikuti taruhan itu. Abu Nawas mendekati sang monyet.
"Tahukah engkau siapa daku?" monyet itu mengangguk.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?" monyet itu tetap mengangguk.
"Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?" pancing Abu Nawas. Monyet itu tetap mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya daripada Abu Nawas.
Merasa siasatnya tak berhasil, Abu Nawas mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas dari kantong bajunya.
"Tahukah engkau apa guna balsam ini?" monyet itu tetap mengangguk .
"Baiklah, bolehkah kugosok selangkangmu dengan balsam ini?" monyet itu terpana sesaat, namun tetap mengangguk.
Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu dengan balsam. Tentu saja monyet itu merasa agak kepanasan dan mulai-panik.Kemudian Abu Nawas mengeluarkan bungkusan yang cukup besar. Bungkusan itu juga berisi balsam.
"Maukah engkau bila seluruh isi balsam ini kugosokkan ke selangkangmu?" kata Abu Nawas. Monyet itu mulai ketakutan. Ia jadi lupa ancaman tuannya dan menggeleng-gelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah.
Abu Nawas pun mendapat seribu keping uang emas. Sejak itu, konon, raja Harun Al Rasyd tidak mau lagi menyamar jadi tukang monyet.
sumber cerita: cerita rakyat dari beberapa buku
Setelah yakin kalau Sang Monyet pasti menuruti perintahnya, pergilah dia ke jalanan kota Baghdad dan mulai mengundang orang banyak menyaksikan Pertunjukan Monyetnya.
“Selamat datang Tuan, Puan. Yang besar tidak menyebut gelar, kecil tidak menyebut nama. Mari ke mari, yang jauh mendekat yang dekat merapat. Bukan sulap bukan sihir bukan sirkus. Inilah pertunjukan jang langka adanja. Barang siapa bisa membuat monyet ini mengangguk, akan memperoleh uang emas sebanyak seratus keping...”serunya kepada orang – orang yang mulai berkerumun menyaksikan pertunjukkannya.
Banyak yang tertarik dan mencoba taruhan itu. Namun tiada seorang pun yang berhasil membuat monyet itu mengangguk. Saat itulah Abu Nawas muncul di kerumunan tersebut. Ia penasaran juga karena tak ada yang bisa membuat monyet itu mengangguk. Abu Nawas pun mendekati Sang Monyet.
"Tahukah engkau siapa aku?" tanya Abu Nawas. Monyet itu menggeleng.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?" tanya Abu Nawas lagi. Monyet itu tetap menggeleng.
"Apakah engkau takut kepada tuanmu?" tanya Abu Nawas memancing. Monyet itu mulai ragu.
"Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu" lanjut Abu Nawas pula. Mendengar akan dilaporkan kepada tuannya tentu saja monyet itu terpaksa mengangguk-angguk karena ia memang takut kepada tuannya.
Al hasil, Abu Nawas mendapat seratus keping uang emas dan pujian dari orang – orang yang berkerumun. Bukan main marah dan malunya pemilik monyet itu hingga ia memukuli binatang itu sampai babak belur. Ia ingin menebus kekalahannya. Kali ini ia melatih monyetnya mengangguk-angguk.
Ia mengancam akan menghukum berat monyetnya bila sampai bisa dipancing penonton untuk menggeleng terutama oleh Abu Nawas. Tak peduli apapun pertanyaan yang diajukan.
Tiga hari kemudian, ia pun membawa monyetnya ke jalanan kota Baghdad. Menantang kepada siapa saja yang mampu membuat monyetnya menggeleng, akan memperoleh uang seribu kepeng. Banyak sekali yang mencoba. Tapi tidak berhasil. Saat itulah Abu Nawas datang dan mengikuti taruhan itu. Abu Nawas mendekati sang monyet.
"Tahukah engkau siapa daku?" monyet itu mengangguk.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?" monyet itu tetap mengangguk.
"Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?" pancing Abu Nawas. Monyet itu tetap mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya daripada Abu Nawas.
Merasa siasatnya tak berhasil, Abu Nawas mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas dari kantong bajunya.
"Tahukah engkau apa guna balsam ini?" monyet itu tetap mengangguk .
"Baiklah, bolehkah kugosok selangkangmu dengan balsam ini?" monyet itu terpana sesaat, namun tetap mengangguk.
Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu dengan balsam. Tentu saja monyet itu merasa agak kepanasan dan mulai-panik.Kemudian Abu Nawas mengeluarkan bungkusan yang cukup besar. Bungkusan itu juga berisi balsam.
"Maukah engkau bila seluruh isi balsam ini kugosokkan ke selangkangmu?" kata Abu Nawas. Monyet itu mulai ketakutan. Ia jadi lupa ancaman tuannya dan menggeleng-gelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah.
Abu Nawas pun mendapat seribu keping uang emas. Sejak itu, konon, raja Harun Al Rasyd tidak mau lagi menyamar jadi tukang monyet.
sumber cerita: cerita rakyat dari beberapa buku
0 tanggapan:
Post a Comment
katakanlah padaku dengan kata - kata..
(Rabindranath Tagore)